HMI

Pipin Cakaba11 May, 2019
IMG-20190511-WA0009.jpg

2min250

Lapmi | Tanjabbar – Para mahasiswa yang tergabung Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Tanjung Jabung Barat (HMI Tanjabbar) melakukan penggalangan dana untuk korban kebakaran di Desa Pangkal Duri, Kecamatan Mendahara, Kabupaten Tanjung Jabung Timur yang terjadi pada kamis malam 09 Mei 2019 lalu.

Doc. Saat Kader HMI Tanjabbar melakukan galang dana dengan mamainkan musik akustik/photo/Dika

 

Penggalangan dana tersebut dilakukan pada hari sabtu (11/05/2019). Dalam melakukan penggalangan dana tersebut, para kader HMI Tanjabbar terjun langsung di simpang wisno sambil memainkan musik akustik yang dilakukan oleh lembaga seni mahasiswa islam (LSMI).

Selain itu, mereka juga menerima bantuan dalam bentuk barang, pakaian alat-alat dapur, dan barang-barang lainnya yang dinilai dibutuhkan korban kebakaran.

Fikri efendi selaku koordinator penggalangan dana kebakaran menyampaikan ucapan terima kasih kepada masyarakat kuala tungkal yang telah berpartisipasi membantu saudara kita yang terkena musibah kebakaran di pangkal duri, semoga ini menjadi amal bagi kita semua.

“Sebagai kader umat dan kader bangsa, tentu hal ini membuat HMI terpanggil, kita berharap sedikitnya dengan bantuan ini nantinya bisa meringankan beban saudara kita yang di Desa Pangkal Duri, Kecamatan mendahar Kabupaten Tanjung Jabung Timur” pungkas Fikri

Sebagaimana diketahui, kebakaran yang terjadi di Desa pangkal duri kecamatan mendahara Kabupaten Tanjung Jabung Timur, pada kamis 9 April 2019 lalu telah menghanguskan 62 unit rumah di desa pangkal duri tersebut.

Tidak ada korban nyawa dalam insiden tersebut, namun sebanyak 192 jiwa terpaksa di ungsikan karena kehilangan tempat tinggal.


Pipin Cakaba2 May, 2019
IMG-20190502-WA0002.jpg

20min811

Oleh : Moch Syaroni (Kader HMI Cabang Surabaya)

 

“HMI hendaknya benar-benar HMI, jangan sampai suka menyendiri”.

(Panglima Besar Jenderal Sudirman)

Kutipan diatas diambil dari pidato Pak Dirman dalam sambutannya pada peringatan Dies Natalis I HMI di Pendopo Bangsal Kepatihan, 6 Februari 1948. HMI yang pertama merupakan akronim dari Himpunan Mahasiswa Islam dan yang kedua adalah Harapan Masyarakat Indonesia.

Dalam perjalanannya sebagai sebuah organisasi kemahasiswaan, HMI telah terbukti mampu bertahan dari segala tantangan dan hantaman yang berasal dari luar tubuhnya. Pada awal berdirinya HMI langsung dihadapkan pada perjuangan fisik melawan agresi militer Belanda. Revolusi fisik yang membutuhkan segenap komponen kekuatan bangsa, termasuk didalamnya pemuda dan mahasiswa. Banyak kader HMI yang terjun langsung dalam kancah fase perjuangan tersebut.

Begitu pula dalam hal pertentangan ideologi. HMI dapat bertahan dari gempuran tuntutan pembubaran yang disuarakan PKI melalui organisasi underbouwnya CGMI. Tidak tanggung-tanggung yang menuntut keras adalah langsung Ketua Umum PKI D.N Aidit dalam rapat umum menjelang kongres CGMI. ”Kalau tidak dapat membubarkan HMI, Lebih baik pakai sarung”, kata D.N Aidit dihadapan puluhan ribu kader CGMI di Gelora Bung Karno Senayan Jakarta. Sejarah membuktikan HMI dapat bertahan, bahkan menjadi pelopor gerakan mahasiswa yang menyatu dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang menuntut pembubaran PKI yang kemudian pada akhirnya meruntuhkan kekuasaaan Orde Lama dan mengantar Indonesia memasuki Orde Baru.

Sejak berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam pada  tanggal  5  Februari  1947  sampai  saat  ini  (72  tahun) silam.  HMI  menyumbang  kontribusi  besar  dalam  dinamika  kebangsaan  di  Indonesia.  Tentunya  ini  didasarkan pada tujuan awal HMI berdiri. Tujuan itu memiliki dua poin. Pertama : Mempertahankan  Negara Republik Indonesia dan Mempertinggi Derajat Rakyat Indonesia.  Dan Kedua : Menegakan  dan  Mengembangkan  Ajaran  Islam.  Tujuan tersebut tentunya tidak berlebihan, mengingat kondisi Indonesia pada saat waktu itu.

Sejak runtuhnya orde lama tidak hanya memberikan harapan baru kepada rakyat Indonesia, akan tetapi juga memberikan ”hadiah-hadiah” berupa diangkatnya tokoh-tokoh organisasi maupun gerakan mahasiswa yang berjasa membantu militer untuk menumbangkan orde lama menjadi anggota parlemen. Mungkin sejak saat itulah HMI dekat dengan lingkaran kekuasaan politik di Indonesia. Selama kepemimpinan Presiden Soeharto banyak alumni HMI yang menjadi menteri ataupun pejabat tinggi lainnya di jajaran kekuasaan politik.

Lalu apa yang salah dari fenomena ini? Tidak ada yang salah selama alumni HMI tidak memanfaatkan adik-adiknya di HMI untuk kepentingan yg menguntungkan secara pribadi maupun kelompoknya atau politiknya, dan adik-adik HMI tidak ”kegenitan” memanfaatkan alumninya yang berada di tempat pusat kekuasaan untuk kepentingan pribadinya. Akan tetapi dalam kenyataannya tidaklah seperti yang terjadi diatas.

Kader HMI bergeliat dengan semangat menggebu-nggebu ketika terjadi gejolak politik nasional yang melibatkan ”abangnda-abangndanya”. Masing-masing berebut tempat untuk menjadi yang paling dekat dengan alumninya yang sudah menjadi tokoh dengan harapan dapat menyelamatkan masa depannya untuk berkarir di politik, karena memang tidak punya keahlian dan prestasi akademis apapun selain pandai beretorika kosong dan “mengolah wacana“ yang akan cuman menghasilkan narasi kosong.

Manisnya kamu, eh gula kekuasaaan telah menjadikan politik sebagai panglima didalam tubuh HMI yang menghegemoni. Kultur perkaderan di HMI memang menempa setiap kader untuk menjadi pioner atau pemimpin di segala bidang, dan politik merupakan batu loncatan yang murah dan mudah untuk menonjolkan eksistensi seseorang. Cukup dengan memegang jabatan organisasi kemahasiswaan/kepemudaan, ataupun ormas dengan massa yang banyak serta kecakapan beretorika kosong sudah bisa menjadi alat tawar menawar dalam kekuatan politik, ditambah dengan jaringan alumninya yang tersebar disegala disegala bidang.

