2019 July

Bring to the table win-win survival strategies to ensure proactive domination. At the end of the day, going forward, a new normal that has evolved from generation.
Pipin Cakaba25 July, 2019
IMG-20190725-WA0002.jpg

2min60

Lapmi | Tanjabbar – Musibah kebakaran yang kembali menghanguskan 6 buah rumah warga Kelurahan Teluk Nilau Kecamatan Pengabuan Kabupaten Tanjung Jabung Barat kemarin, Rabu (24/07/2019) pukul 10;00 Wib.

Doc. HMI Tanjabbar mengadakan aksi Galang dana/photo

Hal ini membuat para aktivis yang ada dikabupaten Tanjung Jabung Barat untuk melakukan aksi penggalangan dana untuk korban kebakaran, salah satunya adalah organisasi  Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Tanjung Jabung Barat.

Himpunan Mahasiswa Islam Cabang tanjung jabung barat memulai melakukan kegiatan aksi penggalangan pada hari ini Rabu s/d hari Jum’at nanti.

Fikri selaku Koordinator aksi penggalangan dana mengatankan, bahwa kegiatan ini dilakukan semata-mata untuk aksi kemanusian terkhusus untuk masyarakat teluk nilau yang terkena musibah.

“Alhamdulillah pada hari ini kita bisa melakukan penggalangan dana untuk keluarga kita yang sedang tertimpa musibah kebakaran yang terjadi diteluk nilau pagi tadi, Insya Allah kami lakukan sampai hari jum’at nanti” ujarnya

Selain itu fikri juga menambahkan bahwa selain penggalangan dana, mereka juga menerima sumbangan sembako ataupun barang yang bisa digunakan bagi korban yang tertimpa musibah.

“selain dana kami juga menerima sembako ataupun barang yang bisa digunakan bagi warga yang sedang mengalami musibah, jika ada warga yang ingin menyumbangkan sembako ataupun barang bisa menghubungi kami ataupun bisa langsung datang kesekretariat kami yang ada di Jl. Beringin, insya allah kami buka 24 jam.” Pungkasnya.

Hasil penggalangan dana yang di dapat oleh HMI Cabang Tanjung Jabung Barat berjumlah 1.400.000 dan pakaian 2 karung dari masyarakat  yang melintas di tempat penggalangan dana. (LukmanNurohim)


Pipin Cakaba25 July, 2019
PicsArt_07-24-10.29.53-1280x923.jpg

2min440

Lapmi | Bandung – Konferensi Cabang (Konfercab) Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Kabupaten Bandung resmi dibuka, kegiatan tersebut yang ke -17 kalinya dilaksanakaj oleh HMI Cakaba, bertajuk “Regenerasi Kepemimpinan dengan Semangat Keumatan dan Kebangsaan Upaya Mewujudkan Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Kabupaten Bandung yang Unggul, Kompetitif dan Berdaya Saing”, dengan penuh khidmat disaksikan oleh seluruh para kader HMI Cabang Kabupaten Bandung di Aula gedung Kecamatan Cibiru. Rabu malam (24/07/2019).

Doc. Saat pembacaan SK kepanitiaan Konfercab oleh perwakilan Bid. PAO Galang/photo

Hal tersebut guna sebagai estafeta kepemimpinan yang baru untuk HMI Cakaba kedepannya, kegiatan konfercab tersebut dihadiri oleh para fungsionaris pengurus cabang, KAHMI, dan ketua komisariat yang berada di lingkup cakaba serta para tamu undangan.

Doc. Ketua umum HMI Cakaba Asep Taufiqurrahman menyampaikan sambutannya/photo

Setelah pembukaan tersebut Ketua Umum HMI Cakaba, Asep Taufiqurrahman berharap agar kegiatan ini dijadikan sebagai ajang regenerasi kepimpinan yang lebih baik bukan untuk hanya berdinamika.

“Saya harap dalam konfercab ini bukan hanya dinamika yang diciptakan, namun ide dan gagasan juga yang mengisi jalannya konfercab yang bertujuan untuk melakukan regenerasi kepemimpinan yang jauh lebih baik.” Ujar Asep dalam sambutannya.

Selain itu, Presidium KAHMI Jawa Barat, Ayahanda Fauzan Ali Rasyid memberikan apresiasi pada kegiatan tersebut saat ia menyampaikan sambutannya dalam agenda pembukaan konfercab ke-17 HMI Cakaba.

