SeputarHMI

Pipin Cakaba13 March, 2019
IMG-20190313-WA0004-1.jpg

3min570

 

Lapmi | Jakarta – Pengurus Korps HMI-Wati Himpunan Mahasiswa Islam (KOHATI) cabang Jakarta Pusat-Utara mempunyai nahkoda baru melalui Musyawarah Kohati Cabang (Muskohcab) ke-X di Gedung Cilosari 17, Menteng, Jakarta Pusat. Hasil dari Muskohcab ke-X itu melahirkan pemimpin baru yaitu Iyang Parangi sebagai Ketua Umum Kohati cabang Jakarta Pusat-Utara periode 2019-2020.

“Alhamdulillah,saya merasa lega dan saya mengucapkan selamat mengemban amanah baru kepada adinda Iyang sebagai ketua umum kohati. Semoga dibawah kepemimpinan adinda Iyang, Kohati Jakarta Pusat-Utara bisa lebih berwarna. Yang ingin saya tegaskan bahwa, hasil dari Muskohcab yang dilaksanakan pada hari Jumat, 14 Desember 2018 yang bertempatan di Gedung Cilosari 17, Menteng jakpus hanya menghasilkan 1 Formatuer dan mide formatuer Kohati cab. Jakpustara,” ujar Sri Irawati selaku Ketua Umum Demisioner Kohati cabang Jakarta Pusat-Utara.

Ira menambahkan bahwa sekali lagi saya tegaskan bahwa saya hanya melaksanakan 1 forum Muskoh. “Jadi apabila hari ini ada kabar bahwa Kohati Jakpustara dualisme, sesungguhnya itu adalah fitnah yang sangat keji. Kenapa saya berkata demikian, sebab saya hanya melaksanakan Muskohcab satu kali dalam masa kepengurusan saya,” Katanya

“Jika kedepanya ada yang mengaku bahwa dia adalah Ketumkoh jakpustara periode 2019-2020,maka saya minta dengan hormat kepada semua pihak tolong buatkan forum terbuka dan pertemukan saya dengan orang yang mengaku sebagai ketumkoh Jakpustara,” tegas Ira.

Ia menjelaskan hanya orang ‘gila’ yang mengaku demikian tanpa ada mekanisme yang jelas. “Segala sesuatu ada prosesnya, ada tahapanya, ada aturan mainnya. Bukan tiba-tiba mengaku jadi Ketumkoh tanpa ada mekanisme yang jelas,” tuturnya.

Ira mengatakan seperti apa yang disampaikan Ayunda ketumkoh PB HMI, Siti Fatimah Siagian yang sempat hadir dalam pelantikan sekaligus mengisi stadium general pengurus korps HMI-Wati cab Jakpustara periode 2019-2020 “Kalau klaim harus yang berkualitas dong, masa udah klaim tapi ga berkualitas”.

“Saya berharap kepada semua pihak, terutama pengurus HMI Cabang Jakarta Pusat-Utara periode 2019-2020,bahwa kawal selalu setiap agenda Kohati dan lindungi kohati Jakpustara sampai ke dasar hatinya. Akhir kata, saya titipkan pesan kepada adinda Iyang selaku Ketua Umum Kohati yang baru,” Katanya

Saya titip Kohati Jakpustara, tolong untuk dirawat dan dijaga. Dan semangat selalu untuk kepengurusan kedepannya. Tetap Kokoh walau diterjang masalah apapun. Bahagia HMI Jayalah kohati,” tutup Ira.

Gahara Kumala selaku Direktur Bidang Administrasi dan Hubungan Internal BAKORNAS LAPMI PB HMI 2018-2020 menambahkan bahwa Jabatan Ketua Umum seharusnya merupakan representasi dari keseluruhan anggota dalam organisasi tersebut.