Akibatnya adalah kultur atau tradisi intelektualitas yang terbangun pada tiga dekade awal berdirinya HMI mulai meluntur. Wacana pembaharuan pemikiran yang populer di era Cak Nur kini jarang dilontarkan kader-kader HMI. Padahal diakui atau tidak, intelektualitas merupakan salah satu kunci kekuatan HMI. Nilai-nilai Dasar Perjuangan yang merupakan landasan ideologi perjuangan HMI dimana Cak Nur ketika hendak merumuskan NDP untuk sebagai landasan bergerak, berfikir, berkepercayaan, dsb yang menjadi NIK (Nilai identitas Kader). NDP yang sebelumnya mampu menyemangati pergolakan intelektual dan wacana keagamaan kader HMI saat ini justru semakin tidak diminati kader. Bisa dilihat dari gejala makin minimnya tradisi diskusi tentang keIslaman, disamping lemahnya semangat membangun wacana pemikiran Islam yang pernah disandang berberapa dekade lalu. Bahkan ada singkat kata “kalau ingin belajar politik sudah tepat masuk HMI, tetapi kalau mencari ilmu agama jangan di HMI karena anda tidak akan mendapatkan apa-apa”.

Begitu pula dalam bidang profesionalitas saat ini. Jarang kader HMI yang benar-benar aktif dan giat ber-HMI duduk di jabatan tinggi profesi atau eksis diakui sebagai pakar dalam profesi tertentu, kalaupun ada itu didapatkan karena memang kesungguhan mereka belajar dan menempuh studinya secara serius dalam bidang profesinya, bukan karena HMI nya.

Kondisi diatas membuat HMI jauh dari masyarakat. Diiringi dengan banyaknya masyarakat yang sangat awam dengan nama Himpunan Mahasiswa Islam dan jarang bahkan tidak sama sekali merasakan adanya ke eksistensial HMI. Jauh karena kader HMI asyik dengan wacananya yang melangit tanpa memberikan kontribusi ataupun solusi terhadap permasalahan bangsa. Berapa puluh prokernas yg dibahas di konggres sampai sejauh mana kader HMI mampu mengawal hal tersebut. HMI pun terpinggirkan dalam dunia tempatnya berasal yaitu kampus dan kemahasiswaan. Terlebih di kampus-kampus ternama. bisa dikatakan HMI telah kehilangan peran-perannya. Jalur akademis dan intelekual lebih diramaikan oleh pers kampus dan kelompok studi mahasiswa sedangkan aktivitas keislaman didominasi oleh UKM Kerohanian Islam kampus. Jabatan strategis penentu kebijakan kemahasiswaan seperti BEM, SM dan MPM pun tidak dapat dikuasai oleh kader HMI. Kader HMI tampaknya lebih asyik menyendiri didalam dunianya, yaitu intrik-mengintrik sesama kader untuk bersaing merebut jabatan tinggi di tingkatan struktur organisasi HMI, mulai dari komisariat sampai dengan Pengurus Besar. Harapan kedepan nya Pak Dirman dalam kutipan diatas yaitu HMI supaya jangan sampai menyendiri agaknya tidak terwujud.

Sebagai sebuah organisasi kemahasiswaan terbesar secara kuantitas pun masih perlu dipertanyakan keabsahannya. Mungkin benar adanya di atas kertas, tetapi fakta dilapangan tidak menunjukkan indikasi tersebut. Sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap menjelang Konggres HMI ketika diadakan verifikasi jumlah anggota, Pengurus Cabang banyak yang me-mark up laporan jumlah pengurus/anggotsnya agar bisa berpengaruh terhadap jumlah delegasi yang akan dikirim mengikuti Konggres. Bukankah semakin banyak jumlah delegasi yang mempunyai hak suara bisa menjadi alat tawar menawar dukungan terhadap para calon Ketua Umum PB HMI.

Begitu pula jalannya konggres. Bagi yang mengikuti suasana persidangan dalam konggres akan mengatakan bahwa kongres hanyalah tempat berkumpul orang-orang yang ingin menunjukkan dirinya sebagai macan dalam forum yang sedang berlatih vokal dengan retorika atau narasi kosong. Hampir tidak ada perdebatan cerdas yang membahas solusi atas problematika umat dan bangsa. Molornya konggres dari jadwal yang telah ditetapkan pun bukan karena ada hal substansial yang sedang dibahas, akan tetapi karena ketidakdisplinan peserta mengikuti persidangan, juga karena adanya tarik menarik kekuatan politik para kandidat Ketua Umum yang belum mencapai kata sepakat untuk pembagian posisi di kepengurusan Pengurus Besar dibawah Ketua Umum terpilih.

Kalau sudah seperti ini masihkah HMI menjadi harapan masyarakat Indonesia? kalau pertanyaan itu harus dijawab sekarang tampaknya sulit untuk dijawab. Tetapi sulit bukanlah mustahil. Harapan kedepan bahwa HMI benar-benar menjadi harapan masyarakat Indonesia masih ada.

Telah banyak solusi atau pun kritikan yang disampaikan oleh kader maupun alumni yang masih peduli dengan organisasi ini yang memang relevan untuk dilaksanakan oleh pengurus maupun kader di HMI. Kuncinya hanyalah di kemauan dan kerja nyata setiap pengurus baik dari tingkatan Komisariat, Cabang, Badko dan Pengurus Besar untuk membenahi kembali kunci kekuatan HMI yang terletak di tradisi intelektual dan independensi agar memori penjelasan tujuan dan tafsir independensi HMI tidak sekedar menjadi teks mati tanpa makna dalam jiwa-jiwa kader HMI. Kerja nyata penting dilakukan karena memang selama ini HMI lebih terkenal dengan wacana-wacana yang ”melangit” tetapi tidak bisa diimplementasikan pada realitas kehidupan sebenarnya.

Perkaderan yang merupakan kunci eksistensi keberlangsungan HMI sampai saat ini sudah waktunya direkonstruksi agar adaptif sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. Abdullah Hemahua, aktivis veteran dan mantan Ketua Umum PB HMI pernah mengatakan bahwa perkaderan formal HMI adalah perkaderan terbaik yang pernah ada di antara perkaderan organisasi kemahasiswaan lainnya. Akan tetapi sebaik apapun suatu pengkaderan yang pernah ada, bukan berarti anti perubahan. Silahkan lakukan strategi, taktik, lobby, negosiasi, konsolidasi tapi mohon jangan dalam soal perkaderan. Didik adik-adik sebagai kader perjuangan jangan didik adik-adik sebagai kader yang instan.