“Dalam KonferCab ini buatlah sejarah yang dapat kalian ceritakan dan kalian kenang dimasa mendatang. Demi regenerasi kepemimpinan cabang yang lebih maju isilah momen ini dsrngan semangat keumatan yang unggul, kompetitif, dan berdaya saing untuk mencetak sejarah yang baru” tutup Fauzan selaku KAHMI dalam sambutannya. (Dandi)


Pipin Cakaba23 July, 2019
IMG-20190723-WA0010.jpg

3min380

Lapmi | Garut – 20 orang aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Garut berdemonstrasi di depan Gedung Kejaksaan Negeri Garut, mereka menuntut agar kapabilitas kejaksaan melaksanakan kuasa atas supremasi hukum. Pula Mewujudkan pemerintah Kab. Garut yang bersih.

Doc. Saat massa aksi HMI melakukan audiensi didepan gedung Kejari Garut/photo

Dalam aksinya, mahasiswa mengutarakan berbagai orasi. Menurut Ginan selaku danlap “ingin kesesuaian dengan amanat UU Nomor 16 tahun 2004 Tentang Kejaksaan Republik Indonesia. Selain itu kejaksaan juga memiliki doktrin TRI KRAMA ADHYAKSA, yakni SATYA Kesetiaan yang bersumber pada rasa jujur, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, terhadap diri pribadi dan keluarga maupun kepada sesama manusia. ADHI Kesempurnaan dalam bertugas dan berunsur utama pada rasa tanggung jawab terhadap Tuhan Yang Maha Esa, keluarga dan sesama manusia. WICAKSANA Bijaksana dalam tutur kata dan tingkah laku, khususnya dalam penerapan kekuasaan dan kewenangannya”, terangnya.

Selain itu, dari pihak demonstran berpendapat, kejaksaan dalam hal ini menjadi salah satu bagian penting dalam sistem peradilan pidana dan perdata di Indonesia, yaitu suatu sistem dalam masyarakat untuk menanggulangi kejahatan, dengan tujuan mencegah masyarakat menjadi korban kejahatan, menyelesaikan kasus kejahatan yang terjadi sehingga masyarakkat puas bahwa keadilan telah ditegakkan. Selasa (23/07/2019)

Dari pihak demonstran menuturkan bahwa yang terjadi hari ini, Kejari Garut seolah-olah melupakan tugas pokok dan fungsinya yang sudah termaktub dalam UU Nomor 16 Tahun 2004. Dimana saat ini kasus-kasus yang telah kerugian negara (khusunya masyarakat kab Garut) sebesar Rp.1,8 miliar pada tahun 2018. Tahun 2018 BPK mencatat Rp.1,8 Miliar terhadap kerugian negara tersebut, ditemukan temuan dari beberapa Dinas, Sebanyak 30 proyek.

Koordinator lapangan, Sandi mengatakan, “Antara lain dugaan korupsi dana hibah bantuan Provinsi Jabar tahun 2017 yang diterima Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (Bapusipda) Kabupaten Garut dan soal proyek pembangunan perbaikan jalan Cikelet, Mangkraknya revitalisasi pasar leles, Pembebasan lahan Pembangunan jalan baru di Kadungora, pembangunan sarana olah raga GOR serta kasus-kasus lainnya yang sedang ditangani oleh Kejari Garut masih dalam tanda tanya publik”, ujarnya.

Menurutnya, harus sesuai dengan Undang-Undang No 14 Tahun 2008, tentang Keterbukaan Informasi Publik, mewajibkan seluruh badan publik untuk dapat mengelola informasi publik. Pengelolaan informasi publik tersebut dimaksudkan agar mudah diakses oleh masyarakat. Diharapkan dapat mewujudkan penyelenggaraan negara yang baik, transparan, efektif dan efisien, akuntabel serta dapat dipertanggung jawabkan. Berdasarkan release yang disampaikan kepada redaksi Independensia.

Berikut berbagai layangan tuntutan dari Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Garut ;
1. Memberikan laporan kepada publik sudah sejauh mana proses hukum kasus-kasus yang sedang ditangani oleh Kejari Garut.
2. Usut tuntas semua kasus yang sedang ditangani oleh Kejari Garut.
3. Tindak tegas oknum-oknum yang diindikasikan bermain dalam kasus yang sedang ditangani oleh Kejari Garut sesuai dengan undang-undang yang berlaku.(rls)


AdministratorAdministrator20 July, 2019
WhatsApp-Image-2019-07-20-at-17.53.34-1.jpeg

1min190

Sukabumi |Independensia.id – Perkaderan adalah bahan bakar utama organisasi kader. Tanpa adanya perkaderan yang berkesinambungan, organisasi akan habis ditelan zaman. Inilah yang melatarbelakangi Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Perkaderan di Sukabumi, Jawa Barat pada Sabtu (20/7/2019) hingga Minggu (21/7/2019).


