Opini

AdministratorAdministrator2 April, 2019
bakornas-bergas-1280x1861.jpg

1min650

Oleh: Bergas Chahyo Baskoro
(Direktur Utama Bakornas LAPMI PB HMI)

Dunia media saat ini sudah maju begitu pesat. Revolusi industri 4.0 yang berbasis teknologi komunikasi dan informasi telah menempatkan media sebagai instrumen yang embeded, tak terpisahkan dalam pembangunan suatu negara. Kemajuan ini, harus mampu dihadapi oleh bangsa Indonesia dengan terus mengembangkan teknologi dan terpenting adalah membangun sumber daya manusianya. Tanpa adanya sumber daya manusia yang unggul, Indonesia hanya akan menjadi ‘pasar’, baik pasar hasil produksi maupun pasar tenaga kerja.


Pipin Cakaba1 March, 2019
IMG_20190301_152035-1280x1366.jpg

13min290

“Reorientasi HMI; 70 Tahun Berkiprah untuk Bangsa Mewujudkan Bahagia Indonesia”

Oleh : Ridwan Mubarak

(Penulis adalah Dosen Fidkom UIN SGD, KAHMI Kabupaten Bandung, Alumni LK-I Al-Wasilah Garut 2002 dan Alumni LK-II Pesanggrahan Colo Kudus Jawa Tengah 2004)

Pernah menjadi bagian dari proses kaderisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ketika kuliah dulu, adalah merupakan suatu kebanggan tersendiri yang tak ternilai. Sekian banyak ilmu, pengetahuan, dan bahkan pengalaman berharga diberikan oleh HMI kepada kader-kadernya sebagai bekal menjadi calon pemimpin di masa depan. Ya benar, HMI merupakan organisasi kader yang seharusnya fokus pada ikhtiar untuk mencetak insan-insan akademis calon pemimpin umat, bukan organisasi politik praktis yang menggiring anggotanya untuk berperilaku liar layaknya seorang politisi yang nihil dengan referensi teori-teori besar ilmu politik. Kini, seiring dengan bergulirnya waktu, penulis “dipaksa” menjadi bagian dari realitas Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) dengan segala beban dan tanggungjawabnya sebagai seorang “senior” (walah senior pula).

Adapun istilah senior dalam kultur organisasi HMI, menempati makom yang sangat tinggi. Seorang senior produk HMI akrab disapa dengan panggilan Rakanda, Rakandawati, Rakanita, ataupun Abang. Hal ini sebagai bentuk penghormatan juga kehormatan dan rasa cinta kasih seorang adik terhadap kaka-kakanya dalam lingkar organisasi HMI.  Untuk mendapatkan penghormtan mulia tersebut, ada proses yang harus dilalui, yang menjadi kekhasan HMI dari dulu hingga kini, yakni perkaderan. Perkaderan menjadi penentu kualitas kader ditahun-tahun berikutnya dalam memperjuangkan HMI, lagi-lagi sebagai organisasi kader bukan orpol ataupun LSM.

Proses perkaderan sendiri dilakukan secara berjenjang, mulai dari Latihan Kader I (Basic Training), Latihan Kader II (Intermedite Training), hingga Latihan Kader III (Advance Training) menjadi agenda penting pembentukan watak gerakan yang harus dilalui oleh setiap mereka yang bangga mengklaim sebagai insan akademis HMI. Jika tidak, dirasa belumlah sempurna (kaffah) menjadi insan cita HMI atau bahkan bisa disebut kader abal-abal karena tidak pernah mengikuti LK I. LK menjadi prasyarat utama dan pertama bagi calon anggota HMI, karena konstitusi (AD/ ART) mengharuskan hal yang demikian. Tahapan-tahapan LK (Latihan Kader) HMI mengandung makna filosofis yang teramat dalam sekaligus terdapat tanggungjawab ideologis dalam wujud gerakan moral (moral force). Gerakan moral kader HMI harus senantiasa berpijak kepada misi-misi kenabian, selaras dengan semangat teologis namun tetap humanis. Kader HMI harus menjadi pemantik setiap gerakan moral dimanapun ia berada dan berkiprah. Semangat progresif revolusioner menjadi harga mati dalam memperjuangkan hak-hak kaum tertindas (mustadafin). Sehingga dimasa berikutnya, kader HMI memiliki keberpihakan yang jelas terhadap kaum tertindas (mustad’afin) dan selalu berani melawan kaum penindas (mustakbirin). Kader HMI hendaknya pantang tolak tugas, pantang ulur waktu, dan pantang tugas tidak tuntas ketika sudah berbicara kepentingan umat; negara, bangsa, dan agama.