Pengkaderan formal seperti Latihan Kader 1 Basic Training (LK 1) belakangan ini tampaknya mulai mengalami degradasi substansi dari perkaderan itu sendiri. LK 1 saat ini hanyalah berupa seremonial rekrutmen yang dijalankan HMI tanpa ada makna atau esensi yang harusnya di dapat oleh seseorang yang memang dipersiapkan menjadi tulang punggung dari suatu organisasi. Untuk itu sistem dan pola perkaderan harus dikembalikan dalam bingkai nilai-nilai yang menjadi ruh dan marwah perjuangan HMI yaitu Islam, kemudian penekanan pada strategi perkaderan yang memberikan stimulus atau motivasi kepada kader untuk mengembangkan kepribadian kader secara integral dan komprehensif dengan menyentuh berbagai potensi yang dimilikinya.

Secara  historis,  dinamika  problem  kebangsaan  Indonesia  dari  masa  ke masa juga menyeret adanya kedinamisan organisasi HMI. Faktanya dalam tubuh HMI adanya perubahan-perubahan untuk menyesuaikan dengan kondisi zaman. Pak Agus  Salim  Sitompul  dengan  apik  dan  sistematis  menjelaskan  bagaimana perubahan-perubahan  di  dalam  tubuh  HMI dengan berbagai cara dengan salah satu diantaranya mampu menjadi seorang sejarahwan dalam organisasi HMI.  Dalam  fase  pembangunan  di  HMI  mulai  terbentuknya konstitusi/aturan sebagaimana Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) dalam HMI, sistematika perkaderan atau lebih familiar pedoman perkaderan, sampai adanya pembentukan lembaga pengembangan profesi (LPP) di HMI. Tidak kalah penting adalah perkaderan yang terarah untuk mengasah minat dan bakat agar kader HMI mempunyai kualifikasi pada bidang tertentu. Output yang diharapkan tentunya adalah setiap kader HMI mempunyai watak sebagai problem solver bukan politikus praktis apalagi problem maker.

Dinamisasi dalam tubuh HMI merupakan suatu respons terhadap dinamika kebangsaan.  Agaknya  perubahan  tersebut  mencirikan  komitmen  HMI  dalam upaya memberikan kontribusi bagi Indonesia lewat SDM nya. Sumber  daya  manusia  yang  ingin  di  keluarkan  HMI  lewat  perkaderan  yakni  terdapat ciri-ciri lima  kualitas  Insan  Cita.  Lima  kualitas  Insan  Cita  ini  merupakan aktualisasi  dari tujuan HMI  yang  tertera  di  dalam  Anggaran  Dasar  pasal  4 Terbinanya Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi, Yang Bernafaskan Islam dan  Bertanggung Jawab Atas Terwujudnya Masyarakat Adil Dan Makmur Yang Di  Ridhoi  Allah SWT.  Untuk  membentuk  5 kualitas Insan  Cita  ini,  di  butuhkan  kerja  keras  dan  perjuangan  yang  maksimal  dalam hal perkaderan.

Perkaderan di HMI memiliki jenjang terstruktur dan rapi. Mulai, LK 1 (Basic  Training), LK 2 (Intermediate Training), dan LK 3 (Advance Training). Sisi lain dari perkaderan di HMI adalah adanya penunjangan di bidang keprofesian. Lewat Lembaga Pengembangan Profesi (LPP).  Lembaga  ini  mempunyai basic pelatihan masing-masing atau yang lebih familiar disebut dengan Latihan Khusus (Laksus). lembaga-lembaga yang dimiliki HMI seperti diantaranya : Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI), Lembaga Ekonomi Mahasiswa Islam (LEMI), Lembaga Pendidikan Mahasiswa Islam (LAPENMI), Lembaga Kesehatan Mahasiswa  Islam (LKMI),  Lembaga Pariwisata Dan Pecinta Alam (LEPPAMI), Lembaga Seni Mahasiswa Islam (LSMI), Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum Mahasiswa Islam (LKBHMI),  Lembaga  Dakwah Mahasiswa Islam (LDMI), Lembaga  Teknologi  Mahasiswa  Islam  (LTMI), dsb.  Dari  sini,  HMI  banyak  tokoh-tokoh  nasional  yang  di  lahirkan.  Tokoh-tokoh  intelektual, politik, pembisnis, sampai keagamaan. ambil contohnya, Nurcholis Madjid, Achmad Wahib, Dawam Rahardjo, Jusuf  Kalla, Akbar Tanjung, Anis Baswedan, Mahfud MD, Azyumardi Azra, dan Abu Bakar Ba’asyir dll.

HMI Dalam Era Milenial, ditandai dengan kemajuan dan ketatnya persaingan tekhnologi. Zaman ini menjadi penanda munculnya kemajuan sebuah peradaban. Secara  teoritis akhir dari reformasi eropa mengatakan bahwa evolusi paradigma dari Kosmosentri, Theosentris, Antroposentris. Memasuki abad ke 21 munculah paradigma baru yakni Tekhnosentris.  Pada  giliranya akan menggantikan Antroposentris ke Tekhnosentris sebagai timbangan pusat peradaban. Jika kita mengkaji ini saya teringat oleh Alvin tofler mengingatkan kita pada munculnya tiga step gelombang peradaban. Yakni pertanian, industri dan informasi. Gelombang informasi inilah sebagai akses teknologi.

Dalam realitasnya seakan dunia semakin sempit. Tanpa adanya sebuah batas garis teritorial tertentu dan bisa mengakses informasi apapun. Kapanpun dan dimanapun era teknologi juga mengaharuskan manusia untuk bersaing. Dalam hal ini pemenangnya adalah kreatifitas dan inovasi. Selanjutnya yang menjadi pertanyaan lebih keras adalah bagaimana HMI merespon tantangan ini? Namun  pada  kenyataanya  eksitensi  HMI  tergerus  oleh  perkembangan zaman. Bahkan dari tahun 2000an sampai hari ini, HMI tidak mampu mencetak tokoh-tokoh intelektual atau Nasional.

Mengingat hal ini, perlu adanya formulasi dan terobosan baru perkaderan di zaman  milenial seperti ini. Sesuatu keharusan adanya kepahaman dan internalisasi 5 kualitas insan cita pada diri kader dimana juga menjadi ciri khas Nilai identitas kader untuk berproses di HMI baik secara struktural maupun fungsional. Konsekuensi logis dari adanya fenomena  ini,  kader  HMI harus mempunyai skill (kemampuan), agar bisa bersaing dan meraih cita-cita yang diharapkannya. Masa depan HMI terletak pada eksistensi, dan eksistensi HMI berkaitan erat dengan output yang di keluarkan. Realitanya output yang di keluarkan HMI hari ini secara garis besar adalah orang-orang yang mempunyai orientasi dalam politik. Untuk itu mengimbanginya, perlu membentuk output yang siap survive di berbagai bidang. Misalnya :  di bidang Jurnalis, dakwah, teknologi, kesehatan, ekonomi, pendidikan dsb.