Pipin Cakaba18 July, 2019
IMG-20190718-WA0010.jpg

3min130

Lapmi | Jakarta – Melalui kegiatan Diskusi Grup Terfokus (FGD) yang digelar di Sekretariat PB HMI pada Kamis (18/7/2019), Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) menyoroti pentingnya peran generasi Milenial dalam pembangunan Indonesia di masa depan. Kegiatan ini merupakan program kerja bersama antara Bidang Riset Teknologi dan Bidang Industri Perdagangan.

“FGD ini merupakan kontribusi HMI dalam memberikan masukan substansial kepada Pemerintah bagi pembangunan Indonesia di masa depan,” ujar Arya Kharisma Hardy, PJS Ketua Umum PB HMI.

Kegiatan diskusi bertajuk “Strategi Generasi Milenial dalam Mendukung Kemandirian Riset Teknologi dan Industri Pembangunan Indonesia” ini menghadirkan M. Arief Rosyid, Faldo Maldini, Pradana Indra Putra, dan Rahmat Fikri sebagai narasumber serta dimoderatori oleh Risdianto Pattiwael.

Menurut Rahmat Fikri, Indonesia memiliki sumberdaya manusia yang cukup sebagai modal pembangunan. Selain itu, peluang juga sangat terbuka lebar. Hal krusial yang dibutuhkan adalah kebijakan yang tepat guna mengoptimalkan potensi tersebut. Selain itu, komitmen Pemerintah juga diperlukan dalam menghasilkan kebijakan afirmatif yang melindungi produk-produk nasional.

Sumberdaya manusia yang berkualitas, tambah Faldo Maldini, dihasilkan oleh kampus. Maka dari itu kampus pun jangan sampai ketinggalan dalam menghasilkan inovasi dan adopsi pengetahuan pengetahuan baru secara berkelanjutan.

Sementara menurut Arief Rosyid dan Pradana Indra Putra, generasi saat ini membutuhkan kemampuan untuk menyeleksi informasi agar tidak mudah terkena hoax. Generasi Milenial diharapkan lebih bijak menggunakan informasi.

Hary Sukma Pradinata, Ketua Bidang Riset dan Teknologi PB HMI, mengatakan bahwa diskusi kali ini adalah awalan. Setelah ini akan disusul oleh diskusi-diskusi lanjutan dengan tema lainnya yang akan menghadirkan para pakar kompeten. Keberlanjutan diskusi ini nantinya akan dirangkum menjadi suatu bentuk naskah rekomendasi yang akan disampaikan kepada Pemerintah.

“Nantinya akan dibuat naskah rekomendasi dalam bentuk buku ‘bunga rampai gagasan pembangunan’ sebagai kenang-kenangan kepengurusan di periode ini,” tandas Hadi Rusmanto, Ketua Bidang Industri dan Perdagangan PB HMI. (*)


Pipin Cakaba18 July, 2019
IMG-20190718-WA0001.jpg

1min220

Lapmi | Tanjabbar – Rapat Anggota Komisariat ke – II Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat hukum dan dakwah STAI An-Nadwah Kuala Tungkal. Kegiatan berlangsung di Sekretariat HMI Cabang Tanjung Jabung Barat, Rabu (18/07/2019).

Hasil RAK Kom. Hukum dan Dakwah menetapkan saudara Aqmal menjadi Formatur Ketua Umum HMI Komisariat Hukum dan Dakwah periode 2019-2020.

“tanpa ada dukungan kanda, yunda sekalian saya tidak ada apa apanya , semoga kepercayaan yg telah diberikan bisa saya kerjakan dengan baik untuk kom. Hukum dan dakwah periode 2019-2020” ucap Aqmal

sidang pleno yang dipimpin oleh M. ikhsan selaku stering comite (SC) RAK Komisariat hukum dan dakwah mengucapkan selamat kepada saudara aqmal yang terpilih menjadi ketua formatur HMI komisariat hukum dan dakwah.