Label Islam dari organisasi HMI, menjadi furqon (Pembeda) HMI dengan organisasi pergerakan lainnya, inilah kekhasan HMI yang sebenarnya. Konsep wahyu memandu ilmu, firman memandu tindakan, dan Kalamullah memandu ghirah, hendaknya menjadi prinsip dasar dari setiap gerak langkah kader HMI. Hal ini sebagaimana sumpah setia kita kepada Sang Khaliq Allah SWT dalam setiap pelaksanaan shalat melalui lafal doa iftitah. Inna shalati…sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah semata, bukan untuk jabatan, kekuasaan, dan dunia yang sifatnya sementara. Materi Nilai Dasar Perjuangan (NDP) menjadi materi pokok yang wajib difahami oleh setiap kader HMI di awal pembentukan karakter kader, konsep Tauhid menjadi pijakan.

Begitu agung dan mulianya konsep perkaderan HMI, syarat dengan pesan filosofis sekaligus ideologis. Secara filosofis, makna perkaderan dapat diartikan sebagai upaya sistematik pembentukan jati diri seorang pejuang umat. LK I berperan membentuk karakter kader mulai dari persoalan-persoalan hidup yang paling dasar. Materi-materi yang disajikan merupakan masteri-materi dasar ketauhidan yang dikorelasikan dengan realitas kemanusiaan (humanis); keislaman, keindonesiaan, dan kebangsaan. Dekontruksi teologis menjadi sajian awal pembuka nalar, menu wajib bagi setiap calon kader HMI. Proses dekontruksi teologis, diharapkan mampu meneguhkan gerakan-gerakan yang dilakukan kader dan mengkristal dalam bentuk gerakan ideologis yang egaliter, moderat, inklusif, serta revolusioner. Sikap fanatisme sempit dan hedonistik adalah dua hal yang harus dijauhkan dalam semangat perjuangan HMI, meski pada realitasnya, banyak pula kader yang terjebak dalam kubangan lumpur transaksi-transaksi politik liar dengan dalih “memberdayakan kader” dan patuh terhadap kepentingan senior yang “berehan” secara materil kepada kader-kadernya dilevel akar rumput (kader LK I). Jangan racuni nalar sehat kader LK I dengan bujuk rayu materi yang tidak mendidik.

Berikutnya, fase LK II. Pada jenjang ini, kader tidak lagi disibukan dengan hal-hal dasar ketauhidan dan kemanusiaan secara konseptual. Fase ini, segenap kader HMI telah dianggap selesai dan telah berdamai dengan realitas personalnya, pergulatan batin sebagai seorang aktivis yang sadar diri telah mencapai klimaknya. Revolusi kesadaran sebagai buah manis dari LK I menjadi bekal kuat bagi kader untuk melangkah pada jenjang perjuangan yang lebih luas, revolusi harapan (hope revolution) menjadi tujuan. LK II berperan menstimulan kader untuk berani mengekplorasi diri, kritis, inovatif, dan cakap mengimplementasikan konsep-konsep dasar materi LK I pada tataran yang lebih riil di tengah permasalahan kebangsaan dan keumatan yang begitu komplek.