“Bukan keterwakilan segelintir orang yang mengusungnya dengan tujuan dan target tertentu untuk mengusung sekelompok anggotanya untuk menguasai suatu system dan sub system yang lebih besar. Ketua Umum seharusnya adalah orang yang mewakili kata hati mayoritas anggotanya tanpa menyembunyikan tujuan pribadi yang membalut ambisi pribadi,” Kata Gahara


 


Pipin Cakaba1 March, 2019
IMG_20190301_152035-1280x1366.jpg

13min370

“Reorientasi HMI; 70 Tahun Berkiprah untuk Bangsa Mewujudkan Bahagia Indonesia”

Oleh : Ridwan Mubarak

(Penulis adalah Dosen Fidkom UIN SGD, KAHMI Kabupaten Bandung, Alumni LK-I Al-Wasilah Garut 2002 dan Alumni LK-II Pesanggrahan Colo Kudus Jawa Tengah 2004)

Pernah menjadi bagian dari proses kaderisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ketika kuliah dulu, adalah merupakan suatu kebanggan tersendiri yang tak ternilai. Sekian banyak ilmu, pengetahuan, dan bahkan pengalaman berharga diberikan oleh HMI kepada kader-kadernya sebagai bekal menjadi calon pemimpin di masa depan. Ya benar, HMI merupakan organisasi kader yang seharusnya fokus pada ikhtiar untuk mencetak insan-insan akademis calon pemimpin umat, bukan organisasi politik praktis yang menggiring anggotanya untuk berperilaku liar layaknya seorang politisi yang nihil dengan referensi teori-teori besar ilmu politik. Kini, seiring dengan bergulirnya waktu, penulis “dipaksa” menjadi bagian dari realitas Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) dengan segala beban dan tanggungjawabnya sebagai seorang “senior” (walah senior pula).

Adapun istilah senior dalam kultur organisasi HMI, menempati makom yang sangat tinggi. Seorang senior produk HMI akrab disapa dengan panggilan Rakanda, Rakandawati, Rakanita, ataupun Abang. Hal ini sebagai bentuk penghormatan juga kehormatan dan rasa cinta kasih seorang adik terhadap kaka-kakanya dalam lingkar organisasi HMI.  Untuk mendapatkan penghormtan mulia tersebut, ada proses yang harus dilalui, yang menjadi kekhasan HMI dari dulu hingga kini, yakni perkaderan. Perkaderan menjadi penentu kualitas kader ditahun-tahun berikutnya dalam memperjuangkan HMI, lagi-lagi sebagai organisasi kader bukan orpol ataupun LSM.

Proses perkaderan sendiri dilakukan secara berjenjang, mulai dari Latihan Kader I (Basic Training), Latihan Kader II (Intermedite Training), hingga Latihan Kader III (Advance Training) menjadi agenda penting pembentukan watak gerakan yang harus dilalui oleh setiap mereka yang bangga mengklaim sebagai insan akademis HMI. Jika tidak, dirasa belumlah sempurna (kaffah) menjadi insan cita HMI atau bahkan bisa disebut kader abal-abal karena tidak pernah mengikuti LK I. LK menjadi prasyarat utama dan pertama bagi calon anggota HMI, karena konstitusi (AD/ ART) mengharuskan hal yang demikian. Tahapan-tahapan LK (Latihan Kader) HMI mengandung makna filosofis yang teramat dalam sekaligus terdapat tanggungjawab ideologis dalam wujud gerakan moral (moral force). Gerakan moral kader HMI harus senantiasa berpijak kepada misi-misi kenabian, selaras dengan semangat teologis namun tetap humanis. Kader HMI harus menjadi pemantik setiap gerakan moral dimanapun ia berada dan berkiprah. Semangat progresif revolusioner menjadi harga mati dalam memperjuangkan hak-hak kaum tertindas (mustadafin). Sehingga dimasa berikutnya, kader HMI memiliki keberpihakan yang jelas terhadap kaum tertindas (mustad’afin) dan selalu berani melawan kaum penindas (mustakbirin). Kader HMI hendaknya pantang tolak tugas, pantang ulur waktu, dan pantang tugas tidak tuntas ketika sudah berbicara kepentingan umat; negara, bangsa, dan agama.

Label Islam dari organisasi HMI, menjadi furqon (Pembeda) HMI dengan organisasi pergerakan lainnya, inilah kekhasan HMI yang sebenarnya. Konsep wahyu memandu ilmu, firman memandu tindakan, dan Kalamullah memandu ghirah, hendaknya menjadi prinsip dasar dari setiap gerak langkah kader HMI. Hal ini sebagaimana sumpah setia kita kepada Sang Khaliq Allah SWT dalam setiap pelaksanaan shalat melalui lafal doa iftitah. Inna shalati…sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah semata, bukan untuk jabatan, kekuasaan, dan dunia yang sifatnya sementara. Materi Nilai Dasar Perjuangan (NDP) menjadi materi pokok yang wajib difahami oleh setiap kader HMI di awal pembentukan karakter kader, konsep Tauhid menjadi pijakan.

Begitu agung dan mulianya konsep perkaderan HMI, syarat dengan pesan filosofis sekaligus ideologis. Secara filosofis, makna perkaderan dapat diartikan sebagai upaya sistematik pembentukan jati diri seorang pejuang umat. LK I berperan membentuk karakter kader mulai dari persoalan-persoalan hidup yang paling dasar. Materi-materi yang disajikan merupakan masteri-materi dasar ketauhidan yang dikorelasikan dengan realitas kemanusiaan (humanis); keislaman, keindonesiaan, dan kebangsaan. Dekontruksi teologis menjadi sajian awal pembuka nalar, menu wajib bagi setiap calon kader HMI. Proses dekontruksi teologis, diharapkan mampu meneguhkan gerakan-gerakan yang dilakukan kader dan mengkristal dalam bentuk gerakan ideologis yang egaliter, moderat, inklusif, serta revolusioner. Sikap fanatisme sempit dan hedonistik adalah dua hal yang harus dijauhkan dalam semangat perjuangan HMI, meski pada realitasnya, banyak pula kader yang terjebak dalam kubangan lumpur transaksi-transaksi politik liar dengan dalih “memberdayakan kader” dan patuh terhadap kepentingan senior yang “berehan” secara materil kepada kader-kadernya dilevel akar rumput (kader LK I). Jangan racuni nalar sehat kader LK I dengan bujuk rayu materi yang tidak mendidik.

Berikutnya, fase LK II. Pada jenjang ini, kader tidak lagi disibukan dengan hal-hal dasar ketauhidan dan kemanusiaan secara konseptual. Fase ini, segenap kader HMI telah dianggap selesai dan telah berdamai dengan realitas personalnya, pergulatan batin sebagai seorang aktivis yang sadar diri telah mencapai klimaknya. Revolusi kesadaran sebagai buah manis dari LK I menjadi bekal kuat bagi kader untuk melangkah pada jenjang perjuangan yang lebih luas, revolusi harapan (hope revolution) menjadi tujuan. LK II berperan menstimulan kader untuk berani mengekplorasi diri, kritis, inovatif, dan cakap mengimplementasikan konsep-konsep dasar materi LK I pada tataran yang lebih riil di tengah permasalahan kebangsaan dan keumatan yang begitu komplek.

Selain paradigma kritis kader menyikapi realitas, ketajaman pisau analisa guna memahami permasalahan-permasalahan kebangsaan menjadi pertaruhan dan kehormatan kader, tuntas dan tidaknya seorang kader HMI pada fase LK II ini, dapat dilihat. Mampu memilah dan memilih, mana permasalahan prinsip dan mana yang tidak prinsip, mana gerakan murni ideologis dan mana yang gerakan politis ansih, kader LK II harus mampu membedakannya. Jika tidak, patut dipertanyakan keabsahannya sebagai seorang kader LK II, atau jangan-jangan ia tidak serius atau bahkan tidak tuntas LK I nya dulu. Kader LK II kualitas LK I, bentuk kegagalan dalam proses perkaderan, inilah malpraktik kaderisasi imbas dari malnutrsisi kajian-kajian tentang konsep dasar HMI.

Fase terakhir merupakan fase LK III. Kader produk LK III selain diharapkan pintar menganalisa permasalahan-permasalahan kebangsaan dan keumatan, juga diharapkan mampu menjadi problem solver atas permasalahan kebangsaan tersebut. HMI harus menjadi solusi bagi bangsa ini, bahkan bagi bangsa-bangsa di dunia dengan produk-produk pemikirannya yang bernas juga implementatif. Melaui LK III, kader dipaksa untuk dapat mengeryitkan dahinya lebih dari biasanya, berfikir keras di atas rata-rata namun tetap analitis dan sistematis pada pokok permaslahan. Fokus pada satu tujuan, menjadi dan selalu memberi yang terbaik bagi tegaknya nilai-nilai kemanusiaan.

LK III merupakan “sekolah tinggi kader HMI” yang akan melahirkan pemikir-pemikir hebat yang dibutuhkan oleh bangsa dan zamannya. Menjadi politisi pemikir, menjadi pendidik pemikir, menjadi pejabat yang pemikir, menjadi jurnalis yang pemikir, menjadi peneliti yang pemikir, bahkan menjadi orang-orang Indonesia biasa yang terbiasa berfikir dan selalu ikhlas membangun bangsa dan negaranya. Kembali kepada pemahaman konsep tauhid LK I sebagai dasar pijakan dalam berkhidmat untuk kemaslahatan umat dan bangsa. Kader LK III diharapkan menjadi pribadi-pribadi yang solutif konstruktif bagi kemanusiaan. Pada akhirnya, kader LK III diharapkan menjadi pandita-pandita dan pelita ditengah kezumudan berfikir umat dalam menjalani kehidupannya di bumi ini. Seyogianya pula, kader LK III HMI diharamkan menjadi beban sejarah bagi bangsanya, bagi kemanusiaan, terlebih bagi kader-kader dibawahnya. Ia harus menjadi kader yang paripurna lahiriah sekaligus batiniah, karena ia alumni dari “sekolah tinggi” LK III HMI.

Secara ideologis, LK HMI dapat dipahami sebagai ladang tempat menyemai benih-benih ideologi gerakan yang bersumber dari semangat dakwah para nabi dan Rasul Allah SWT. Nilai-nilai luhur teologis yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Hadits harus menjadi ruh yang diyakini sebagai jalan keselamatan dalam berjuang bagi seluruh kader HMI. Konsistensi terhadap nilai-nilai teologis, semangat tanpa pamrih (ikhlas berjuang), dan sadar diri sebagai manusia yang mengemban misi kenabian merupakan modal dasar dalam memperjuangkan gerakan ideologi HMI. HMI dan kadernya haruslah tetap membumi sebagai syarat diterimanya HMI ditengah kehidupan berbangsa dan bernegara, tanpa menggadaikan kepatuhannya terhadap firman-firman langit sebagai pedoman (standar operasional procedure) dalam berjuang menegakan nilai-nilai kemanusiaan demi menciptakan peradaban yang berkeadaban Ketuhanan. Tuhan menjadi titik sentral awal dan akhir gerak langkah kader HMI, dari Allah dan akan kembali kepada Alllah sang Haq. Ketakwaan kepada Allah SWT  hendaknya menjadi pijakan awal dan akhir dalam mengimplementasikan cita-cita luhur HMI secara ideologis. Persemaian nilai-nilai ketuhanan (teologis) yang kaffah melalui LK I, II, dan III akan berbanding lurus dengan “panen” kualitas gerakan ideologis kader yang juga paripurna dan  HMI benar-benar menjadi solusi bagi kemanusiaan.

Lantas bagaimana realitas kader HMI kini?. Seberapa besar manfaat dari proses perkaderan LK bagi kader HMI?. Cukup konsistenkah kader HMI dengan ikrar dan sumpahnya dalam konstitusi dan hymne HMI yang kerap dilantunkan saat acara-acara seremonial HMI?. Pertanyaan tersebut kerap menghantui penulis sebagai kader HMI semenjak tahun 2002. Jujur, ada banyak kegelisahan yang mengendap dalam ruang-ruang alam sadar penulis menyikapi HMI dalam kontek kekinian. Kader HMI kini dibenturkan dengan budaya pop yang berorientasi kepada perilaku pragmatik-hypokrit, dan hedonistik-sekuleristik. Selalu ingin instan dalam berjuang, kurang menghargai proses, konsumtif, serta menihilkan etika dalam pergerakannya, baik ketika berpolitik (siasyah), bisnis (berniaga), aktivitas sosial, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Hal yang demikian terjadi karena kader tidak matang dalam fase perkaderan dapur HMI, terlebih LK I sebagai peletak dasar ketauhidan. Syahadat pergerakannya tidak sempurna.

Hal lain, adanya intervensi “oknum senior HMI” yang kerap menarik-narik kader HMI yang belum khatam AD/ART dipaksa masuk ranah-ranah politik praktis yang melenakan kader. Kemudahan memperoleh materi melalui proyek-proyek instan dari oknum senior yang didanai oleh APBD/ APBN, menjadi magnet tersendiri bagi kader-kader HMI. Kompensasi materi yang menyilaukan kader-kader HMI melalui aktivitas politik praktis yang “belum saatnya dilalui” membentuk karakter kader menjadi materialistik. Kader siap berjuang asal ada “Bandar” yang memodali, siap aksi asalkan ada kompensasi, siap turun ke jalanan dengan catatan ada uang makan dan ongkos jalan. Kesemua ini merupakan  bentuk kemunduran HMI, dan tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. HMI bukanlah akronim How Money Income, yang wani piro, dan gerakan ideologis yang berakhri tragis di atas meja makan. HMI adalah organisasi kader bukan organisasi politik apalagi LSM. Pertegas HMI secara struktural dan juga fungsional bahwa HMI merupakan  kawah Candra Dimuka tempat membentuk manusia-manusia hebat, tempat lahirnya insan-insan paripurna, tempat tumbuh dan berkembangnya calon pemimpin bangsa di masa kini dan nanti.

Solusi atas beragam krisis identitas kader HMI kini, tiada lain kembalilah kepada khittah HMI. Tujuan HMI adalah terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertangung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT (pasal 4 AD HMI). Dari tujuan tersebut dapat dirumuskan menjadi lima kualitas insan cita, yakni kualitas insan akademis, kualitas insan pencipta, kualitas insan pengabdi, kualitas insan bernafaskan Islam, dan kualitas insan yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Sungguh sangatlah komprehensif tujuan HMI sebagai sebuah organisasi kader. HMI diusianya yang ke 70 di tahun ini, sudah saatnya berbenah diri menjadi problem solver kehidupan berbangsa dan bernegara. Jangan biarkan kader-kader terbaik HMI ada dalam kegelisahan dipersimpangan kiri jalan. Kembalikan kader-kader HMI kepada Al-Qur’an dan Hadits sebagaimana ikrar sekaligus komitmen kita dalam sendu Hymne HMI; Turut Qur’an dan Hadits Jalan keselamatan, Ya Allah berkati Bahagia HMI. (Wassalam- Disarikan dari berbagai sumber).



Sekilas Kami

Bakornas LAPMI PB HMI merupakan salah satu badan khusus di dalam tubuh organisasi HMI yang bersifat semi-otonom sebagai penyalur minat dan bakat anggota dan wahana pengembangan kader di bidang jurnalistik/pers (ART Pasal 44).


[email protected]

0816-766-496



Newsletter


Media Partner

Independensia.id