#transformastif

Pipin Cakaba30 April, 2019
IMG-20190430-WA0014.jpg

12min800

Oleh: Naufal Y. Anggaraspati

(Ketua Umum HMI Komisariat Psikologi, Cakaba)

Berangkat dari sebuah asumsi tentang kepimimpinan yang erat kaitannya membuka sudut pandang kita yakni, bagaimana relasi kekuasaan menimbulkan berbagai gejolak sosial, ekonomi, politik, hukum dan lain sebagainya. Seringkali kita saksikan dimedia akhir-akhir ini, di mana isu-isu politik menjadi sumber pertikaian dalam gelanggang arena perebutan kekuasaan.

Bahkan, mengkhawatirkan di saat budaya bangsa marak terjadi kompetisi pemenuhan hasrat kekuasaan, karena tidak lagi melihat subtansi masalah dari dominasi sistem multi-international yang mendorong Negara menjadi semakin liberal akibat dari pengaruh global yang mengantarkan umat manusia menghendaki kehidupan tunduk ditangan pasar. Menurut Giddens (2004), ‘dengan munculnya modernisasi, refleksitas memiliki karakter yang berbeda. Ia dimasukkan kedalam basis produksi sistem’.

Sebagian pemikir menganggap modernisasi hadir sebagai upaya kreativitas manusia dalam mencari jalan mengatasi kesulitan hidupnya di Dunia. Mesti diakui bahwa modernisasi sebagai anak kandung sejarah yang tak mungkin terhindarkan. Akan tetapi, tahap perkembangan sejarah manusia yang sedang berlangsung di zaman modern itu bukan berarti tanpa masalah, bahkan masalah  yang timbul pada perkembangannya tidak bersifat netral.

Selain itu juga, konsep medernisasi berjalan seiring gagasan-gagasan dasar neoliberalisme yang bergerak dalam sektor kekuatan Ekonomi-Politik. Saat ini telah di letakkan program berbasis pasar yang berujung ketimpangan sosial tidak merata. Konsep ini sebagian masyarakat miskin dunia menderita, akibat strategi penciptaan akar kebijakan yang berasimilasi pada intervensi kepentingan politik  terhadap sistem Negara, yang kemudian ditentukan oleh Bank Dunia, Internasional Monetary Found (IMF), Bantuan Pembangunan Resmi (Official development Assistance/ODA) dan juga kontrol perdagangan Dunia dari WTO.  Nampak jelas hanyalah karya-karya yang diprakarsai oleh perusahaan pada tatanan kemajuan pembangunan. Mengutip ayahanda Nurcholish Madjid (Doktrin Islam dan Peradaban), ‘dengan tibanya Zaman teknik itu, umat manusia tidak lagi di hadapkan pada persoalan kulturalnya sendiri secara terpisah dan berkembang secara ekonomi dari yang lain, tapi terpotong menuju masyarakat dunia (global) yang terdiri dari berbagai suku bangsa yang erat berhubungan satu sama lain. Sementara itu, suatu hipotesis yang terjadi misalnya,  jika modernisasi itu lahir dari kalangan bangsa-bangsa Muslim, mungkin konsep Negara-negara itu tidak akan menjadi unsur keharusan modernitas, mengingat kecenderungan islam kepada kosmopolitanisme. Dari pangkuan Islam, pada peringkat ekonomi, misalnya, mungkin yang lahir bukanlah sistem kapitalisme nasional yang antara lain berakibat kolonialisme dan imperialisme itu, tetapi sesuatu yang mirip dengan sistem multi-nasional Corporations sekarang ini dengan beberapa modifikasi’’.

Jauh hari Jhon Short (2001), juga menjelaskan bahwa di fase ketiga perjalanan globalisasi membawa wujud Global Agenda (agenda global) yang menciptakan konsep pembangunan (Golbal production, global market, and global finance) yang berakhir dengan penciptaan eokonomi global (Economic Globalization).

Yang menarik dari global agenda dihampir setiap negara-negara dunia ketiga adalah adanya gerakan neokolonialisme menghantui perjalanan bangsa-bangsa yang berusaha ingin maju. Namun, kita ketahui bahwa neokolonialisme merupakan cara penguasaan negara kolonial tetapi, tidak langsung dari penjajah. Eksploitasi itu dilakukan dari dalam negara itu sendiri. Siapa yang menggerakkannya?. Tak lain adalah elit pengambil kebijakan yang berkongsi dan disetir oleh tuannya (penjajah).

 

Meretas Atau Justru Menjauh?