“Semoga kedepannya HMI Komisariat hukum dan dakwah STAI An-nadwah lebih baik lagi. Dan semoga dengan nahkoda baru HMI Komisariat syariah makin berkembang kedepannya, dan yang terpenting adalah kekeluargaan, saling merangkul satu sama lain,” tutupnya

RAK HMI komisariat hukum dan dakwah dihadiri oleh Pengurus HMI Komisariat syariah serta pengurus HMI Komisariat Tarbiyah STAI An-nadwah Kuala tungkal.

Kegiatan RAK HMI Komisariat hukum dan dakwah dibuka langsung oleh Pengurus HMI Cabang Tanjung Jabung Barat, Najmul Hayat selaku Sekertaris Umum HMI Tanjabbar. (Dika)


Pipin Cakaba15 July, 2019
IMG-20190715-WA0006-1280x720.jpg

2min420

Lapmi | Tanjabbar – Rapat Anggota Komisariat ke – II Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Syariah STAI An-Nadwah Kuala Tungkal. Kegiatan berlangsung di Sekretariat HMI Cabang Tanjung Jabung Barat, senin (15/07/2019).

RAK HMI komisariat Syariah juga dihadiri oleh Pengurus HMI Komisariat dakwah dan hukum serta pengurus HMI Komisariat Tarbiyah STAI An-nadwah Kuala tungkal.

Kegiatan RAK HMI Komisariat Syariah dibuka langsung oleh  Pengurus HMI Cabang Tanjung Jabung Barat, Najmul Hayat selaku Sekertaris Umum HMI Tanjabbar.

Adapun hasil RAK nama tersebut menghasilkan keputusan Aldy Saputra menjadi Formatur terpilih Ketua Umum HMI Komisariat Syariah periode 2019-2020 dan saudara M Suryahadi sebagai Mide Formatur 1 dan Erwen Mide Formatur 2.

Agenda acara RAK berlangsung sehari yang mana sidang pleno dipimpin oleh Yondi saputra selaku stering comite (SC) RAK Komisariat syariah. Sekaligus pembuka sidang RAK HMI Kom. Syariah.

“Terima kasih kepada kawan – kawan sekalian yang telah memberikan kepercayaan kepada saya, menjadi Ketua Umum HMI Komisariat Syariah periode 2019-2020” kata Aldy pasca kegiatan RAK tersebut

Kemudian ia menambahkan, “Semoga kedepannya HMI Komisariat syariah STAI An-nadwah lebih baik lagi. Dan jadikan momentum ini sebagai ajang pembelajaran, Serta persaudaraan kita terjalin dengan erat lagi yang sebagaimana motto HMI,” tegasnya

Sementara itu, Demisioner Ketua Umum HMI Komisariat Syariah STAI An-nadwah kuala tungkal, Pakhrudin berharap, kedepannya ketua yang baru dapat menjalankan roda organisasi.

“Semoga dengan nahkoda baru HMI Komisariat syariah makin berkembang kedepannya, dan yang terpenting adalah kekeluargaan, saling merangkul satu sama lain,” ungkapnya (dika)


Pipin Cakaba15 July, 2019
IMG-20190715-WA0000.jpg

9min2160

Oleh : Zulfata

Pengurus BADKO HMI Aceh

Mengawali tulisan ini, penulis ingin nyatakan bahwa kacau atau baiknya perpolitikan Indonesia terletak pada sejauh mana komitmen keluarga besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dalam memposisikan peran strategisnya dalam menjaga kedaulatan bangsa. Keterlibatan HMI dalam membumikan nilai keislaman dan keindonesiaan adalah keniscayaan bagi kader HMI yang bermental ideologis. Sejarah bangsa telah membuktikan bahwa setelah Masyumi dibubarkan, HMI beserta organisasi keislaman lainnya mampu berkolaborasi dengan mengisi kekosongan peran negara dalam mewujudkan nilai keislaman dan keindonesiaan sebagai reingkranasi ideologi Pancasila.

Pendeskrispsian di atas hanyalah secuil dari luapan lautan yang faktanya mungkin belum disadari oleh kader atau keluarga besar HMI yang bertaburan di santero dunia. Sehingga komitmen organisasi pelanjut perjuangan Lafran Pane ini tampak merabunkan mata hati kader HMI yang terjebak pada mentalitas politik pragmatis dan politik populis. Mencermati arah gerakan HMI kekinian, mulai dari tingkat pengurus besar (PB) hingga ke daerah (Badko-cabang) tak lagi menarik perhatian yang mencolok bagi asupan kemajuan bangsa, apa lagi memikirkan asap dapu rakyat Indonesia.