Selain paradigma kritis kader menyikapi realitas, ketajaman pisau analisa guna memahami permasalahan-permasalahan kebangsaan menjadi pertaruhan dan kehormatan kader, tuntas dan tidaknya seorang kader HMI pada fase LK II ini, dapat dilihat. Mampu memilah dan memilih, mana permasalahan prinsip dan mana yang tidak prinsip, mana gerakan murni ideologis dan mana yang gerakan politis ansih, kader LK II harus mampu membedakannya. Jika tidak, patut dipertanyakan keabsahannya sebagai seorang kader LK II, atau jangan-jangan ia tidak serius atau bahkan tidak tuntas LK I nya dulu. Kader LK II kualitas LK I, bentuk kegagalan dalam proses perkaderan, inilah malpraktik kaderisasi imbas dari malnutrsisi kajian-kajian tentang konsep dasar HMI.

Fase terakhir merupakan fase LK III. Kader produk LK III selain diharapkan pintar menganalisa permasalahan-permasalahan kebangsaan dan keumatan, juga diharapkan mampu menjadi problem solver atas permasalahan kebangsaan tersebut. HMI harus menjadi solusi bagi bangsa ini, bahkan bagi bangsa-bangsa di dunia dengan produk-produk pemikirannya yang bernas juga implementatif. Melaui LK III, kader dipaksa untuk dapat mengeryitkan dahinya lebih dari biasanya, berfikir keras di atas rata-rata namun tetap analitis dan sistematis pada pokok permaslahan. Fokus pada satu tujuan, menjadi dan selalu memberi yang terbaik bagi tegaknya nilai-nilai kemanusiaan.

LK III merupakan “sekolah tinggi kader HMI” yang akan melahirkan pemikir-pemikir hebat yang dibutuhkan oleh bangsa dan zamannya. Menjadi politisi pemikir, menjadi pendidik pemikir, menjadi pejabat yang pemikir, menjadi jurnalis yang pemikir, menjadi peneliti yang pemikir, bahkan menjadi orang-orang Indonesia biasa yang terbiasa berfikir dan selalu ikhlas membangun bangsa dan negaranya. Kembali kepada pemahaman konsep tauhid LK I sebagai dasar pijakan dalam berkhidmat untuk kemaslahatan umat dan bangsa. Kader LK III diharapkan menjadi pribadi-pribadi yang solutif konstruktif bagi kemanusiaan. Pada akhirnya, kader LK III diharapkan menjadi pandita-pandita dan pelita ditengah kezumudan berfikir umat dalam menjalani kehidupannya di bumi ini. Seyogianya pula, kader LK III HMI diharamkan menjadi beban sejarah bagi bangsanya, bagi kemanusiaan, terlebih bagi kader-kader dibawahnya. Ia harus menjadi kader yang paripurna lahiriah sekaligus batiniah, karena ia alumni dari “sekolah tinggi” LK III HMI.

Secara ideologis, LK HMI dapat dipahami sebagai ladang tempat menyemai benih-benih ideologi gerakan yang bersumber dari semangat dakwah para nabi dan Rasul Allah SWT. Nilai-nilai luhur teologis yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Hadits harus menjadi ruh yang diyakini sebagai jalan keselamatan dalam berjuang bagi seluruh kader HMI. Konsistensi terhadap nilai-nilai teologis, semangat tanpa pamrih (ikhlas berjuang), dan sadar diri sebagai manusia yang mengemban misi kenabian merupakan modal dasar dalam memperjuangkan gerakan ideologi HMI. HMI dan kadernya haruslah tetap membumi sebagai syarat diterimanya HMI ditengah kehidupan berbangsa dan bernegara, tanpa menggadaikan kepatuhannya terhadap firman-firman langit sebagai pedoman (standar operasional procedure) dalam berjuang menegakan nilai-nilai kemanusiaan demi menciptakan peradaban yang berkeadaban Ketuhanan. Tuhan menjadi titik sentral awal dan akhir gerak langkah kader HMI, dari Allah dan akan kembali kepada Alllah sang Haq. Ketakwaan kepada Allah SWT  hendaknya menjadi pijakan awal dan akhir dalam mengimplementasikan cita-cita luhur HMI secara ideologis. Persemaian nilai-nilai ketuhanan (teologis) yang kaffah melalui LK I, II, dan III akan berbanding lurus dengan “panen” kualitas gerakan ideologis kader yang juga paripurna dan  HMI benar-benar menjadi solusi bagi kemanusiaan.