Berkaca kepada realitas yang ada itu merupakan wujud kesadaran bagi gerakan para intelektual muda HmI untuk andil dan bersikap mengawal arah perjalanan bangsa. Bersikap berarti berani bertindak dan merefleksi periode terhadap rezim, tentang cita-cita bangsa dan kehendak rakyat. Dengan tulus penulis mengakui bahwa demokrasi kita masih saja cacat. Melalui gempuran media, kita mencoba menyaksikan aneka ragam peristiwa yang menimpah jutaan warga negara, menyangkut orang miskin yang ditelantarkan di negeri sendiri, tentang orang miskin yang terus saja direpresif oleh aparatus negara yang bekerja dengan gagah  berani, tentang budaya gusur kerap kali menjadi perhatian publik.

Menyedihkan lagi ketika rakyat harus berhadapan dengan negara dari berbagai asumsi kebijakan, sementara di sisi lain penguasa euforia dalam korupsi berjamaah. Selama tengah tahun pertama 2015, indonesia Corruption Watch (ICW) memantau 308 kasus dengan 590 orang tersangka. Total potensi kerugian negara dari kasus-kasus ini mencapai 1,2 triliun rupiah dan potensi suap sebesar 457,3 miliar rupiah. Sebelumnya, akhir tahun 2014 ICW merilis sebanyak 48 anggota legeslatif terpilih 2014-2019 tersangkut perkara korupsi, dan dari data Kementrian Dalam Negeri menyebutkan, terdapat 3.169 anggota DPRD se-Indonesia tersangkut korupsi selama kurung waktu 2004-2014. Sejak periode 2010-2015 tersebut apabila dinominalkan mencapai Rp29,3 triliun.

Akankah realitas ini terus berlarut-larut dan tampil sebagai tontonan pahit bagi anak-anak bangsa?. ( www.antikorupsi.org )

Dalam berbagai polemik yang sedang menimpa tanah air, baik dari aspek ekonomi, sosial, budaya, dan hukum, dll, itu telah terorganisir banyak meremangkan kehidupan kaum lemah (Mustada’affin). Kaum miskin menjadi tuna segalanya; tak bisa mendapat pekerjaan, tak mampu membayar biaya pendidikan dan harus mengais-ngais demi memperoleh kesehatan gratis.

Betapa ambruknya kekuasaan yang melanda bangsa kita, gesekan kepentingan seolah menciptkan ‘komedi politik’ yang memaksa rakyat menanggung segala kebijakan. Nasionalisme ikut tergadai lantaran ditukar dengan kepentingan yang tidak pro dibasis rakyat.

 

Himpunan Mahasiswa Islam

Berbagai harapan dan sejumlah tantangan bagi umat muslim Indonesia dari akumulasi model kekuasaan yang ada. Hal ini merupakan kendala yang begitu sulit bagi kader-kader HmI yang menginginkan model kepeminpinan yang dapat konsisten mengawal dan menjalankan komitmen perjuangan organisasi.

HmI merupakan  organisasi berasaskan Islam, yang pada saat kelahiranya para pendirinya tidak tinggal diam, tergerak merapatkan barisan karena prihatin terhadap kondisi Kebangsaan, Keummatan, dan Kemahasiswaan yang timpang di zamannya. Maka, esensi HmI dalam muatan doktrin kelembagaan di masa sekarang sangatlah mengisyaratkan lahirnya seorang kader yang memiliki ide-ide cemerlang dan punya narasi intelektual secara kritis, imajiner,  serta mengikuti petkembangan zaman, kemudian berani menampik setiap kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. Bagi Ali Syariati (1972), ‘Islam adalah wadah bagi orang-orang yang tercerabut haknya, yang tersisa, lapar, tertindas, dan terdiskriminasi’’.

Dalam konsep penegasan justru Islam diturunkan agar merubah tatanan sosial yang kacau. Rasulullah Saw sebagai utusan Tuhan diturunkan mengubah nilai-nilai eksploitatatif yang sangat Jahilliyah. Tradisi dibangun secara damai bersama para sahabat dengan meletakkan prinsip dasar kemanusiaan, kemudian menitiberatkan perlawanan terhadap budaya penindasan (dehumanisasi) yang di alami manusia saat itu. Islam jangan sekedar ditafsir hanya sebagai formula trasenden yang bersifat abstrak dan melangit dari nilai dan kepercayaan agama secara objektif. Selain sisi spiritual (trasendental) pesan ‘Islam adalah pesan kerakyatan’.

HmI sebagai organisasi perjuangan sebaiknya produktif merespon segala hal. Keberpihakan itu diwujudkan secara umum pada transformasi sosial yang lebih nyata sebagai sebuah hasil karya.

Kita tak boleh menjadi kelompok seperti kaum pesimis yang memiliki hidup tak bermakna dan tak punya tujuan. Menjunjung tinggi derajat persamaan itu Islam ribuan tahun yang lampau Baginda Rasulullah saw telah menitipkan kepada kita umatnya serta bagaimana kesanggupan seorang pribadi untuk bisa melepaskan diri dari belenggu tiranik, diktator, dan serakah harta. Ini merupakan satu langkah awal pembebasan sosial dari ajaran Islam.