Perkaderan di HMI haruslah menjawab tantangan ini. Beberapa hal yang patut menjadi PR bersama, dalam hal individual, internalisasi nilai-nilai yang di upayakan dalam tujuan HMI pada (AD pasal 4) harus menjadi ruh dan marwah perkaderan. Profil kader HMI,  haruslah mampu menjadi Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso dan tut wuri handayani. sosok yang mampu sebagai patron perkaderan dan religius dalam tanda kutip selalu berpikiran kemajuan dan loyalis yang mampu mengejawantahkan terhadap nilai-nilai kegamaan yang tertuang dalam tafsir asas, sifat, peran, fungsi, tujuan maupun dalam NDP, bebas dari new jahiliah (kemunduran), kader HMI haruslah selalu menyandarkan pada sisi intelektualitasnya, dalam hal ini menjadi fokus utama. Karena basis intelektualitas adalah instrumen bagi majunya para setiap kader untuk menciptakan hal-hal yang  baru (kreatif dan inovasi). Memiliki paradigma solutif untuk memberikan solusi-solusi terhadap  permasalahan  kebangsaan dan keumatan. Serta memiliki keahlian dalam profesi yang jelas guna  mengupayakan kader HMI berkontribusi dalam memajukan kehidupan umat dan bangsa.

Dalam Konstitusi HMI harus adanya pembenahan di dalam tubuh HMI sendiri. Agenda besar yang harus dituntaskan HMI. Pertama : merubah internal para kader HMI yang  berorientasi pada politik yang menjadi mainstream dari hari ke hari dan menjadikan para kader yang punya daya inovasi dan kreatifitas. Oleh karenanya pemetaan lewat pengkajian dan penilitian  potensi kader kepada sebuah keberanian berinovasi. Perkaderan HMI harus  disesuaikan dengan bakat dan minat para kader. Yang dimana harapannya nanti menjadikan semangat dan dorongan dalam hal berproses dalam himpunan ini. Kedua : Mengembalikan  budaya intelektual di HMI itu sendiri. Menjadi suatu keharusan bila HMI tak ingin menjadi  korban  kemajuan. Ketiga : memaksimalkan dan mengoptimalkan lembaga pengembangan profesi.  Sadar atau tidak sebenarnya daya tawar HMI hari ini terletak pada Lembaga Pengembangan Profesinya. Tentunya ini tidak berlebihan, karena zaman milenial  ini  yang  dibutuhkan adalah profesi dan inovasi. Dimana hal tersebut diiringi banyaknya mahasiswa yang semakin jenuh dan bosan setelah berkuliah dalam kelas mendapatkan hal-hal yang sifatnya teoritis dan berorganisasi pun juga menemukan hal-hal yang sifatnya teoritis yang membuat mahasiswa semakin bosan dan menjadi kendala lain yaitu tentang penugasan dimana kurikulum sekarang yang menurut saya sangat tidak seimbang yang hanya mengedepankan aspek kognitif nya saja tanpa memperhatikan, dan mempertimbangkanaspek afektif dan psikomotoriknya. Lewat  LPP  inilah pembinaan dan pembentukan output HMI akan jelas. Untuk mewujudkan hal tersebut adanya perkaderan di LPP yang sitematis terarah dan terstrukur harus dilakukan. Maka dari itu perlu adanya setiap komisariat, cabang, badko, hingga PB HMI paham dan menguasai betul tentang pedoman perkaderan dan skema perkaderan. Dan pelatihan seperti “Senior Course” juga perlu diikuti. Dengan adanya suatu komisariat yang banyak dalam ruang lingkup cabang harus juga diimbangi dengan seorang tenaga Instruktur yang banyak pula. Untuk ini adanya kurikulum serta metode yang jelas yang dibutuhkan dalam setiap pelatihan di HMI. Sedianya harus menggandeng Badan  Penglola Latihan (BPL) dan Pembinaan Anggota.

Kemampuan di berbagai bidang ini haruslah disadari, agar konsensus HMI untuk  membangun bangsa tetap menjadi garis utama perjuangannya. Apalagi dalam kemelut era milenial kita disuguhkan berbagai situasi dengan bonus demografi, digitalisai dsb. Bukan hal yang mustahil jika beberapa solusi diatas di laksanakan maka HMI akan menjadi organisasi yang siap bersaing dalam menjawab tantangan zaman. bukan sebaliknya

HMI sudah terbukti mampu bertahan dari tantangan dan hantaman yang berasal dari luar dan kedepan mampukah HMI menghadapi tantangan yang berasal dari dalam tubuhnya sendiri? Yang bisa menjawab adalah segenap pengurus HMI dari Pengurus Besar sampai dengan komisariat dan tentunya seluruh kader HMI yang masih mencintai Himpunan ini. Kecintaan yang besar dari segenap keluarga besar Hijau Hitam semoga tidak mengurangi keobjektivitasan untuk mengkritisi segala kekurangan yang ada di Himpunan ini dan membenahi untuk kemajuan umat dan bangsa.

Salam hormat dan angkat topi dari saya pada setiap kader yang masih menjalankan roda organisasi dengan secara Ikhlas dan Niat Ingsun Belajar. Semangat Berhimpun.


Pipin Cakaba1 May, 2019
IMG_20190430_220858_HHT-1280x720.jpg

3min590

Lapmi | Kab.Bandung- Kegiatan Intermediate Training Latihan Kader dua, Himpunan Mahasiswa Islam (LK 2 HMI) Cabang Kabupaten Bandung yang dibuka pada hari Rabu (24/04/2019). Rangkaian kegiatan tersebut pun berlangsung dengan lancar. Dari hari Rabu sampai sepekan kedepan, penghujung acara dilaksanakan pada hari Selasa, (30/04/2019) pelaksanaan closing ceremoni LK 2 tersebut.

Kemudian, setelah 44 orang peserta dinyatakan lulus tahap akhir selama 7 hari mengikuti pelatihan. Berbagai aspek penilaian dalam pelaksanaannya mulai dari aspek Afektif, aspek Kognitif dan aspek Psikomotorik. Sudah sesuai dan tertera dalam pedoman perkaderan HMI. Surat Kelulusan Peserta LK 2 dengan No : ist/kpts/motlk2cakaba/08/1440 yang dibacakan oleh Wildan Romadhon selaku salah satu tim pengelola (Master Of Training) pada kegiatan LK 2 tersebut.

Ardi, selaku Ketua Pelaksana yang mengemukakan keberlangsungan kegiatan LK 2 selama sepekan, “Alhamdulillah, di penghujung acara ini yang sebelumnya dibuka pada tanggal 24 sampai akhir acara pada tanggal 30, dalam keberlangsungan acara ini tidak begitu banyak masalah yang signifikan, meski sempat ada beberapa peserta yang tidak enak badan namun hal itu bisa sigap segera ditangani sehingga tidak ada kendala yang tak teratasi Alhamdulillah serta ucapan terimakasih kepada pihak-pihak yang sudah berkenan membantu mensukseskan agenda tersebut” ucapnya, di Graha Emerald, Jl. Cimuncang No. 30/32, Padasuka, Cibeunying Kidul, Kota Bandung.

Doc. LK 2 HMI Cakaba, dari sebelah sisi kanan digambar Abnu Malik MOT, Khoirul Anam Gumilar Winata Ketua BADKO HMI Jabar, Asep Taufiqurrahman Ketua Umum HMI Cakaba, dan sampingnya Ardi Ketua OC.

Selanjutnya, sambutan dari Asep Taufiqurrahman selaku Ketua Umum HMI Cakaba, mengatakan, “HMI dengan apapun maknanya begitu pula kepanjangan, hingga Harapan Masyarakat Indonesia, dengan begitu harus mampu memberikan gagasan dan solusi kongkrit bagi permasalahan umat dan bangsa selepas training LK 2 ini, kawan-kawan harus mampu memunculkan gagasan, ide, tersebut sebagai kader umat dan bangsa” ucapnya.

Turut hadir Khoirul Anam Gumilar Winata selaku Ketua Umum Badan Koordinasi (BADKO) HMI Jawa Barat pada kesempatannya hadir sekaligus memberikan sambutan di agenda penutupan LK 2 HMI Cabang Kabupaten Tersebut.

“Dari momentum kaderisasi formal LK 2 ini ada yang kawan-kawan dapatkan dan amalkan ialah momentum silaturahmi karena pada hakikatnya berhimpun itu yakni melakukan silaturahmi”, ucapnya.

Kemudian, Khoirul Anam menerangkan bahwasanya, potensi temen-temen yang di godog dari cabangnya masing-masing, di komisariatnya bahkan di didik oleh para master of training, sehingga memiliki etitude yang baik, apalagi di era globalisasi pasca reformasi, digitalisasi ini, harus lebih mengedepankan intelektual, etika, bahkan saat ini di era media sosial berkemajuan diharapkan dua modal awal tersebut untuk berkehidupan di organisasi, pula untuk umat dan bangsa.

Bahkan, Anam menegaskan hal yang sama dengan apa yang disampaikan oleh Asep Taufiqurrahman Ketua Umum Cakaba, “bahwasanya betul, selepas LK 2 ini bukan untuk bergagahan, tapi harus mengedepankan silaturahmi, intelektual dan etika untuk berkehidupan bermasyarakat” tandasnya.

 


Pipin Cakaba30 April, 2019
IMG-20190430-WA0014.jpg

12min730

Oleh: Naufal Y. Anggaraspati

(Ketua Umum HMI Komisariat Psikologi, Cakaba)

Berangkat dari sebuah asumsi tentang kepimimpinan yang erat kaitannya membuka sudut pandang kita yakni, bagaimana relasi kekuasaan menimbulkan berbagai gejolak sosial, ekonomi, politik, hukum dan lain sebagainya. Seringkali kita saksikan dimedia akhir-akhir ini, di mana isu-isu politik menjadi sumber pertikaian dalam gelanggang arena perebutan kekuasaan.

Bahkan, mengkhawatirkan di saat budaya bangsa marak terjadi kompetisi pemenuhan hasrat kekuasaan, karena tidak lagi melihat subtansi masalah dari dominasi sistem multi-international yang mendorong Negara menjadi semakin liberal akibat dari pengaruh global yang mengantarkan umat manusia menghendaki kehidupan tunduk ditangan pasar. Menurut Giddens (2004), ‘dengan munculnya modernisasi, refleksitas memiliki karakter yang berbeda. Ia dimasukkan kedalam basis produksi sistem’.

Sebagian pemikir menganggap modernisasi hadir sebagai upaya kreativitas manusia dalam mencari jalan mengatasi kesulitan hidupnya di Dunia. Mesti diakui bahwa modernisasi sebagai anak kandung sejarah yang tak mungkin terhindarkan. Akan tetapi, tahap perkembangan sejarah manusia yang sedang berlangsung di zaman modern itu bukan berarti tanpa masalah, bahkan masalah  yang timbul pada perkembangannya tidak bersifat netral.

Selain itu juga, konsep medernisasi berjalan seiring gagasan-gagasan dasar neoliberalisme yang bergerak dalam sektor kekuatan Ekonomi-Politik. Saat ini telah di letakkan program berbasis pasar yang berujung ketimpangan sosial tidak merata. Konsep ini sebagian masyarakat miskin dunia menderita, akibat strategi penciptaan akar kebijakan yang berasimilasi pada intervensi kepentingan politik  terhadap sistem Negara, yang kemudian ditentukan oleh Bank Dunia, Internasional Monetary Found (IMF), Bantuan Pembangunan Resmi (Official development Assistance/ODA) dan juga kontrol perdagangan Dunia dari WTO.  Nampak jelas hanyalah karya-karya yang diprakarsai oleh perusahaan pada tatanan kemajuan pembangunan. Mengutip ayahanda Nurcholish Madjid (Doktrin Islam dan Peradaban), ‘dengan tibanya Zaman teknik itu, umat manusia tidak lagi di hadapkan pada persoalan kulturalnya sendiri secara terpisah dan berkembang secara ekonomi dari yang lain, tapi terpotong menuju masyarakat dunia (global) yang terdiri dari berbagai suku bangsa yang erat berhubungan satu sama lain. Sementara itu, suatu hipotesis yang terjadi misalnya,  jika modernisasi itu lahir dari kalangan bangsa-bangsa Muslim, mungkin konsep Negara-negara itu tidak akan menjadi unsur keharusan modernitas, mengingat kecenderungan islam kepada kosmopolitanisme. Dari pangkuan Islam, pada peringkat ekonomi, misalnya, mungkin yang lahir bukanlah sistem kapitalisme nasional yang antara lain berakibat kolonialisme dan imperialisme itu, tetapi sesuatu yang mirip dengan sistem multi-nasional Corporations sekarang ini dengan beberapa modifikasi’’.

Jauh hari Jhon Short (2001), juga menjelaskan bahwa di fase ketiga perjalanan globalisasi membawa wujud Global Agenda (agenda global) yang menciptakan konsep pembangunan (Golbal production, global market, and global finance) yang berakhir dengan penciptaan eokonomi global (Economic Globalization).

Yang menarik dari global agenda dihampir setiap negara-negara dunia ketiga adalah adanya gerakan neokolonialisme menghantui perjalanan bangsa-bangsa yang berusaha ingin maju. Namun, kita ketahui bahwa neokolonialisme merupakan cara penguasaan negara kolonial tetapi, tidak langsung dari penjajah. Eksploitasi itu dilakukan dari dalam negara itu sendiri. Siapa yang menggerakkannya?. Tak lain adalah elit pengambil kebijakan yang berkongsi dan disetir oleh tuannya (penjajah).

 

Meretas Atau Justru Menjauh?

Berkaca kepada realitas yang ada itu merupakan wujud kesadaran bagi gerakan para intelektual muda HmI untuk andil dan bersikap mengawal arah perjalanan bangsa. Bersikap berarti berani bertindak dan merefleksi periode terhadap rezim, tentang cita-cita bangsa dan kehendak rakyat. Dengan tulus penulis mengakui bahwa demokrasi kita masih saja cacat. Melalui gempuran media, kita mencoba menyaksikan aneka ragam peristiwa yang menimpah jutaan warga negara, menyangkut orang miskin yang ditelantarkan di negeri sendiri, tentang orang miskin yang terus saja direpresif oleh aparatus negara yang bekerja dengan gagah  berani, tentang budaya gusur kerap kali menjadi perhatian publik.

Menyedihkan lagi ketika rakyat harus berhadapan dengan negara dari berbagai asumsi kebijakan, sementara di sisi lain penguasa euforia dalam korupsi berjamaah. Selama tengah tahun pertama 2015, indonesia Corruption Watch (ICW) memantau 308 kasus dengan 590 orang tersangka. Total potensi kerugian negara dari kasus-kasus ini mencapai 1,2 triliun rupiah dan potensi suap sebesar 457,3 miliar rupiah. Sebelumnya, akhir tahun 2014 ICW merilis sebanyak 48 anggota legeslatif terpilih 2014-2019 tersangkut perkara korupsi, dan dari data Kementrian Dalam Negeri menyebutkan, terdapat 3.169 anggota DPRD se-Indonesia tersangkut korupsi selama kurung waktu 2004-2014. Sejak periode 2010-2015 tersebut apabila dinominalkan mencapai Rp29,3 triliun.

Akankah realitas ini terus berlarut-larut dan tampil sebagai tontonan pahit bagi anak-anak bangsa?. ( www.antikorupsi.org )

Dalam berbagai polemik yang sedang menimpa tanah air, baik dari aspek ekonomi, sosial, budaya, dan hukum, dll, itu telah terorganisir banyak meremangkan kehidupan kaum lemah (Mustada’affin). Kaum miskin menjadi tuna segalanya; tak bisa mendapat pekerjaan, tak mampu membayar biaya pendidikan dan harus mengais-ngais demi memperoleh kesehatan gratis.

Betapa ambruknya kekuasaan yang melanda bangsa kita, gesekan kepentingan seolah menciptkan ‘komedi politik’ yang memaksa rakyat menanggung segala kebijakan. Nasionalisme ikut tergadai lantaran ditukar dengan kepentingan yang tidak pro dibasis rakyat.

 

Himpunan Mahasiswa Islam

Berbagai harapan dan sejumlah tantangan bagi umat muslim Indonesia dari akumulasi model kekuasaan yang ada. Hal ini merupakan kendala yang begitu sulit bagi kader-kader HmI yang menginginkan model kepeminpinan yang dapat konsisten mengawal dan menjalankan komitmen perjuangan organisasi.

HmI merupakan  organisasi berasaskan Islam, yang pada saat kelahiranya para pendirinya tidak tinggal diam, tergerak merapatkan barisan karena prihatin terhadap kondisi Kebangsaan, Keummatan, dan Kemahasiswaan yang timpang di zamannya. Maka, esensi HmI dalam muatan doktrin kelembagaan di masa sekarang sangatlah mengisyaratkan lahirnya seorang kader yang memiliki ide-ide cemerlang dan punya narasi intelektual secara kritis, imajiner,  serta mengikuti petkembangan zaman, kemudian berani menampik setiap kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. Bagi Ali Syariati (1972), ‘Islam adalah wadah bagi orang-orang yang tercerabut haknya, yang tersisa, lapar, tertindas, dan terdiskriminasi’’.

Dalam konsep penegasan justru Islam diturunkan agar merubah tatanan sosial yang kacau. Rasulullah Saw sebagai utusan Tuhan diturunkan mengubah nilai-nilai eksploitatatif yang sangat Jahilliyah. Tradisi dibangun secara damai bersama para sahabat dengan meletakkan prinsip dasar kemanusiaan, kemudian menitiberatkan perlawanan terhadap budaya penindasan (dehumanisasi) yang di alami manusia saat itu. Islam jangan sekedar ditafsir hanya sebagai formula trasenden yang bersifat abstrak dan melangit dari nilai dan kepercayaan agama secara objektif. Selain sisi spiritual (trasendental) pesan ‘Islam adalah pesan kerakyatan’.

HmI sebagai organisasi perjuangan sebaiknya produktif merespon segala hal. Keberpihakan itu diwujudkan secara umum pada transformasi sosial yang lebih nyata sebagai sebuah hasil karya.

Kita tak boleh menjadi kelompok seperti kaum pesimis yang memiliki hidup tak bermakna dan tak punya tujuan. Menjunjung tinggi derajat persamaan itu Islam ribuan tahun yang lampau Baginda Rasulullah saw telah menitipkan kepada kita umatnya serta bagaimana kesanggupan seorang pribadi untuk bisa melepaskan diri dari belenggu tiranik, diktator, dan serakah harta. Ini merupakan satu langkah awal pembebasan sosial dari ajaran Islam.

Kepemimpinan merupakan instrumen penting dalam pembangunan organisasi untuk mampu memberi sedikit bangunan gagasan dalam kelembagaan. Karakteristik fungsional internal dan karateristik fungsional eksternal dari kepemimpinan wajib diterapkan  sikap perlakuan yang bercermin pada landasan filosofi (epistimologi) organisasi bagi segenap kader-kader agar pengetahuan yang didapatkan tidak basi atau tidak sekedar berdengung dalam ruang simbolik dan normatif.

Kepemimpinan itu hanya bisa terwujud jika paradigma organisasi sejalan dengan warna kebudayaan dan semangat kebangsaan, tidak sekedar menafsir masyarakat miskin sebagai bahan diskusi dan bagian program yang bisa memberi kentungan berlipat-lipat, akan tetapi bendera organisasi cenderung membentuk proses kemanusiaan yang lebih adil dan makmur lewat mesin perkaderan yang utuh.

HmI merupakan lembaga organisasi yang memiliki kekuatan doktrin terhadap nilai-nilai agama, sosial, dan budaya bangsa. Bentuk penguatan tersebut bisa dibaca dari Nilai Dasar Perjuangan (NDP). Mengingat masa sekarang semakin memiliki tatangan berat, sehingga bagi pribadi seorang pemimpin yang berniat baik itu ketika tergerak hatinya melihat sistem eksploitatif kemudian melakukan tindakan. Dalam Firman-Nya;

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik)” (Al Maidah 5:5)

Dalam kelangkaan pemimpin bangsa yang berhati mulia, bagi mereka yang tidak mapan secara ekonomi harus kalah merenungi nasib karena tak mampu bersaing menghadapi kuasa modal, sehingga dari sinilah muncul suatu desakan bagi generasi keluarga hijau hitam agar kedepannya dapat memilih pemimpin yang bermoral dan mampu memegang amanah, prinsip, loyalitas, dan komitmen perjuangan organisasi. Pemimpin yang siap memproteksi kebijakan pemerintah dan dapat diharapkan jadi ‘tokoh’ teladan nasional.

Secara spesifik, pemimpin HmI yang berpegang teguh terhadap aturan main organisasi; Anggaran Dasar (AD), Anggaran Rumah Tangga (ART), serta punya kekuatan dan ide cemerlang dalam mewujudkan ‘tujuan’ HmI agar kebijakan atau keputusan diambil tidak lagi tumpang tindih pada struktur organisasi atau menemui jalan buntu.

Kelemahan wajah HmI dapat kita saksikan di berbagai masa kepengurusan, ketika beberapa kepengurusan lembaga terpecah karena keputusan Ketum PB HmI (Arif Rosyid) menjual aset sejarah- Sekretariat Dipo 16A, yang sebelumnya tidak terpikir matang. Betapa pilu dan menyayat hati kader-kader HmI yang paham arti perjuangan dan kedalaman sejarah sekretariat Dipo 16A. Aset sejarah HmI yang dijual itu di sanalah rumah sejuta kenangan, rumah besar para tokoh HmI terhadulu, rumah pergolakan pemikiran yang banyak melahirkan tokoh-tokoh besar di dalamnya (cendikiawan-politisi-budayawan), dan rumah yang tak bisa dinilai dengan angka-angka.

Secara historis langkah ini akan menjadi catatan penting bagi internal organisasi HmI, kemudian secara eksternal HmI kehilangan wibawa, meruntuhkan marwah kebesaran, dan mencoreng citra terhadap oragnisasi lain di luar HmI. Hal ini memaksa seluruh kader-kader HmI bahu membahu membenahi dan membangun kembali nama baik organisasi apapun kenyataan yang terjadi.

Kini, HmI merindukan lahirnya sosok  pemimpin yang memiliki mental kuat serta punya legitimasi moral. Pemimpin yang  memprioritaskan citra positif terhadap nasib perjalanan bangsa. Tidak sekedar berada dalam struktur namun, lebih dari itu selalu ingin berkontribusi mengharumkan nama besar organisasi. Pemimpin yang punya kekuatan daya saing mengimbangi arus global dengan kecepatan berpikir. Pemimpin yang piawai memberi pengaruh kepada seluruh jajaran. Pemimpin yang teladan mengajari kepada sesama agar satu sama lain saling membesarkan. Tentu diharapakan mampu ‘berpikir global dengan prinsip kearifan lokal’.

 


Pipin Cakaba20 April, 2019
IMG-20190420-WA0025.jpg

2min440

Lapmi|Garut- Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat IPI, Cabang Garut dengan resmi dilantik. Agenda tersebut dihadiri oleh pengurus dan kader HMI Komisariat IPI, pengurus HMI Cabang Garut, Alumni serta hadir pula tamu undangan dari Organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Acara tersebut bertajuk “Bersinergi dalam mewujudkan kader yang berintegritas dan berkualitas Insan Cita”. Jum’at kemarin (19/04/30/2019) di Aula Dinas Pendidikan, Kabupaten Garut.

Doc. Saat sesi photo bersama HMI Cab.Garut, Kom. IPI

Selanjutnya, Ramdani selaku ketua pelaksana agenda pelantikan tersebut, mengungkapkan “dilaksanakan acara ini bukan sekedar menjadi prosesi pelantikan saja, melainkan bertujuan untuk mewujudkan Organisasi yang progresif, mampu menciptakan calon-calon pemimpin yang berkualitas dapat menjalankan amanah konstitusi HMI serta dapat bersinergi dalam mencipta kader yang berintegritas memilih kualitas insan cita”, ungkapnya.

Kemudian mendapat tanggapan baik dari Muhammad Hasanuddin selaku perwakilan Pengurus HMI Cabang Garut, dalam kesempatan itu dapat hadir. Ia menyampaikan “acara ini luar biasa, semangat kader yang luar biasa pula ditambah lagi dengan adanya stadium general, semoga tema yang tertera itu mampu diimplementasikan oleh kader-kader dalam berkehidupan beragama, berbangsa dan bernegara”, pungkasnya.

Kemudian, Nurmin Dewo selaku ketua komisariat IPI yang anyar dilantik tersebut, mengungkapkan, “saya tekankan HMI Komisariat IPI harus terus konsisten untuk melakukan pengkaderan, karena proses kaderisasi dimulai dari komisariat, lalu kedepannya saya akan membangun komisariat dengan metode komunikasi dan koordinasi supaya tidak terjadi konflik-konflik horizontal organisasi yang selalu jadi permasalahan”, ucapnya.

Nurmin Dewo, menambahkan, “komunikasi menjadi keharusan bagi kita, karena sebagai sebuah organisasi yang memiliki intruksi dan jalur koordinasi yang baik. Kemudian untuk kader, sebagai pengurus akan lebih memprioritaskan dan fokus terhadap potensi-potensi yang ada pada diri kader, sehingga bisa menciptakan kader hmi yang berprestasi serta bermanfaat bagi umat dan bangsa sebagaimana sesuai dengan mission HMI”, tambahnya.

 

(Rifatul Sadiyah)


Pipin Cakaba11 April, 2019
IMG-20190411-WA0014.jpg

3min300

Lapmi | Kab. Bandung- Pembukaan kegiatan Basic Trainning, Latihan Kader (LK 1) Komisariat Dakwah dan Komunikasi HMI Cabang Kabupaten Bandung yang mengusung tema “Terbinanya kepribadian muslim yang berkualitas akademis sadar akan fungsi dan peranannya dalam organisasi serta hak dan kewajibannya sebagi kader umat dan kader bangsa” Kamis (11/04/2019) di Pusat Kegiatan, Permai V, Cibiru, Bandung. Kegiatan tersebut diihadiri oleh sejumlah peserta perwakilan dari Mahasiswa berbagai jurusan di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.

 

Kemudian turut hadir pula, Gery selaku perwakilan fungsionaris HMI Cakaba. Dr. Khoirudin, selaku perwakilan dari Korp Alumni HMI, (KAHMI), juga berbagai tamu undangan dari berbagai Komisariat ruang lingkup HMI Cakaba.

 

Selanjutnya, 21 Peserta yang di nyatakan lulus pada tahap awal interview calon kader. Sama seperti yang disampaikan, Maulana Santos, selaku Ketua Organizzing Comitte (OC) mengatakan, “tercatat pada 11 Maret 2019  dibentuk panitia OC sejumlah 30 orang, dilanjutkan pembukaan stand di mulai sejak tanggal 13 Maret – 12 April 2019, sehingga peserta yang mendaftar  43 orang, kemudian peserta yang mengikuti screening (interview) yakni 25 orang, hingga terakhir yang tercatat hadir dalam pembukaan 21 orang”, ucapnya

 

Lalu di jelaskan oleh Rafli Resmana selaku Ketua Umum HMI Kom. Dakkom Cakaba, menyatakan bahwa “ada salah satu universitas di Indonesia yang disinyalir tidak ada organisasi HMI dan itu merupakan suatu kerugian bagi Universitas” pungkasnya.

 

Selanjutnya, Gerry selaku Sekertaris Umum HMI Cakaba, menegaskan “Di kampus tidaklah hanya membutuhkan ruang di kelas untuk menimba ilmu, melainkan diluar itu membutuhkan intelektual pula yakni salahsatunya dengan ber-HMI”, tegasnya.

 

Sama halnya dengan Dr. Khoerudin selaku KAHMI, mengatakan, “semasa perkaderan di HMI sangat membantu dan membangun jaringan berorganisasi dan saya merasa di besarkan dan harus berkontribusi di HMI, tidak akan rugi” ujarnya saat menyampaikan sambutan.

 

Bahkan Dr. Ujang Sapuloh, memotivasi para calon Kader, ia mengatakan, “kondisi HMI hari ini tidak semangat seperti dulu karna mahasiswa hari ini banyak yang pragmatis dari pada idealis, dan bagaimana kita bisa merekrut anggota/calon kader supaya menumbuhkan semangat ber-HMI, itu yang harusnya difikirkan oleh bersama”, tutupnya. Saat menyampaikan stadium general. (Evi)


Pipin Cakaba17 March, 2019
cropped-logooo.png

2min470

Lapmi | Tasikmalaya- Agenda Rapat Pleno 2 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tasikmalaya berhasil menambah komisariat menjadi 9 komisariat. Pada rapat pleno 2 HMI Cabang Tidak, Komisariat Persiapan Universitas Perjuangan (UNPER) di kukuhkan, Minggu malam (17/03/2019).

Doc. Rapat Pleno 2 HMI Cbg Tasikmalaya

Agenda Rapat Pleno tersebut dilaksanakan selama 2 hari,  pada hari sabtu-minggu tetanggal 16 – 17 maret 2019, yang bertempat di Aula Sekretariat HMI Cabang Tasikmalaya, Jl. Sutisna Senjaya no.41. Pleno 2 HMI Cabang Ya ini pun diikuti oleh 7 komisariat diantaranya Komisariat STAI, Hasan Basri,  Unsil, Lafran, STIA, STISIP, dan Singaparna Cipasung.

 

Menurut Ketua umum HMI Cabang Tasikmlaya Fikri Zulfikar, mengatakan, “Bertambahnya Komisariat di HMI Cabang Tasikmalaya adalah bentuk keseriusan kaderisasi dari seluruh anggota HMI Cabang Tasikmalaya, kedepan kami akan membentuk beberapa lagi komisariat di seluruh perguruan tinggi di Wilayah Tasikmalaya”, ucap Fikri.

 

Resminya UNPER menjadi Komisariat persiapan HMI Cabang Tasikmalaya ini. Maka akan lebih progres lagi HMI Cabang Tasikmalaya dalam merekrut anggota baru guna menghasilkan benih pemimpin Umat dan Bangsa sesuai denga misi HMI.

 

Berikut pula penuturan Fikri “semoga kaderisasi ini menjadi sebuah amanah yang dapat terus di emban untuk kedepannya, agar HMI Cabang Tasikmalaya semakin berkembang dan maju” tutupnya.

 

Kontributor : Pipin LH


Pipin Cakaba13 March, 2019
IMG-20190313-WA0004-1.jpg

3min520

 

Lapmi | Jakarta – Pengurus Korps HMI-Wati Himpunan Mahasiswa Islam (KOHATI) cabang Jakarta Pusat-Utara mempunyai nahkoda baru melalui Musyawarah Kohati Cabang (Muskohcab) ke-X di Gedung Cilosari 17, Menteng, Jakarta Pusat. Hasil dari Muskohcab ke-X itu melahirkan pemimpin baru yaitu Iyang Parangi sebagai Ketua Umum Kohati cabang Jakarta Pusat-Utara periode 2019-2020.

“Alhamdulillah,saya merasa lega dan saya mengucapkan selamat mengemban amanah baru kepada adinda Iyang sebagai ketua umum kohati. Semoga dibawah kepemimpinan adinda Iyang, Kohati Jakarta Pusat-Utara bisa lebih berwarna. Yang ingin saya tegaskan bahwa, hasil dari Muskohcab yang dilaksanakan pada hari Jumat, 14 Desember 2018 yang bertempatan di Gedung Cilosari 17, Menteng jakpus hanya menghasilkan 1 Formatuer dan mide formatuer Kohati cab. Jakpustara,” ujar Sri Irawati selaku Ketua Umum Demisioner Kohati cabang Jakarta Pusat-Utara.

Ira menambahkan bahwa sekali lagi saya tegaskan bahwa saya hanya melaksanakan 1 forum Muskoh. “Jadi apabila hari ini ada kabar bahwa Kohati Jakpustara dualisme, sesungguhnya itu adalah fitnah yang sangat keji. Kenapa saya berkata demikian, sebab saya hanya melaksanakan Muskohcab satu kali dalam masa kepengurusan saya,” Katanya

“Jika kedepanya ada yang mengaku bahwa dia adalah Ketumkoh jakpustara periode 2019-2020,maka saya minta dengan hormat kepada semua pihak tolong buatkan forum terbuka dan pertemukan saya dengan orang yang mengaku sebagai ketumkoh Jakpustara,” tegas Ira.

Ia menjelaskan hanya orang ‘gila’ yang mengaku demikian tanpa ada mekanisme yang jelas. “Segala sesuatu ada prosesnya, ada tahapanya, ada aturan mainnya. Bukan tiba-tiba mengaku jadi Ketumkoh tanpa ada mekanisme yang jelas,” tuturnya.

Ira mengatakan seperti apa yang disampaikan Ayunda ketumkoh PB HMI, Siti Fatimah Siagian yang sempat hadir dalam pelantikan sekaligus mengisi stadium general pengurus korps HMI-Wati cab Jakpustara periode 2019-2020 “Kalau klaim harus yang berkualitas dong, masa udah klaim tapi ga berkualitas”.

“Saya berharap kepada semua pihak, terutama pengurus HMI Cabang Jakarta Pusat-Utara periode 2019-2020,bahwa kawal selalu setiap agenda Kohati dan lindungi kohati Jakpustara sampai ke dasar hatinya. Akhir kata, saya titipkan pesan kepada adinda Iyang selaku Ketua Umum Kohati yang baru,” Katanya

Saya titip Kohati Jakpustara, tolong untuk dirawat dan dijaga. Dan semangat selalu untuk kepengurusan kedepannya. Tetap Kokoh walau diterjang masalah apapun. Bahagia HMI Jayalah kohati,” tutup Ira.

Gahara Kumala selaku Direktur Bidang Administrasi dan Hubungan Internal BAKORNAS LAPMI PB HMI 2018-2020 menambahkan bahwa Jabatan Ketua Umum seharusnya merupakan representasi dari keseluruhan anggota dalam organisasi tersebut.

“Bukan keterwakilan segelintir orang yang mengusungnya dengan tujuan dan target tertentu untuk mengusung sekelompok anggotanya untuk menguasai suatu system dan sub system yang lebih besar. Ketua Umum seharusnya adalah orang yang mewakili kata hati mayoritas anggotanya tanpa menyembunyikan tujuan pribadi yang membalut ambisi pribadi,” Kata Gahara


 



Sekilas Kami

Bakornas LAPMI PB HMI merupakan salah satu badan khusus di dalam tubuh organisasi HMI yang bersifat semi-otonom sebagai penyalur minat dan bakat anggota dan wahana pengembangan kader di bidang jurnalistik/pers (ART Pasal 44).


[email protected]

0816-766-496



Newsletter


Media Partner

Independensia.id