Hampir rata-rata jabatan strategis HMI berperan bagaikan pemadam kebakaran, sudah meledak, disitu pula bergerak. Telah terbengkalai korban, di situ pula berkoar-koar. Upaya pereventif kalah tawar dengan daya apologi. Lenting pengabdian semakin terkikis akibat terlanjur taat senior. Misi kualitas insan cita kalah tawar dengan niat berpolitik praqmatis. Kekuatan membangun peradaban menjadi tenggelam karena ingin terkenal dengan proses yang instan. Idealitas digadaikan, spirit persatuan bukan digunakan untuk menopang pembangunan nasional, melainkan terjebak dalam konflik internal.

Padahal HMI mesti memiliki pola gerakan yang dinamis menyesuaikan keragaman keahlian para kadernya. Kekuatan dalam berdinamika jangan sempat mengarah pada proses perapuhan internal dengan saling mencari-cari pasal kesalahan antar sesama, keadilan dalam musyawarah (Konggres, Muda dan Konfercap) jangan sempat tergoda uang recehan, sehingga kemuliaan HMI semakin memudar. Delam konteks ini, Nurcholisd Madjid (Cak Nur) telah mengingatkan bahwa manusia tidak boleh tenggelam dalam syarat, sehingga tidak sempat mengerjakan rukunnya. Berhimpun adalah syarat untuk membangun kekuatan saat hendak mewujudkan misi keislaman dan keindonesian, dan menjaga kesejahteraan umat adalah rukun HMI yang mesti ditunaikan kapanpun dan di mana pun.

Suka atau tidak suka, HMI masa kini tampak seperti manusia lesu di tengah badai yang sedang meluluh-lantakkan infrastruktur kenegaraan. Latah menyikapi kekuasaan, latah menyikapi isu perpolitikan dan larut pada narasi gerakan milenial tanpa paham sejauhmana kekuatan HMI di level pengkaderan. Jika sedemikian adanya, yang tumbuh dalam pengkaderan bukanlah benih atau jiwa-jiwa militan, melaikan mentalitas pengemis kekuasaan, mengedepankan transaksional untung dan rugi. Sehingga kekuatan kekuasaan kapitalisme semakin kekar dan mengakar dalam setiap proses dinamika ke-HMI-an.

Yang penting ditanyakan bahwa apakah HMI sekarang sesuram ini? jika iya apakah indikatornya? Penulis jawab bahwa HMI pada pranata jabatan politis keorganisasiannya sedang mengalami daruat moral dan darurat etik, serta darurat evaluatif. Tiga sisi kedaruratan inilah yang semestinya menjadi pekerjaan bagi mereka yang mengaku ber-HMI. Sebab kader HMI bukan hanya dituntut untuk apatis, tidak pula boleh apolitis, apalagi pragmatis. Karena pada hakikatnya HMI hadir di permukaan bumi ini sebagai wadah kemahasiswaan yang betanggung jawab pada segala perjuangannya, dan senantiasa meraih ridha Allah Swt.

Ingat, HMI bukanlah lembaga kaki tangannya partai politik. dan bukan pula tidak boleh berpolitik, sebab kader HMI mesti cakap menerapkan high politic atau silenc of politics (politik kesunyian) yang dilakukan atas nama keadilan sosial. Bukan atas nama donatur berakal kerdil, dan bukan pula atas nama gerakan emosional yang picik. Pada kondisi seperti inilah seluruh kader HMI mesti cepat bangun dari ketidakstabilan berfikir dan pergerakannya masa kini. Ciri unik pergerakan HMI adalah bersifat independen, bukan menghormati pemimpin organisasinya yang dungu atau amoral, apa lagi gila jabatan. Kader HMI mesti memiliki seni melawan tanpa restu pemimpinnya. Sebab melawan memimpin bukan berarti melanggar konstitusi, karena di atas konstitusi ada prinsip ideologi yang tak dapat diingkari.

Daya instal ideologi HMI (NDP) belum begitu kuat mengendap dalam karakter kader HMI yang mendapat jabatan strategis, kondisi ini dibuktikan dengan fenomena terpecahnya kekuatan HMI akibat salah urus menyikapi organisasi emas generasi muslim. Diakui atau tidak,  kekuatan organisatoris HMI telah terpeca-belah bagaikan gelas indah yang pecah akibat diletakkan pada meja yang miring. Beling-beling kacanya yang pecah tak dapat lagi disatukan, jika dipaksa, ia akan menggores luka dan menetas darah siapany yang menyentuh beling kacanya. Satu-satunya jalan adalah sapu belingnya dan luruskan mejanya, sehingga gelas yang baru dapat gagah berdiri di atas meja yang telah di luruskan. Sedemikianlah perumpamaan upaya mengembalikan pergerakan HMI pada haluan yang sesungguhnya.

Diakui atau tidak, kemunduran HMI bukan lagi sekedar 44 indikator kemundurannya, tetapi telah mencapai angka seratus bahkan lebih jika diuraikan secara komprehensif dari semua sisi pergerakannya. Sebab saat bicara HMI bukan saja bicara kadernya, bukan saja bicara organisasinya, melainkan juga bicara rakyat, agama dan negaranya. Mendefenisikan arah pergerakan HMI tanpa kemunduran memang mustahil, namun selalu bergerak mundur petanda HMI sedang sakit. Seyogianya kemunduran yang dialami HMI masa kini mesti menjadi batu loncatan dalam menyusun kekuatan baru, pikiran baru tanpa terburu-buru terbawa hawa nafsu efek post-truht. Kebutuhan meterial (uang) memang soal angka, tetapi material bukanlah segala-galanya. Jika tidak percaya, apa bedanya HMI dengan spirit gaya meterialismenya Marxisme. Jika HMI intim dengan kekuasaan pragmatis? Apa bedanya HMI dengan Kapitalisme. Jika HMI tenggelam dalam media sosial? Apa bedanya HMI dengan remaja yang labil? Sepatutnya HMI harus mampu mengedepankan gerakan perwudukan moralitas keislaman dalam menyelesaikan menalitas anak bangsa dari jeratan gerakan Marxisme, kapitalisme hingga mampu berdemontrasi secara profesional dan mempercepat terwujudnya sistem keadilan sosial dan keadaban perpolitikan di Indonesia.

Dengan perjuangan memperbaiki sistem, maka dampak perubahannya akan bersifat luas. Dengan mengontrol haluan politik bangsa, HMI dapat menyelamatkan nasib umat manusia tanpa sekat agama, ras dan antar golongan. Daya intelektulitas kader HMI harus mampu berubah menjadi kekuatan besar dalam menjaga akar pergerakan HMI yang tidak goyang karena kekuasaan, tidak gugur karena nafsu kekuasan, dan tidak tumbang karena para pendahulu. Pranata kekuatan HMI masa kini harus ditata ulang (renovasi) sebab HMI bukan saja sedang menghadapi gelombang Industri ke empat, tetapi HMI juga sedang bergelimang dalam lautan interaksi anak bangsa yang cerdas menggunakan teknologi namun krisis moral, dan krisis saat bertuhan. Makanya jangan terkejut menemukan fakta mengaku HmI tapi “ateis” (dalam artian tidak meyakini kebenaran idealis). Sejatinya hal ini bukan saja dialami oleh internal ke-HMI-an, tetapi gejala ini hampir menjadi penyakit bersama di Indoensia.

HMI mesti cepat mengepakkan sayapnya, bila sayapnya telah patah, bergegaslah diperbaiki. Sebab HMI memiliki kewajiban dalam menyelesaikan persoalan kenegaraan yang kini sedang tertatih-tatih. HMI butuh sampai aktif dalam upaya pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. HMI mesti menjadi garda terdepan memperbaiki karakter anak bangsa. Sehingga kader HMI tidak hanya cakap meminta haknya, tetapi juga bertanggung jawab dalam menjalankan amanah ideologis dalam pergerakannya. Akhirnya HMI bukanlah suatu organisasi yang haus jabatan, dan bukan pula bergerak karena jabatan, melainkan HMI digerakkan atas dasar niat dan cita-cita penuh dengan kemuliaan. Bukan mahir jilat-menjilat pengatur jabatan. Hanya pada Allah Swt kita menyerahkan diri, dan hanya pada Rasulullah Saw pula kita menerima syafaat. Semoga kita selalu dalam misi kebenaran, bukan pembenaran. Yakusa !!!



Sekilas Kami

Bakornas LAPMI PB HMI merupakan salah satu badan khusus di dalam tubuh organisasi HMI yang bersifat semi-otonom sebagai penyalur minat dan bakat anggota dan wahana pengembangan kader di bidang jurnalistik/pers (ART Pasal 44).


[email protected]

0816-766-496



Newsletter


Media Partner

Independensia.id