Kepemimpinan merupakan instrumen penting dalam pembangunan organisasi untuk mampu memberi sedikit bangunan gagasan dalam kelembagaan. Karakteristik fungsional internal dan karateristik fungsional eksternal dari kepemimpinan wajib diterapkan  sikap perlakuan yang bercermin pada landasan filosofi (epistimologi) organisasi bagi segenap kader-kader agar pengetahuan yang didapatkan tidak basi atau tidak sekedar berdengung dalam ruang simbolik dan normatif.

Kepemimpinan itu hanya bisa terwujud jika paradigma organisasi sejalan dengan warna kebudayaan dan semangat kebangsaan, tidak sekedar menafsir masyarakat miskin sebagai bahan diskusi dan bagian program yang bisa memberi kentungan berlipat-lipat, akan tetapi bendera organisasi cenderung membentuk proses kemanusiaan yang lebih adil dan makmur lewat mesin perkaderan yang utuh.

HmI merupakan lembaga organisasi yang memiliki kekuatan doktrin terhadap nilai-nilai agama, sosial, dan budaya bangsa. Bentuk penguatan tersebut bisa dibaca dari Nilai Dasar Perjuangan (NDP). Mengingat masa sekarang semakin memiliki tatangan berat, sehingga bagi pribadi seorang pemimpin yang berniat baik itu ketika tergerak hatinya melihat sistem eksploitatif kemudian melakukan tindakan. Dalam Firman-Nya;

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik)” (Al Maidah 5:5)

Dalam kelangkaan pemimpin bangsa yang berhati mulia, bagi mereka yang tidak mapan secara ekonomi harus kalah merenungi nasib karena tak mampu bersaing menghadapi kuasa modal, sehingga dari sinilah muncul suatu desakan bagi generasi keluarga hijau hitam agar kedepannya dapat memilih pemimpin yang bermoral dan mampu memegang amanah, prinsip, loyalitas, dan komitmen perjuangan organisasi. Pemimpin yang siap memproteksi kebijakan pemerintah dan dapat diharapkan jadi ‘tokoh’ teladan nasional.

Secara spesifik, pemimpin HmI yang berpegang teguh terhadap aturan main organisasi; Anggaran Dasar (AD), Anggaran Rumah Tangga (ART), serta punya kekuatan dan ide cemerlang dalam mewujudkan ‘tujuan’ HmI agar kebijakan atau keputusan diambil tidak lagi tumpang tindih pada struktur organisasi atau menemui jalan buntu.

Kelemahan wajah HmI dapat kita saksikan di berbagai masa kepengurusan, ketika beberapa kepengurusan lembaga terpecah karena keputusan Ketum PB HmI (Arif Rosyid) menjual aset sejarah- Sekretariat Dipo 16A, yang sebelumnya tidak terpikir matang. Betapa pilu dan menyayat hati kader-kader HmI yang paham arti perjuangan dan kedalaman sejarah sekretariat Dipo 16A. Aset sejarah HmI yang dijual itu di sanalah rumah sejuta kenangan, rumah besar para tokoh HmI terhadulu, rumah pergolakan pemikiran yang banyak melahirkan tokoh-tokoh besar di dalamnya (cendikiawan-politisi-budayawan), dan rumah yang tak bisa dinilai dengan angka-angka.

Secara historis langkah ini akan menjadi catatan penting bagi internal organisasi HmI, kemudian secara eksternal HmI kehilangan wibawa, meruntuhkan marwah kebesaran, dan mencoreng citra terhadap oragnisasi lain di luar HmI. Hal ini memaksa seluruh kader-kader HmI bahu membahu membenahi dan membangun kembali nama baik organisasi apapun kenyataan yang terjadi.

Kini, HmI merindukan lahirnya sosok  pemimpin yang memiliki mental kuat serta punya legitimasi moral. Pemimpin yang  memprioritaskan citra positif terhadap nasib perjalanan bangsa. Tidak sekedar berada dalam struktur namun, lebih dari itu selalu ingin berkontribusi mengharumkan nama besar organisasi. Pemimpin yang punya kekuatan daya saing mengimbangi arus global dengan kecepatan berpikir. Pemimpin yang piawai memberi pengaruh kepada seluruh jajaran. Pemimpin yang teladan mengajari kepada sesama agar satu sama lain saling membesarkan. Tentu diharapakan mampu ‘berpikir global dengan prinsip kearifan lokal’.

 



Sekilas Kami

Bakornas LAPMI PB HMI merupakan salah satu badan khusus di dalam tubuh organisasi HMI yang bersifat semi-otonom sebagai penyalur minat dan bakat anggota dan wahana pengembangan kader di bidang jurnalistik/pers (ART Pasal 44).


[email protected]

0816-766-496



Newsletter


Media Partner

Independensia.id