Lantas bagaimana realitas kader HMI kini?. Seberapa besar manfaat dari proses perkaderan LK bagi kader HMI?. Cukup konsistenkah kader HMI dengan ikrar dan sumpahnya dalam konstitusi dan hymne HMI yang kerap dilantunkan saat acara-acara seremonial HMI?. Pertanyaan tersebut kerap menghantui penulis sebagai kader HMI semenjak tahun 2002. Jujur, ada banyak kegelisahan yang mengendap dalam ruang-ruang alam sadar penulis menyikapi HMI dalam kontek kekinian. Kader HMI kini dibenturkan dengan budaya pop yang berorientasi kepada perilaku pragmatik-hypokrit, dan hedonistik-sekuleristik. Selalu ingin instan dalam berjuang, kurang menghargai proses, konsumtif, serta menihilkan etika dalam pergerakannya, baik ketika berpolitik (siasyah), bisnis (berniaga), aktivitas sosial, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Hal yang demikian terjadi karena kader tidak matang dalam fase perkaderan dapur HMI, terlebih LK I sebagai peletak dasar ketauhidan. Syahadat pergerakannya tidak sempurna.

Hal lain, adanya intervensi “oknum senior HMI” yang kerap menarik-narik kader HMI yang belum khatam AD/ART dipaksa masuk ranah-ranah politik praktis yang melenakan kader. Kemudahan memperoleh materi melalui proyek-proyek instan dari oknum senior yang didanai oleh APBD/ APBN, menjadi magnet tersendiri bagi kader-kader HMI. Kompensasi materi yang menyilaukan kader-kader HMI melalui aktivitas politik praktis yang “belum saatnya dilalui” membentuk karakter kader menjadi materialistik. Kader siap berjuang asal ada “Bandar” yang memodali, siap aksi asalkan ada kompensasi, siap turun ke jalanan dengan catatan ada uang makan dan ongkos jalan. Kesemua ini merupakan  bentuk kemunduran HMI, dan tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. HMI bukanlah akronim How Money Income, yang wani piro, dan gerakan ideologis yang berakhri tragis di atas meja makan. HMI adalah organisasi kader bukan organisasi politik apalagi LSM. Pertegas HMI secara struktural dan juga fungsional bahwa HMI merupakan  kawah Candra Dimuka tempat membentuk manusia-manusia hebat, tempat lahirnya insan-insan paripurna, tempat tumbuh dan berkembangnya calon pemimpin bangsa di masa kini dan nanti.

Solusi atas beragam krisis identitas kader HMI kini, tiada lain kembalilah kepada khittah HMI. Tujuan HMI adalah terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertangung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT (pasal 4 AD HMI). Dari tujuan tersebut dapat dirumuskan menjadi lima kualitas insan cita, yakni kualitas insan akademis, kualitas insan pencipta, kualitas insan pengabdi, kualitas insan bernafaskan Islam, dan kualitas insan yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Sungguh sangatlah komprehensif tujuan HMI sebagai sebuah organisasi kader. HMI diusianya yang ke 70 di tahun ini, sudah saatnya berbenah diri menjadi problem solver kehidupan berbangsa dan bernegara. Jangan biarkan kader-kader terbaik HMI ada dalam kegelisahan dipersimpangan kiri jalan. Kembalikan kader-kader HMI kepada Al-Qur’an dan Hadits sebagaimana ikrar sekaligus komitmen kita dalam sendu Hymne HMI; Turut Qur’an dan Hadits Jalan keselamatan, Ya Allah berkati Bahagia HMI. (Wassalam- Disarikan dari berbagai sumber).


AdministratorAdministrator18 February, 2019
WhatsApp-Image-2019-02-17-at-23.23.12.jpeg

1min510

Oleh: Aqil N*

Akhir-akhir tahun, kemanusiaan melihat  jalan-jalan yang semakin tidak manusiawi. Bahkan para pembeli dan pedagang seperti mencari-cari dosanya, kemudian tiang-tiang listrik dan jalan nampak acuh, tembok kian membisu, seandainya ada lulusan-lulusan strata humaniora disitu barangkali mustahil menundukkan kebisuan, mereka pada saat itu juga akan membakar lara dan kesedihan kebesaran ego yang enggan dikritisi. Kemanusiaan telah tunduk, ia tak lagi berpangku oleh keberanian marjin kiri, kesannya seperti mengakuisisi kepemilikan dan otoritas manusia kendati meskipun ia melihat disekelilingnya zaman-lah yang terlalu cepat melibas habis jeri payah orang-orang kecil.


Pipin Cakaba16 February, 2019
IMG-20190216-WA0000.jpg

6min340

Oleh : Fajar Galang P

Demisioner Ketua Umum Komush Cakaba 2017-2018

Hiruk pikuk pesta demokrasi lima tahunan yang saat ini dinikmati rakyat Indonesia kini menjadi sorotan semua kalangan. Terasa, peran aktif kepedulian rakyat sebagai bentuk harapan mereka agar memiliki pemimpin yang dapat membawa setiap daerah kearah lebih baik melalui pemilihan umum. Demos (rakyat) dan cratos (kekuatan), arti dasar bahasa yunani yang mengilhami terciptanya demokrasi. Beragam unsur kekuatan rakyat bersatu padu untuk mendukung salah satu calon legislatif, gubernur, bahkan presiden ditahun berikutnya melalui wadah relawan, organisasi masyarakat, organisai primordial, organisasi buruh dan lain sebagainya. Namun sungguh disayangkan apabila momentum pemilihan umum hanya dijadikan komoditas politik untuk segelintir orang (oknum) agar mendapatkan keuntungan pribadi.

Sebagai organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tetap berdiri pada jalur netral. Seluruh anggota aktif HMI jangan sampai masuk ke dalam kemelut politik yang tengah terjadi saat ini. Saya sepakat terhadap pernyataan Ketua Umum PB HMI tahun 2010-2012 Noer Fajriansyah saat itu, ia menganggap aktvitas politik semacam itu bisa menggangu kestabilan Himpunan itu sendiri.

Sebagai organisasi mahasiswa terbesar, HMI harus berdiri pada jalur netral menyikapi semua kemelut yang ada dalam partai atau politik. Hal ini mengingat alumni HMI berada diseluruh jaringan partai peserta pemilu 2018. Keberpihakan pada salah satu kelompok dalam sebuah partai akan memecah belah soliditas keluarga HMI.

Semua anggota HMI harus bijaksana dalam memainkan peranan mereka. Jika para anggota saling mengklaim mendukung salah satu pihak yang berkonflik, itu sama saja menghantam dan memecah belah persatuan HMI.

HMI sebagai organisasi yang tidak memiliki fatsun politik manapun, sejatinya kita kader mesti menjaga independensi Himpunan ditengah dinamika politik bangsa ini. Saya menegaskan kewajiban menjaga independensi Himpunan merupakan bagian integral dari amanat konstitusi yang mengikat setiap kader HMI dari PB sampai ke tingkat komisariat.

Saya rasa amanat konstitusi jelas menegaskan HMI sebagai organisasi yang independen, namun apa jadinya ketika amanat konstitusi sebagai pedoman tertinggi Himpunan dilacuri oleh seorang oknum kader. Terjadi fenomena yang menjamur dikalangan organisasi mahasiswa, untuk dukung mendukung salah satu kandidat pileg, pilgub, maupun presiden nanti pada tahun 2019. Mahasiswa sebagai kaum intelektual dan yang “katanya” agen perubahan harus mampu memilah dengan baik secara kritis, objektif dan solutif. Karena mahasiswa sebagai kaum menengah yang dapat menjembatani antara rakyat dengan pemerintah. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi perkaderan tertua di Indonesia dan memiliki independensi etis sekaligus organisatoris, kini beberapa kadernya nampak terlibat dalam aktivitas politik yang mengusung kesuksesan salah satu kandidat pada pesta demokrasi di tahun 2018.

Secara organisasi itu sangat mencederai, karena bertentangan dengan AD/ ART (Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga) bahwa HMI bersifat independen (BAB I, pasal 6), dan dijelaskan lebih lengkap didalam Tafsir Independensi yang didalamnya terdapat dua inti yaitu Independensi Etis dan Independensi Organisatoris.

Terdapat penjelasan di dalam Indepensi Organisatoris yaitu dalam melaksanakan dinamika organisasi, HMI secara organisatoris tidak pernah committed dengan kepentingan pihak manapun ataupun kelompok dan golongan manapun kecuali tunduk dan terikat pada kepentingan kebenaran dan objektifitas kejujuran dan keadilan. Agar secara organisatoris HMI dapat melakukan dan menjalankan prinsip-prinsip independensi organisatorisnya, maka HMI dituntut untuk mengembangkan kepemimpinan kuantitatif serta berjiwa independen sehingga perkembangan, pertumbuhan dan kebijaksanaan organisasi mampu diemban selaras dengan hakikat independensi HMI. Untuk itu HMI harus mampu menciptakan kondisi yang baik dan mantap bagi pertumbuhan dan perkembangan kualitas-kualitas kader HMI. Dalam rangka menjalin tegaknya prinsip-prinsip independensi HMI mengimplementasi independensi HMI kepada anggota adalah sebagai berikut:

1. Anggota-anggota HMI terutama aktifitasnya dalam melaksanakan tugasnya harus tunduk kepada ketentuan-ketentuan organisasi serta membawa program perjuangan HMI. Oleh karena itu tidak diperkenankan melakukan kegiatan-kegiatan dengan membawa organisasi atas kehendak pihak luar manapun juga.

2. Mereka tidak dibenarkan mengadakan komitmen-komitmen dengan bentuk apapun dengan pihak luar HMI selain segala sesuatu yang telah diputuskan secara organisatoris.

3. Alumni HMI senantiasa diharapkan untuk arif berjuang meneruskan dan mengembangkan watak independensi etis dimanapun mereka berada dan berfungsi sesuai dengan minat dan potensi dalam rangka membawa hakikat dan mission HMI. Dan menganjurkan serta mendorong alumni untuk menyalurkan aspirasi kualitatifnya secara tepat dan melalui semua jalur pembaktian baik jalur organisasi professional kewiraswastaan, lembaga-lembaga sosial, wadah aspirasi politik lembaga pemerintahan ataupun jalur-jalur lainnya yang semata-mata hanya karena hak dan tanggung jawabnya dalam rangka merealisir kehidupan masyarakat adil makmuryang diridhoi Allah SWT. dalam menjalankan garis independen HMI dengan ketentuan-ketentuan tersebut di atas, pertimbangan HMI semata-mata adalah untuk memelihara mengembangkan anggota serta peranan HMI dalam rangka ikut bertanggung jawab atas Negara dan bangsa. Karenanya menjadi dasar  dan kriteria setiap sikap HMI semata-mata adalah kepentingan nasional bukan kepentingan golongan atau partai dan pihak penguasa sekalipun. Bersikap independen berarti sanggup berpikir dan berbuat sendiri dengan menempuh resiko. Ini adalah suatu konsekuensi atau sikap pemuda. Mahasiswa yang kritis terhadap masa kini dan kemampuan dirinya untuk sanggup mewarisi hari depan bangsa dan Negara.

Setelah sedikitnya membahas ihwal independensi organisasi bernama HMI, saya berharap kepada setiap kader HMI untuk menanamkan nilai independensi yang termaktub dalam kontitusi. Jangan sampai kiranya dalam setiap LK-1 materi konstitusi dibahas berjam-jam tapi tak pernah sampai sejujurnya ke diri setiap kader. Sebab, independensi merupakan jantung dari pada mahasiswa. Bak kata Tan Malaka mengatakan bahwa “Idealisme merupakan kemewahan terakhir yang dimiliki oleh mahasiswa”.

 

 


AdministratorAdministrator14 February, 2019
ilustrasi-HMI.jpg

1min1600

Oleh: Bergas C. Baskoro
(Direktur BAKORNAS LAPMI)

Hari-hari ini situasi organisasi himpunan diwarnai dinamika yang menarik dan menantang. Menarik bagi para free-rider dan rent-seeking yang memanfaatkan ketidakpastian situasi dalam rekahan kekuasaan yang terjadi. Menantang bagi para kader ideologis untuk memanifestasikan nilai-nilai perjuangan dan menguji pengetahuan serta kedewasaan organisasi yang dimiliki untuk mengambil sikap, dengan tetap menjunjung semangat persaudaraan dalam bingkai himpunan.

Melalui tulisan ini, saya ingin menyampaikan perspektif atas situasi yang terjadi, yang kemudian melatarbelakangi sikap yang diambil, baik secara pribadi, maupun secara organisatoris.


AdministratorAdministrator5 February, 2019
72-tahun-hmi-koreksi-dan-resolusi.jpg

1min70

Oleh: Sudarman Effendi
(Direktur LAPMI HMI Cabang Mataram)

Gagasan tanpa implementasi hanya bisa dikenang sebagai wacana yang akan lenyap di awang-awang. Wajah intelektualisme HMI akan kabur jika hanya di isi oleh kader-kader yang sibuk “mendengkur” di ruang-ruang praktis dan perebutan simbolik dangkal sebuah jabatan.


AdministratorAdministrator5 February, 2019
Kader-Millenial.jpeg

1min70

Muh Marjan Halek (Al-Bar)

Kemunculan konsep millennial dalam paradigma politik menjadi salah satu ketertarikan sendiri bagi seluruh kalangan baik akademisi, aktivis dan politisi sekalipun. Salah satu faktor mendasar adalah generasi tersebut memiliki peran penting untuk menentukan masa depan Indonesia dari berbagai sektor.


AdministratorAdministrator5 February, 2019
HMI-sebagai-pasar-intelektual-indonesia.jpg

1min90

Oleh: Syaf Lessy*

Keberadaan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi pengkaderan, sejatinya diilustrasikan sebagai sistem yang permanen, yang mengalami industrialisasi pengetahuan yang begitu kompleks dan dinamis. Dalam perjalanannya, hal tersebut dipandang sebagai suatu profitabilitas pengetahuan dalam memaksimalkan kebutuhan setiap kader HMI, terhadap upaya memerankan perannya dalam menawarkan pengetahuan sebagai suatu konsensus keberadaan pasar yang dilihat sebagai lahan intelektual.


AdministratorAdministrator28 January, 2019
Kembalikan-HMI-ke-khittahnya.jpg

1min90

Oleh: Sri Irawati Mukhtar*

Quo Vadis HMI: 72 tahun Himpunan Mahasiswa Islam

masihkah semboyan Berteman lebih dari saudara berlaku?

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang didirikan pada tanggal 14 Rabi’ul Awwal 1366 H/05 Februari 1947 M silam, sudah menginjak usia ke-72 thn. HMI sudah tidak belia lagi dalam hal usia, namun bukan berarti sudah mulai kehilangan daya. Di umur yang terbilang sangat tua ini, ada banyak hal yang harus direnungkan oleh kita sebagai kader HMI.



Sekilas Kami

Bakornas LAPMI PB HMI merupakan salah satu badan khusus di dalam tubuh organisasi HMI yang bersifat semi-otonom sebagai penyalur minat dan bakat anggota dan wahana pengembangan kader di bidang jurnalistik/pers (ART Pasal 44).


[email protected]

0816-766-496



Newsletter


Media Partner

Independensia.id