Seputar HMI

Pipin Cakaba18 July, 2019
IMG-20190718-WA0010.jpg

3min90

Lapmi | Jakarta – Melalui kegiatan Diskusi Grup Terfokus (FGD) yang digelar di Sekretariat PB HMI pada Kamis (18/7/2019), Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) menyoroti pentingnya peran generasi Milenial dalam pembangunan Indonesia di masa depan. Kegiatan ini merupakan program kerja bersama antara Bidang Riset Teknologi dan Bidang Industri Perdagangan.

“FGD ini merupakan kontribusi HMI dalam memberikan masukan substansial kepada Pemerintah bagi pembangunan Indonesia di masa depan,” ujar Arya Kharisma Hardy, PJS Ketua Umum PB HMI.

Kegiatan diskusi bertajuk “Strategi Generasi Milenial dalam Mendukung Kemandirian Riset Teknologi dan Industri Pembangunan Indonesia” ini menghadirkan M. Arief Rosyid, Faldo Maldini, Pradana Indra Putra, dan Rahmat Fikri sebagai narasumber serta dimoderatori oleh Risdianto Pattiwael.

Menurut Rahmat Fikri, Indonesia memiliki sumberdaya manusia yang cukup sebagai modal pembangunan. Selain itu, peluang juga sangat terbuka lebar. Hal krusial yang dibutuhkan adalah kebijakan yang tepat guna mengoptimalkan potensi tersebut. Selain itu, komitmen Pemerintah juga diperlukan dalam menghasilkan kebijakan afirmatif yang melindungi produk-produk nasional.

Sumberdaya manusia yang berkualitas, tambah Faldo Maldini, dihasilkan oleh kampus. Maka dari itu kampus pun jangan sampai ketinggalan dalam menghasilkan inovasi dan adopsi pengetahuan pengetahuan baru secara berkelanjutan.

Sementara menurut Arief Rosyid dan Pradana Indra Putra, generasi saat ini membutuhkan kemampuan untuk menyeleksi informasi agar tidak mudah terkena hoax. Generasi Milenial diharapkan lebih bijak menggunakan informasi.

Hary Sukma Pradinata, Ketua Bidang Riset dan Teknologi PB HMI, mengatakan bahwa diskusi kali ini adalah awalan. Setelah ini akan disusul oleh diskusi-diskusi lanjutan dengan tema lainnya yang akan menghadirkan para pakar kompeten. Keberlanjutan diskusi ini nantinya akan dirangkum menjadi suatu bentuk naskah rekomendasi yang akan disampaikan kepada Pemerintah.

“Nantinya akan dibuat naskah rekomendasi dalam bentuk buku ‘bunga rampai gagasan pembangunan’ sebagai kenang-kenangan kepengurusan di periode ini,” tandas Hadi Rusmanto, Ketua Bidang Industri dan Perdagangan PB HMI. (*)


Pipin Cakaba15 July, 2019
IMG-20190715-WA0000.jpg

9min2010

Oleh : Zulfata

Pengurus BADKO HMI Aceh

Mengawali tulisan ini, penulis ingin nyatakan bahwa kacau atau baiknya perpolitikan Indonesia terletak pada sejauh mana komitmen keluarga besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dalam memposisikan peran strategisnya dalam menjaga kedaulatan bangsa. Keterlibatan HMI dalam membumikan nilai keislaman dan keindonesiaan adalah keniscayaan bagi kader HMI yang bermental ideologis. Sejarah bangsa telah membuktikan bahwa setelah Masyumi dibubarkan, HMI beserta organisasi keislaman lainnya mampu berkolaborasi dengan mengisi kekosongan peran negara dalam mewujudkan nilai keislaman dan keindonesiaan sebagai reingkranasi ideologi Pancasila.

Pendeskrispsian di atas hanyalah secuil dari luapan lautan yang faktanya mungkin belum disadari oleh kader atau keluarga besar HMI yang bertaburan di santero dunia. Sehingga komitmen organisasi pelanjut perjuangan Lafran Pane ini tampak merabunkan mata hati kader HMI yang terjebak pada mentalitas politik pragmatis dan politik populis. Mencermati arah gerakan HMI kekinian, mulai dari tingkat pengurus besar (PB) hingga ke daerah (Badko-cabang) tak lagi menarik perhatian yang mencolok bagi asupan kemajuan bangsa, apa lagi memikirkan asap dapu rakyat Indonesia.

Hampir rata-rata jabatan strategis HMI berperan bagaikan pemadam kebakaran, sudah meledak, disitu pula bergerak. Telah terbengkalai korban, di situ pula berkoar-koar. Upaya pereventif kalah tawar dengan daya apologi. Lenting pengabdian semakin terkikis akibat terlanjur taat senior. Misi kualitas insan cita kalah tawar dengan niat berpolitik praqmatis. Kekuatan membangun peradaban menjadi tenggelam karena ingin terkenal dengan proses yang instan. Idealitas digadaikan, spirit persatuan bukan digunakan untuk menopang pembangunan nasional, melainkan terjebak dalam konflik internal.

Padahal HMI mesti memiliki pola gerakan yang dinamis menyesuaikan keragaman keahlian para kadernya. Kekuatan dalam berdinamika jangan sempat mengarah pada proses perapuhan internal dengan saling mencari-cari pasal kesalahan antar sesama, keadilan dalam musyawarah (Konggres, Muda dan Konfercap) jangan sempat tergoda uang recehan, sehingga kemuliaan HMI semakin memudar. Delam konteks ini, Nurcholisd Madjid (Cak Nur) telah mengingatkan bahwa manusia tidak boleh tenggelam dalam syarat, sehingga tidak sempat mengerjakan rukunnya. Berhimpun adalah syarat untuk membangun kekuatan saat hendak mewujudkan misi keislaman dan keindonesian, dan menjaga kesejahteraan umat adalah rukun HMI yang mesti ditunaikan kapanpun dan di mana pun.

Suka atau tidak suka, HMI masa kini tampak seperti manusia lesu di tengah badai yang sedang meluluh-lantakkan infrastruktur kenegaraan. Latah menyikapi kekuasaan, latah menyikapi isu perpolitikan dan larut pada narasi gerakan milenial tanpa paham sejauhmana kekuatan HMI di level pengkaderan. Jika sedemikian adanya, yang tumbuh dalam pengkaderan bukanlah benih atau jiwa-jiwa militan, melaikan mentalitas pengemis kekuasaan, mengedepankan transaksional untung dan rugi. Sehingga kekuatan kekuasaan kapitalisme semakin kekar dan mengakar dalam setiap proses dinamika ke-HMI-an.

Yang penting ditanyakan bahwa apakah HMI sekarang sesuram ini? jika iya apakah indikatornya? Penulis jawab bahwa HMI pada pranata jabatan politis keorganisasiannya sedang mengalami daruat moral dan darurat etik, serta darurat evaluatif. Tiga sisi kedaruratan inilah yang semestinya menjadi pekerjaan bagi mereka yang mengaku ber-HMI. Sebab kader HMI bukan hanya dituntut untuk apatis, tidak pula boleh apolitis, apalagi pragmatis. Karena pada hakikatnya HMI hadir di permukaan bumi ini sebagai wadah kemahasiswaan yang betanggung jawab pada segala perjuangannya, dan senantiasa meraih ridha Allah Swt.

Ingat, HMI bukanlah lembaga kaki tangannya partai politik. dan bukan pula tidak boleh berpolitik, sebab kader HMI mesti cakap menerapkan high politic atau silenc of politics (politik kesunyian) yang dilakukan atas nama keadilan sosial. Bukan atas nama donatur berakal kerdil, dan bukan pula atas nama gerakan emosional yang picik. Pada kondisi seperti inilah seluruh kader HMI mesti cepat bangun dari ketidakstabilan berfikir dan pergerakannya masa kini. Ciri unik pergerakan HMI adalah bersifat independen, bukan menghormati pemimpin organisasinya yang dungu atau amoral, apa lagi gila jabatan. Kader HMI mesti memiliki seni melawan tanpa restu pemimpinnya. