Opini

Pipin Cakaba2 May, 2019
IMG-20190502-WA0002.jpg

20min811

Oleh : Moch Syaroni (Kader HMI Cabang Surabaya)

 

“HMI hendaknya benar-benar HMI, jangan sampai suka menyendiri”.

(Panglima Besar Jenderal Sudirman)

Kutipan diatas diambil dari pidato Pak Dirman dalam sambutannya pada peringatan Dies Natalis I HMI di Pendopo Bangsal Kepatihan, 6 Februari 1948. HMI yang pertama merupakan akronim dari Himpunan Mahasiswa Islam dan yang kedua adalah Harapan Masyarakat Indonesia.

Dalam perjalanannya sebagai sebuah organisasi kemahasiswaan, HMI telah terbukti mampu bertahan dari segala tantangan dan hantaman yang berasal dari luar tubuhnya. Pada awal berdirinya HMI langsung dihadapkan pada perjuangan fisik melawan agresi militer Belanda. Revolusi fisik yang membutuhkan segenap komponen kekuatan bangsa, termasuk didalamnya pemuda dan mahasiswa. Banyak kader HMI yang terjun langsung dalam kancah fase perjuangan tersebut.

Begitu pula dalam hal pertentangan ideologi. HMI dapat bertahan dari gempuran tuntutan pembubaran yang disuarakan PKI melalui organisasi underbouwnya CGMI. Tidak tanggung-tanggung yang menuntut keras adalah langsung Ketua Umum PKI D.N Aidit dalam rapat umum menjelang kongres CGMI. ”Kalau tidak dapat membubarkan HMI, Lebih baik pakai sarung”, kata D.N Aidit dihadapan puluhan ribu kader CGMI di Gelora Bung Karno Senayan Jakarta. Sejarah membuktikan HMI dapat bertahan, bahkan menjadi pelopor gerakan mahasiswa yang menyatu dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang menuntut pembubaran PKI yang kemudian pada akhirnya meruntuhkan kekuasaaan Orde Lama dan mengantar Indonesia memasuki Orde Baru.

Sejak berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam pada  tanggal  5  Februari  1947  sampai  saat  ini  (72  tahun) silam.  HMI  menyumbang  kontribusi  besar  dalam  dinamika  kebangsaan  di  Indonesia.  Tentunya  ini  didasarkan pada tujuan awal HMI berdiri. Tujuan itu memiliki dua poin. Pertama : Mempertahankan  Negara Republik Indonesia dan Mempertinggi Derajat Rakyat Indonesia.  Dan Kedua : Menegakan  dan  Mengembangkan  Ajaran  Islam.  Tujuan tersebut tentunya tidak berlebihan, mengingat kondisi Indonesia pada saat waktu itu.

Sejak runtuhnya orde lama tidak hanya memberikan harapan baru kepada rakyat Indonesia, akan tetapi juga memberikan ”hadiah-hadiah” berupa diangkatnya tokoh-tokoh organisasi maupun gerakan mahasiswa yang berjasa membantu militer untuk menumbangkan orde lama menjadi anggota parlemen. Mungkin sejak saat itulah HMI dekat dengan lingkaran kekuasaan politik di Indonesia. Selama kepemimpinan Presiden Soeharto banyak alumni HMI yang menjadi menteri ataupun pejabat tinggi lainnya di jajaran kekuasaan politik.

Lalu apa yang salah dari fenomena ini? Tidak ada yang salah selama alumni HMI tidak memanfaatkan adik-adiknya di HMI untuk kepentingan yg menguntungkan secara pribadi maupun kelompoknya atau politiknya, dan adik-adik HMI tidak ”kegenitan” memanfaatkan alumninya yang berada di tempat pusat kekuasaan untuk kepentingan pribadinya. Akan tetapi dalam kenyataannya tidaklah seperti yang terjadi diatas.

Kader HMI bergeliat dengan semangat menggebu-nggebu ketika terjadi gejolak politik nasional yang melibatkan ”abangnda-abangndanya”. Masing-masing berebut tempat untuk menjadi yang paling dekat dengan alumninya yang sudah menjadi tokoh dengan harapan dapat menyelamatkan masa depannya untuk berkarir di politik, karena memang tidak punya keahlian dan prestasi akademis apapun selain pandai beretorika kosong dan “mengolah wacana“ yang akan cuman menghasilkan narasi kosong.

Manisnya kamu, eh gula kekuasaaan telah menjadikan politik sebagai panglima didalam tubuh HMI yang menghegemoni. Kultur perkaderan di HMI memang menempa setiap kader untuk menjadi pioner atau pemimpin di segala bidang, dan politik merupakan batu loncatan yang murah dan mudah untuk menonjolkan eksistensi seseorang. Cukup dengan memegang jabatan organisasi kemahasiswaan/kepemudaan, ataupun ormas dengan massa yang banyak serta kecakapan beretorika kosong sudah bisa menjadi alat tawar menawar dalam kekuatan politik, ditambah dengan jaringan alumninya yang tersebar disegala disegala bidang.

Akibatnya adalah kultur atau tradisi intelektualitas yang terbangun pada tiga dekade awal berdirinya HMI mulai meluntur. Wacana pembaharuan pemikiran yang populer di era Cak Nur kini jarang dilontarkan kader-kader HMI. Padahal diakui atau tidak, intelektualitas merupakan salah satu kunci kekuatan HMI. Nilai-nilai Dasar Perjuangan yang merupakan landasan ideologi perjuangan HMI dimana Cak Nur ketika hendak merumuskan NDP untuk sebagai landasan bergerak, berfikir, berkepercayaan, dsb yang menjadi NIK (Nilai identitas Kader). NDP yang sebelumnya mampu menyemangati pergolakan intelektual dan wacana keagamaan kader HMI saat ini justru semakin tidak diminati kader. Bisa dilihat dari gejala makin minimnya tradisi diskusi tentang keIslaman, disamping lemahnya semangat membangun wacana pemikiran Islam yang pernah disandang berberapa dekade lalu. Bahkan ada singkat kata “kalau ingin belajar politik sudah tepat masuk HMI, tetapi kalau mencari ilmu agama jangan di HMI karena anda tidak akan mendapatkan apa-apa”.

Begitu pula dalam bidang profesionalitas saat ini. Jarang kader HMI yang benar-benar aktif dan giat ber-HMI duduk di jabatan tinggi profesi atau eksis diakui sebagai pakar dalam profesi tertentu, kalaupun ada itu didapatkan karena memang kesungguhan mereka belajar dan menempuh studinya secara serius dalam bidang profesinya, bukan karena HMI nya.

Kondisi diatas membuat HMI jauh dari masyarakat. Diiringi dengan banyaknya masyarakat yang sangat awam dengan nama Himpunan Mahasiswa Islam dan jarang bahkan tidak sama sekali merasakan adanya ke eksistensial HMI. Jauh karena kader HMI asyik dengan wacananya yang melangit tanpa memberikan kontribusi ataupun solusi terhadap permasalahan bangsa. Berapa puluh prokernas yg dibahas di konggres sampai sejauh mana kader HMI mampu mengawal hal tersebut. HMI pun terpinggirkan dalam dunia tempatnya berasal yaitu kampus dan kemahasiswaan. Terlebih di kampus-kampus ternama. bisa dikatakan HMI telah kehilangan peran-perannya. Jalur akademis dan intelekual lebih diramaikan oleh pers kampus dan kelompok studi mahasiswa sedangkan aktivitas keislaman didominasi oleh UKM Kerohanian Islam kampus. Jabatan strategis penentu kebijakan kemahasiswaan seperti BEM, SM dan MPM pun tidak dapat dikuasai oleh kader HMI. Kader HMI tampaknya lebih asyik menyendiri didalam dunianya, yaitu intrik-mengintrik sesama kader untuk bersaing merebut jabatan tinggi di tingkatan struktur organisasi HMI, mulai dari komisariat sampai dengan Pengurus Besar. Harapan kedepan nya Pak Dirman dalam kutipan diatas yaitu HMI supaya jangan sampai menyendiri agaknya tidak terwujud.

Sebagai sebuah organisasi kemahasiswaan terbesar secara kuantitas pun masih perlu dipertanyakan keabsahannya. Mungkin benar adanya di atas kertas, tetapi fakta dilapangan tidak menunjukkan indikasi tersebut. Sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap menjelang Konggres HMI ketika diadakan verifikasi jumlah anggota, Pengurus Cabang banyak yang me-mark up laporan jumlah pengurus/anggotsnya agar bisa berpengaruh terhadap jumlah delegasi yang akan dikirim mengikuti Konggres. Bukankah semakin banyak jumlah delegasi yang mempunyai hak suara bisa menjadi alat tawar menawar dukungan terhadap para calon Ketua Umum PB HMI.

Begitu pula jalannya konggres. Bagi yang mengikuti suasana persidangan dalam konggres akan mengatakan bahwa kongres hanyalah tempat berkumpul orang-orang yang ingin menunjukkan dirinya sebagai macan dalam forum yang sedang berlatih vokal dengan retorika atau narasi kosong. Hampir tidak ada perdebatan cerdas yang membahas solusi atas problematika umat dan bangsa. Molornya konggres dari jadwal yang telah ditetapkan pun bukan karena ada hal substansial yang sedang dibahas, akan tetapi karena ketidakdisplinan peserta mengikuti persidangan, juga karena adanya tarik menarik kekuatan politik para kandidat Ketua Umum yang belum mencapai kata sepakat untuk pembagian posisi di kepengurusan Pengurus Besar dibawah Ketua Umum terpilih.

Kalau sudah seperti ini masihkah HMI menjadi harapan masyarakat Indonesia? kalau pertanyaan itu harus dijawab sekarang tampaknya sulit untuk dijawab. Tetapi sulit bukanlah mustahil. Harapan kedepan bahwa HMI benar-benar menjadi harapan masyarakat Indonesia masih ada.

Telah banyak solusi atau pun kritikan yang disampaikan oleh kader maupun alumni yang masih peduli dengan organisasi ini yang memang relevan untuk dilaksanakan oleh pengurus maupun kader di HMI. Kuncinya hanyalah di kemauan dan kerja nyata setiap pengurus baik dari tingkatan Komisariat, Cabang, Badko dan Pengurus Besar untuk membenahi kembali kunci kekuatan HMI yang terletak di tradisi intelektual dan independensi agar memori penjelasan tujuan dan tafsir independensi HMI tidak sekedar menjadi teks mati tanpa makna dalam jiwa-jiwa kader HMI. Kerja nyata penting dilakukan karena memang selama ini HMI lebih terkenal dengan wacana-wacana yang ”melangit” tetapi tidak bisa diimplementasikan pada realitas kehidupan sebenarnya.

Perkaderan yang merupakan kunci eksistensi keberlangsungan HMI sampai saat ini sudah waktunya direkonstruksi agar adaptif sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. Abdullah Hemahua, aktivis veteran dan mantan Ketua Umum PB HMI pernah mengatakan bahwa perkaderan formal HMI adalah perkaderan terbaik yang pernah ada di antara perkaderan organisasi kemahasiswaan lainnya. Akan tetapi sebaik apapun suatu pengkaderan yang pernah ada, bukan berarti anti perubahan. Silahkan lakukan strategi, taktik, lobby, negosiasi, konsolidasi tapi mohon jangan dalam soal perkaderan. Didik adik-adik sebagai kader perjuangan jangan didik adik-adik sebagai kader yang instan.

Pengkaderan formal seperti Latihan Kader 1 Basic Training (LK 1) belakangan ini tampaknya mulai mengalami degradasi substansi dari perkaderan itu sendiri. LK 1 saat ini hanyalah berupa seremonial rekrutmen yang dijalankan HMI tanpa ada makna atau esensi yang harusnya di dapat oleh seseorang yang memang dipersiapkan menjadi tulang punggung dari suatu organisasi. Untuk itu sistem dan pola perkaderan harus dikembalikan dalam bingkai nilai-nilai yang menjadi ruh dan marwah perjuangan HMI yaitu Islam, kemudian penekanan pada strategi perkaderan yang memberikan stimulus atau motivasi kepada kader untuk mengembangkan kepribadian kader secara integral dan komprehensif dengan menyentuh berbagai potensi yang dimilikinya.

Secara  historis,  dinamika  problem  kebangsaan  Indonesia  dari  masa  ke masa juga menyeret adanya kedinamisan organisasi HMI. Faktanya dalam tubuh HMI adanya perubahan-perubahan untuk menyesuaikan dengan kondisi zaman. Pak Agus  Salim  Sitompul  dengan  apik  dan  sistematis  menjelaskan  bagaimana perubahan-perubahan  di  dalam  tubuh  HMI dengan berbagai cara dengan salah satu diantaranya mampu menjadi seorang sejarahwan dalam organisasi HMI.  Dalam  fase  pembangunan  di  HMI  mulai  terbentuknya konstitusi/aturan sebagaimana Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) dalam HMI, sistematika perkaderan atau lebih familiar pedoman perkaderan, sampai adanya pembentukan lembaga pengembangan profesi (LPP) di HMI. Tidak kalah penting adalah perkaderan yang terarah untuk mengasah minat dan bakat agar kader HMI mempunyai kualifikasi pada bidang tertentu. Output yang diharapkan tentunya adalah setiap kader HMI mempunyai watak sebagai problem solver bukan politikus praktis apalagi problem maker.

Dinamisasi dalam tubuh HMI merupakan suatu respons terhadap dinamika kebangsaan.  Agaknya  perubahan  tersebut  mencirikan  komitmen  HMI  dalam upaya memberikan kontribusi bagi Indonesia lewat SDM nya. Sumber  daya  manusia  yang  ingin  di  keluarkan  HMI  lewat  perkaderan  yakni  terdapat ciri-ciri lima  kualitas  Insan  Cita.  Lima  kualitas  Insan  Cita  ini  merupakan aktualisasi  dari tujuan HMI  yang  tertera  di  dalam  Anggaran  Dasar  pasal  4 Terbinanya Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi, Yang Bernafaskan Islam dan  Bertanggung Jawab Atas Terwujudnya Masyarakat Adil Dan Makmur Yang Di  Ridhoi  Allah SWT.  Untuk  membentuk  5 kualitas Insan  Cita  ini,  di  butuhkan  kerja  keras  dan  perjuangan  yang  maksimal  dalam hal perkaderan.

Perkaderan di HMI memiliki jenjang terstruktur dan rapi. Mulai, LK 1 (Basic  Training), LK 2 (Intermediate Training), dan LK 3 (Advance Training). Sisi lain dari perkaderan di HMI adalah adanya penunjangan di bidang keprofesian. Lewat Lembaga Pengembangan Profesi (LPP).  Lembaga  ini  mempunyai basic pelatihan masing-masing atau yang lebih familiar disebut dengan Latihan Khusus (Laksus). lembaga-lembaga yang dimiliki HMI seperti diantaranya : Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI), Lembaga Ekonomi Mahasiswa Islam (LEMI), Lembaga Pendidikan Mahasiswa Islam (LAPENMI), Lembaga Kesehatan Mahasiswa  Islam (LKMI),  Lembaga Pariwisata Dan Pecinta Alam (LEPPAMI), Lembaga Seni Mahasiswa Islam (LSMI), Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum Mahasiswa Islam (LKBHMI),  Lembaga  Dakwah Mahasiswa Islam (LDMI), Lembaga  Teknologi  Mahasiswa  Islam  (LTMI), dsb.  Dari  sini,  HMI  banyak  tokoh-tokoh  nasional  yang  di  lahirkan.  Tokoh-tokoh  intelektual, politik, pembisnis, sampai keagamaan. ambil contohnya, Nurcholis Madjid, Achmad Wahib, Dawam Rahardjo, Jusuf  Kalla, Akbar Tanjung, Anis Baswedan, Mahfud MD, Azyumardi Azra, dan Abu Bakar Ba’asyir dll.

HMI Dalam Era Milenial, ditandai dengan kemajuan dan ketatnya persaingan tekhnologi. Zaman ini menjadi penanda munculnya kemajuan sebuah peradaban. Secara  teoritis akhir dari reformasi eropa mengatakan bahwa evolusi paradigma dari Kosmosentri, Theosentris, Antroposentris. Memasuki abad ke 21 munculah paradigma baru yakni Tekhnosentris.  Pada  giliranya akan menggantikan Antroposentris ke Tekhnosentris sebagai timbangan pusat peradaban. Jika kita mengkaji ini saya teringat oleh Alvin tofler mengingatkan kita pada munculnya tiga step gelombang peradaban. Yakni pertanian, industri dan informasi. Gelombang informasi inilah sebagai akses teknologi.

Dalam realitasnya seakan dunia semakin sempit. Tanpa adanya sebuah batas garis teritorial tertentu dan bisa mengakses informasi apapun. Kapanpun dan dimanapun era teknologi juga mengaharuskan manusia untuk bersaing. Dalam hal ini pemenangnya adalah kreatifitas dan inovasi. Selanjutnya yang menjadi pertanyaan lebih keras adalah bagaimana HMI merespon tantangan ini? Namun  pada  kenyataanya  eksitensi  HMI  tergerus  oleh  perkembangan zaman. Bahkan dari tahun 2000an sampai hari ini, HMI tidak mampu mencetak tokoh-tokoh intelektual atau Nasional.

Mengingat hal ini, perlu adanya formulasi dan terobosan baru perkaderan di zaman  milenial seperti ini. Sesuatu keharusan adanya kepahaman dan internalisasi 5 kualitas insan cita pada diri kader dimana juga menjadi ciri khas Nilai identitas kader untuk berproses di HMI baik secara struktural maupun fungsional. Konsekuensi logis dari adanya fenomena  ini,  kader  HMI harus mempunyai skill (kemampuan), agar bisa bersaing dan meraih cita-cita yang diharapkannya. Masa depan HMI terletak pada eksistensi, dan eksistensi HMI berkaitan erat dengan output yang di keluarkan. Realitanya output yang di keluarkan HMI hari ini secara garis besar adalah orang-orang yang mempunyai orientasi dalam politik. Untuk itu mengimbanginya, perlu membentuk output yang siap survive di berbagai bidang. Misalnya :  di bidang Jurnalis, dakwah, teknologi, kesehatan, ekonomi, pendidikan dsb.

Perkaderan di HMI haruslah menjawab tantangan ini. Beberapa hal yang patut menjadi PR bersama, dalam hal individual, internalisasi nilai-nilai yang di upayakan dalam tujuan HMI pada (AD pasal 4) harus menjadi ruh dan marwah perkaderan. Profil kader HMI,  haruslah mampu menjadi Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso dan tut wuri handayani. sosok yang mampu sebagai patron perkaderan dan religius dalam tanda kutip selalu berpikiran kemajuan dan loyalis yang mampu mengejawantahkan terhadap nilai-nilai kegamaan yang tertuang dalam tafsir asas, sifat, peran, fungsi, tujuan maupun dalam NDP, bebas dari new jahiliah (kemunduran), kader HMI haruslah selalu menyandarkan pada sisi intelektualitasnya, dalam hal ini menjadi fokus utama. Karena basis intelektualitas adalah instrumen bagi majunya para setiap kader untuk menciptakan hal-hal yang  baru (kreatif dan inovasi). Memiliki paradigma solutif untuk memberikan solusi-solusi terhadap  permasalahan  kebangsaan dan keumatan. Serta memiliki keahlian dalam profesi yang jelas guna  mengupayakan kader HMI berkontribusi dalam memajukan kehidupan umat dan bangsa.

Dalam Konstitusi HMI harus adanya pembenahan di dalam tubuh HMI sendiri. Agenda besar yang harus dituntaskan HMI. Pertama : merubah internal para kader HMI yang  berorientasi pada politik yang menjadi mainstream dari hari ke hari dan menjadikan para kader yang punya daya inovasi dan kreatifitas. Oleh karenanya pemetaan lewat pengkajian dan penilitian  potensi kader kepada sebuah keberanian berinovasi. Perkaderan HMI harus  disesuaikan dengan bakat dan minat para kader. Yang dimana harapannya nanti menjadikan semangat dan dorongan dalam hal berproses dalam himpunan ini. Kedua : Mengembalikan  budaya intelektual di HMI itu sendiri. Menjadi suatu keharusan bila HMI tak ingin menjadi  korban  kemajuan. Ketiga : memaksimalkan dan mengoptimalkan lembaga pengembangan profesi.  Sadar atau tidak sebenarnya daya tawar HMI hari ini terletak pada Lembaga Pengembangan Profesinya. Tentunya ini tidak berlebihan, karena zaman milenial  ini  yang  dibutuhkan adalah profesi dan inovasi. Dimana hal tersebut diiringi banyaknya mahasiswa yang semakin jenuh dan bosan setelah berkuliah dalam kelas mendapatkan hal-hal yang sifatnya teoritis dan berorganisasi pun juga menemukan hal-hal yang sifatnya teoritis yang membuat mahasiswa semakin bosan dan menjadi kendala lain yaitu tentang penugasan dimana kurikulum sekarang yang menurut saya sangat tidak seimbang yang hanya mengedepankan aspek kognitif nya saja tanpa memperhatikan, dan mempertimbangkanaspek afektif dan psikomotoriknya. Lewat  LPP  inilah pembinaan dan pembentukan output HMI akan jelas. Untuk mewujudkan hal tersebut adanya perkaderan di LPP yang sitematis terarah dan terstrukur harus dilakukan. Maka dari itu perlu adanya setiap komisariat, cabang, badko, hingga PB HMI paham dan menguasai betul tentang pedoman perkaderan dan skema perkaderan. Dan pelatihan seperti “Senior Course” juga perlu diikuti. Dengan adanya suatu komisariat yang banyak dalam ruang lingkup cabang harus juga diimbangi dengan seorang tenaga Instruktur yang banyak pula. Untuk ini adanya kurikulum serta metode yang jelas yang dibutuhkan dalam setiap pelatihan di HMI. Sedianya harus menggandeng Badan  Penglola Latihan (BPL) dan Pembinaan Anggota.

Kemampuan di berbagai bidang ini haruslah disadari, agar konsensus HMI untuk  membangun bangsa tetap menjadi garis utama perjuangannya. Apalagi dalam kemelut era milenial kita disuguhkan berbagai situasi dengan bonus demografi, digitalisai dsb. Bukan hal yang mustahil jika beberapa solusi diatas di laksanakan maka HMI akan menjadi organisasi yang siap bersaing dalam menjawab tantangan zaman. bukan sebaliknya

HMI sudah terbukti mampu bertahan dari tantangan dan hantaman yang berasal dari luar dan kedepan mampukah HMI menghadapi tantangan yang berasal dari dalam tubuhnya sendiri? Yang bisa menjawab adalah segenap pengurus HMI dari Pengurus Besar sampai dengan komisariat dan tentunya seluruh kader HMI yang masih mencintai Himpunan ini. Kecintaan yang besar dari segenap keluarga besar Hijau Hitam semoga tidak mengurangi keobjektivitasan untuk mengkritisi segala kekurangan yang ada di Himpunan ini dan membenahi untuk kemajuan umat dan bangsa.

Salam hormat dan angkat topi dari saya pada setiap kader yang masih menjalankan roda organisasi dengan secara Ikhlas dan Niat Ingsun Belajar. Semangat Berhimpun.


Pipin Cakaba1 March, 2019
IMG_20190301_152035-1280x1366.jpg

13min360

“Reorientasi HMI; 70 Tahun Berkiprah untuk Bangsa Mewujudkan Bahagia Indonesia”

Oleh : Ridwan Mubarak

(Penulis adalah Dosen Fidkom UIN SGD, KAHMI Kabupaten Bandung, Alumni LK-I Al-Wasilah Garut 2002 dan Alumni LK-II Pesanggrahan Colo Kudus Jawa Tengah 2004)

Pernah menjadi bagian dari proses kaderisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ketika kuliah dulu, adalah merupakan suatu kebanggan tersendiri yang tak ternilai. Sekian banyak ilmu, pengetahuan, dan bahkan pengalaman berharga diberikan oleh HMI kepada kader-kadernya sebagai bekal menjadi calon pemimpin di masa depan. Ya benar, HMI merupakan organisasi kader yang seharusnya fokus pada ikhtiar untuk mencetak insan-insan akademis calon pemimpin umat, bukan organisasi politik praktis yang menggiring anggotanya untuk berperilaku liar layaknya seorang politisi yang nihil dengan referensi teori-teori besar ilmu politik. Kini, seiring dengan bergulirnya waktu, penulis “dipaksa” menjadi bagian dari realitas Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) dengan segala beban dan tanggungjawabnya sebagai seorang “senior” (walah senior pula).

Adapun istilah senior dalam kultur organisasi HMI, menempati makom yang sangat tinggi. Seorang senior produk HMI akrab disapa dengan panggilan Rakanda, Rakandawati, Rakanita, ataupun Abang. Hal ini sebagai bentuk penghormatan juga kehormatan dan rasa cinta kasih seorang adik terhadap kaka-kakanya dalam lingkar organisasi HMI.  Untuk mendapatkan penghormtan mulia tersebut, ada proses yang harus dilalui, yang menjadi kekhasan HMI dari dulu hingga kini, yakni perkaderan. Perkaderan menjadi penentu kualitas kader ditahun-tahun berikutnya dalam memperjuangkan HMI, lagi-lagi sebagai organisasi kader bukan orpol ataupun LSM.

Proses perkaderan sendiri dilakukan secara berjenjang, mulai dari Latihan Kader I (Basic Training), Latihan Kader II (Intermedite Training), hingga Latihan Kader III (Advance Training) menjadi agenda penting pembentukan watak gerakan yang harus dilalui oleh setiap mereka yang bangga mengklaim sebagai insan akademis HMI. Jika tidak, dirasa belumlah sempurna (kaffah) menjadi insan cita HMI atau bahkan bisa disebut kader abal-abal karena tidak pernah mengikuti LK I. LK menjadi prasyarat utama dan pertama bagi calon anggota HMI, karena konstitusi (AD/ ART) mengharuskan hal yang demikian. Tahapan-tahapan LK (Latihan Kader) HMI mengandung makna filosofis yang teramat dalam sekaligus terdapat tanggungjawab ideologis dalam wujud gerakan moral (moral force). Gerakan moral kader HMI harus senantiasa berpijak kepada misi-misi kenabian, selaras dengan semangat teologis namun tetap humanis. Kader HMI harus menjadi pemantik setiap gerakan moral dimanapun ia berada dan berkiprah. Semangat progresif revolusioner menjadi harga mati dalam memperjuangkan hak-hak kaum tertindas (mustadafin). Sehingga dimasa berikutnya, kader HMI memiliki keberpihakan yang jelas terhadap kaum tertindas (mustad’afin) dan selalu berani melawan kaum penindas (mustakbirin). Kader HMI hendaknya pantang tolak tugas, pantang ulur waktu, dan pantang tugas tidak tuntas ketika sudah berbicara kepentingan umat; negara, bangsa, dan agama.

Label Islam dari organisasi HMI, menjadi furqon (Pembeda) HMI dengan organisasi pergerakan lainnya, inilah kekhasan HMI yang sebenarnya. Konsep wahyu memandu ilmu, firman memandu tindakan, dan Kalamullah memandu ghirah, hendaknya menjadi prinsip dasar dari setiap gerak langkah kader HMI. Hal ini sebagaimana sumpah setia kita kepada Sang Khaliq Allah SWT dalam setiap pelaksanaan shalat melalui lafal doa iftitah. Inna shalati…sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah semata, bukan untuk jabatan, kekuasaan, dan dunia yang sifatnya sementara. Materi Nilai Dasar Perjuangan (NDP) menjadi materi pokok yang wajib difahami oleh setiap kader HMI di awal pembentukan karakter kader, konsep Tauhid menjadi pijakan.

Begitu agung dan mulianya konsep perkaderan HMI, syarat dengan pesan filosofis sekaligus ideologis. Secara filosofis, makna perkaderan dapat diartikan sebagai upaya sistematik pembentukan jati diri seorang pejuang umat. LK I berperan membentuk karakter kader mulai dari persoalan-persoalan hidup yang paling dasar. Materi-materi yang disajikan merupakan masteri-materi dasar ketauhidan yang dikorelasikan dengan realitas kemanusiaan (humanis); keislaman, keindonesiaan, dan kebangsaan. Dekontruksi teologis menjadi sajian awal pembuka nalar, menu wajib bagi setiap calon kader HMI. Proses dekontruksi teologis, diharapkan mampu meneguhkan gerakan-gerakan yang dilakukan kader dan mengkristal dalam bentuk gerakan ideologis yang egaliter, moderat, inklusif, serta revolusioner. Sikap fanatisme sempit dan hedonistik adalah dua hal yang harus dijauhkan dalam semangat perjuangan HMI, meski pada realitasnya, banyak pula kader yang terjebak dalam kubangan lumpur transaksi-transaksi politik liar dengan dalih “memberdayakan kader” dan patuh terhadap kepentingan senior yang “berehan” secara materil kepada kader-kadernya dilevel akar rumput (kader LK I). Jangan racuni nalar sehat kader LK I dengan bujuk rayu materi yang tidak mendidik.

Berikutnya, fase LK II. Pada jenjang ini, kader tidak lagi disibukan dengan hal-hal dasar ketauhidan dan kemanusiaan secara konseptual. Fase ini, segenap kader HMI telah dianggap selesai dan telah berdamai dengan realitas personalnya, pergulatan batin sebagai seorang aktivis yang sadar diri telah mencapai klimaknya. Revolusi kesadaran sebagai buah manis dari LK I menjadi bekal kuat bagi kader untuk melangkah pada jenjang perjuangan yang lebih luas, revolusi harapan (hope revolution) menjadi tujuan. LK II berperan menstimulan kader untuk berani mengekplorasi diri, kritis, inovatif, dan cakap mengimplementasikan konsep-konsep dasar materi LK I pada tataran yang lebih riil di tengah permasalahan kebangsaan dan keumatan yang begitu komplek.

Selain paradigma kritis kader menyikapi realitas, ketajaman pisau analisa guna memahami permasalahan-permasalahan kebangsaan menjadi pertaruhan dan kehormatan kader, tuntas dan tidaknya seorang kader HMI pada fase LK II ini, dapat dilihat. Mampu memilah dan memilih, mana permasalahan prinsip dan mana yang tidak prinsip, mana gerakan murni ideologis dan mana yang gerakan politis ansih, kader LK II harus mampu membedakannya. Jika tidak, patut dipertanyakan keabsahannya sebagai seorang kader LK II, atau jangan-jangan ia tidak serius atau bahkan tidak tuntas LK I nya dulu. Kader LK II kualitas LK I, bentuk kegagalan dalam proses perkaderan, inilah malpraktik kaderisasi imbas dari malnutrsisi kajian-kajian tentang konsep dasar HMI.

Fase terakhir merupakan fase LK III. Kader produk LK III selain diharapkan pintar menganalisa permasalahan-permasalahan kebangsaan dan keumatan, juga diharapkan mampu menjadi problem solver atas permasalahan kebangsaan tersebut. HMI harus menjadi solusi bagi bangsa ini, bahkan bagi bangsa-bangsa di dunia dengan produk-produk pemikirannya yang bernas juga implementatif. Melaui LK III, kader dipaksa untuk dapat mengeryitkan dahinya lebih dari biasanya, berfikir keras di atas rata-rata namun tetap analitis dan sistematis pada pokok permaslahan. Fokus pada satu tujuan, menjadi dan selalu memberi yang terbaik bagi tegaknya nilai-nilai kemanusiaan.

LK III merupakan “sekolah tinggi kader HMI” yang akan melahirkan pemikir-pemikir hebat yang dibutuhkan oleh bangsa dan zamannya. Menjadi politisi pemikir, menjadi pendidik pemikir, menjadi pejabat yang pemikir, menjadi jurnalis yang pemikir, menjadi peneliti yang pemikir, bahkan menjadi orang-orang Indonesia biasa yang terbiasa berfikir dan selalu ikhlas membangun bangsa dan negaranya. Kembali kepada pemahaman konsep tauhid LK I sebagai dasar pijakan dalam berkhidmat untuk kemaslahatan umat dan bangsa. Kader LK III diharapkan menjadi pribadi-pribadi yang solutif konstruktif bagi kemanusiaan. Pada akhirnya, kader LK III diharapkan menjadi pandita-pandita dan pelita ditengah kezumudan berfikir umat dalam menjalani kehidupannya di bumi ini. Seyogianya pula, kader LK III HMI diharamkan menjadi beban sejarah bagi bangsanya, bagi kemanusiaan, terlebih bagi kader-kader dibawahnya. Ia harus menjadi kader yang paripurna lahiriah sekaligus batiniah, karena ia alumni dari “sekolah tinggi” LK III HMI.

Secara ideologis, LK HMI dapat dipahami sebagai ladang tempat menyemai benih-benih ideologi gerakan yang bersumber dari semangat dakwah para nabi dan Rasul Allah SWT. Nilai-nilai luhur teologis yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Hadits harus menjadi ruh yang diyakini sebagai jalan keselamatan dalam berjuang bagi seluruh kader HMI. Konsistensi terhadap nilai-nilai teologis, semangat tanpa pamrih (ikhlas berjuang), dan sadar diri sebagai manusia yang mengemban misi kenabian merupakan modal dasar dalam memperjuangkan gerakan ideologi HMI. HMI dan kadernya haruslah tetap membumi sebagai syarat diterimanya HMI ditengah kehidupan berbangsa dan bernegara, tanpa menggadaikan kepatuhannya terhadap firman-firman langit sebagai pedoman (standar operasional procedure) dalam berjuang menegakan nilai-nilai kemanusiaan demi menciptakan peradaban yang berkeadaban Ketuhanan. Tuhan menjadi titik sentral awal dan akhir gerak langkah kader HMI, dari Allah dan akan kembali kepada Alllah sang Haq. Ketakwaan kepada Allah SWT  hendaknya menjadi pijakan awal dan akhir dalam mengimplementasikan cita-cita luhur HMI secara ideologis. Persemaian nilai-nilai ketuhanan (teologis) yang kaffah melalui LK I, II, dan III akan berbanding lurus dengan “panen” kualitas gerakan ideologis kader yang juga paripurna dan  HMI benar-benar menjadi solusi bagi kemanusiaan.

Lantas bagaimana realitas kader HMI kini?. Seberapa besar manfaat dari proses perkaderan LK bagi kader HMI?. Cukup konsistenkah kader HMI dengan ikrar dan sumpahnya dalam konstitusi dan hymne HMI yang kerap dilantunkan saat acara-acara seremonial HMI?. Pertanyaan tersebut kerap menghantui penulis sebagai kader HMI semenjak tahun 2002. Jujur, ada banyak kegelisahan yang mengendap dalam ruang-ruang alam sadar penulis menyikapi HMI dalam kontek kekinian. Kader HMI kini dibenturkan dengan budaya pop yang berorientasi kepada perilaku pragmatik-hypokrit, dan hedonistik-sekuleristik. Selalu ingin instan dalam berjuang, kurang menghargai proses, konsumtif, serta menihilkan etika dalam pergerakannya, baik ketika berpolitik (siasyah), bisnis (berniaga), aktivitas sosial, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Hal yang demikian terjadi karena kader tidak matang dalam fase perkaderan dapur HMI, terlebih LK I sebagai peletak dasar ketauhidan. Syahadat pergerakannya tidak sempurna.

Hal lain, adanya intervensi “oknum senior HMI” yang kerap menarik-narik kader HMI yang belum khatam AD/ART dipaksa masuk ranah-ranah politik praktis yang melenakan kader. Kemudahan memperoleh materi melalui proyek-proyek instan dari oknum senior yang didanai oleh APBD/ APBN, menjadi magnet tersendiri bagi kader-kader HMI. Kompensasi materi yang menyilaukan kader-kader HMI melalui aktivitas politik praktis yang “belum saatnya dilalui” membentuk karakter kader menjadi materialistik. Kader siap berjuang asal ada “Bandar” yang memodali, siap aksi asalkan ada kompensasi, siap turun ke jalanan dengan catatan ada uang makan dan ongkos jalan. Kesemua ini merupakan  bentuk kemunduran HMI, dan tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. HMI bukanlah akronim How Money Income, yang wani piro, dan gerakan ideologis yang berakhri tragis di atas meja makan. HMI adalah organisasi kader bukan organisasi politik apalagi LSM. Pertegas HMI secara struktural dan juga fungsional bahwa HMI merupakan  kawah Candra Dimuka tempat membentuk manusia-manusia hebat, tempat lahirnya insan-insan paripurna, tempat tumbuh dan berkembangnya calon pemimpin bangsa di masa kini dan nanti.

Solusi atas beragam krisis identitas kader HMI kini, tiada lain kembalilah kepada khittah HMI. Tujuan HMI adalah terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertangung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT (pasal 4 AD HMI). Dari tujuan tersebut dapat dirumuskan menjadi lima kualitas insan cita, yakni kualitas insan akademis, kualitas insan pencipta, kualitas insan pengabdi, kualitas insan bernafaskan Islam, dan kualitas insan yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Sungguh sangatlah komprehensif tujuan HMI sebagai sebuah organisasi kader. HMI diusianya yang ke 70 di tahun ini, sudah saatnya berbenah diri menjadi problem solver kehidupan berbangsa dan bernegara. Jangan biarkan kader-kader terbaik HMI ada dalam kegelisahan dipersimpangan kiri jalan. Kembalikan kader-kader HMI kepada Al-Qur’an dan Hadits sebagaimana ikrar sekaligus komitmen kita dalam sendu Hymne HMI; Turut Qur’an dan Hadits Jalan keselamatan, Ya Allah berkati Bahagia HMI. (Wassalam- Disarikan dari berbagai sumber).


Pipin Cakaba16 February, 2019
IMG-20190216-WA0000.jpg

6min370

Oleh : Fajar Galang P

Demisioner Ketua Umum Komush Cakaba 2017-2018

Hiruk pikuk pesta demokrasi lima tahunan yang saat ini dinikmati rakyat Indonesia kini menjadi sorotan semua kalangan. Terasa, peran aktif kepedulian rakyat sebagai bentuk harapan mereka agar memiliki pemimpin yang dapat membawa setiap daerah kearah lebih baik melalui pemilihan umum. Demos (rakyat) dan cratos (kekuatan), arti dasar bahasa yunani yang mengilhami terciptanya demokrasi. Beragam unsur kekuatan rakyat bersatu padu untuk mendukung salah satu calon legislatif, gubernur, bahkan presiden ditahun berikutnya melalui wadah relawan, organisasi masyarakat, organisai primordial, organisasi buruh dan lain sebagainya. Namun sungguh disayangkan apabila momentum pemilihan umum hanya dijadikan komoditas politik untuk segelintir orang (oknum) agar mendapatkan keuntungan pribadi.

Sebagai organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tetap berdiri pada jalur netral. Seluruh anggota aktif HMI jangan sampai masuk ke dalam kemelut politik yang tengah terjadi saat ini. Saya sepakat terhadap pernyataan Ketua Umum PB HMI tahun 2010-2012 Noer Fajriansyah saat itu, ia menganggap aktvitas politik semacam itu bisa menggangu kestabilan Himpunan itu sendiri.

Sebagai organisasi mahasiswa terbesar, HMI harus berdiri pada jalur netral menyikapi semua kemelut yang ada dalam partai atau politik. Hal ini mengingat alumni HMI berada diseluruh jaringan partai peserta pemilu 2018. Keberpihakan pada salah satu kelompok dalam sebuah partai akan memecah belah soliditas keluarga HMI.

Semua anggota HMI harus bijaksana dalam memainkan peranan mereka. Jika para anggota saling mengklaim mendukung salah satu pihak yang berkonflik, itu sama saja menghantam dan memecah belah persatuan HMI.

HMI sebagai organisasi yang tidak memiliki fatsun politik manapun, sejatinya kita kader mesti menjaga independensi Himpunan ditengah dinamika politik bangsa ini. Saya menegaskan kewajiban menjaga independensi Himpunan merupakan bagian integral dari amanat konstitusi yang mengikat setiap kader HMI dari PB sampai ke tingkat komisariat.

Saya rasa amanat konstitusi jelas menegaskan HMI sebagai organisasi yang independen, namun apa jadinya ketika amanat konstitusi sebagai pedoman tertinggi Himpunan dilacuri oleh seorang oknum kader. Terjadi fenomena yang menjamur dikalangan organisasi mahasiswa, untuk dukung mendukung salah satu kandidat pileg, pilgub, maupun presiden nanti pada tahun 2019. Mahasiswa sebagai kaum intelektual dan yang “katanya” agen perubahan harus mampu memilah dengan baik secara kritis, objektif dan solutif. Karena mahasiswa sebagai kaum menengah yang dapat menjembatani antara rakyat dengan pemerintah. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi perkaderan tertua di Indonesia dan memiliki independensi etis sekaligus organisatoris, kini beberapa kadernya nampak terlibat dalam aktivitas politik yang mengusung kesuksesan salah satu kandidat pada pesta demokrasi di tahun 2018.

Secara organisasi itu sangat mencederai, karena bertentangan dengan AD/ ART (Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga) bahwa HMI bersifat independen (BAB I, pasal 6), dan dijelaskan lebih lengkap didalam Tafsir Independensi yang didalamnya terdapat dua inti yaitu Independensi Etis dan Independensi Organisatoris.

Terdapat penjelasan di dalam Indepensi Organisatoris yaitu dalam melaksanakan dinamika organisasi, HMI secara organisatoris tidak pernah committed dengan kepentingan pihak manapun ataupun kelompok dan golongan manapun kecuali tunduk dan terikat pada kepentingan kebenaran dan objektifitas kejujuran dan keadilan. Agar secara organisatoris HMI dapat melakukan dan menjalankan prinsip-prinsip independensi organisatorisnya, maka HMI dituntut untuk mengembangkan kepemimpinan kuantitatif serta berjiwa independen sehingga perkembangan, pertumbuhan dan kebijaksanaan organisasi mampu diemban selaras dengan hakikat independensi HMI. Untuk itu HMI harus mampu menciptakan kondisi yang baik dan mantap bagi pertumbuhan dan perkembangan kualitas-kualitas kader HMI. Dalam rangka menjalin tegaknya prinsip-prinsip independensi HMI mengimplementasi independensi HMI kepada anggota adalah sebagai berikut:

1. Anggota-anggota HMI terutama aktifitasnya dalam melaksanakan tugasnya harus tunduk kepada ketentuan-ketentuan organisasi serta membawa program perjuangan HMI. Oleh karena itu tidak diperkenankan melakukan kegiatan-kegiatan dengan membawa organisasi atas kehendak pihak luar manapun juga.

2. Mereka tidak dibenarkan mengadakan komitmen-komitmen dengan bentuk apapun dengan pihak luar HMI selain segala sesuatu yang telah diputuskan secara organisatoris.

3. Alumni HMI senantiasa diharapkan untuk arif berjuang meneruskan dan mengembangkan watak independensi etis dimanapun mereka berada dan berfungsi sesuai dengan minat dan potensi dalam rangka membawa hakikat dan mission HMI. Dan menganjurkan serta mendorong alumni untuk menyalurkan aspirasi kualitatifnya secara tepat dan melalui semua jalur pembaktian baik jalur organisasi professional kewiraswastaan, lembaga-lembaga sosial, wadah aspirasi politik lembaga pemerintahan ataupun jalur-jalur lainnya yang semata-mata hanya karena hak dan tanggung jawabnya dalam rangka merealisir kehidupan masyarakat adil makmuryang diridhoi Allah SWT. dalam menjalankan garis independen HMI dengan ketentuan-ketentuan tersebut di atas, pertimbangan HMI semata-mata adalah untuk memelihara mengembangkan anggota serta peranan HMI dalam rangka ikut bertanggung jawab atas Negara dan bangsa. Karenanya menjadi dasar  dan kriteria setiap sikap HMI semata-mata adalah kepentingan nasional bukan kepentingan golongan atau partai dan pihak penguasa sekalipun. Bersikap independen berarti sanggup berpikir dan berbuat sendiri dengan menempuh resiko. Ini adalah suatu konsekuensi atau sikap pemuda. Mahasiswa yang kritis terhadap masa kini dan kemampuan dirinya untuk sanggup mewarisi hari depan bangsa dan Negara.

Setelah sedikitnya membahas ihwal independensi organisasi bernama HMI, saya berharap kepada setiap kader HMI untuk menanamkan nilai independensi yang termaktub dalam kontitusi. Jangan sampai kiranya dalam setiap LK-1 materi konstitusi dibahas berjam-jam tapi tak pernah sampai sejujurnya ke diri setiap kader. Sebab, independensi merupakan jantung dari pada mahasiswa. Bak kata Tan Malaka mengatakan bahwa “Idealisme merupakan kemewahan terakhir yang dimiliki oleh mahasiswa”.

 

 



Sekilas Kami

Bakornas LAPMI PB HMI merupakan salah satu badan khusus di dalam tubuh organisasi HMI yang bersifat semi-otonom sebagai penyalur minat dan bakat anggota dan wahana pengembangan kader di bidang jurnalistik/pers (ART Pasal 44).


[email protected]

0816-766-496



Newsletter


Media Partner

Independensia.id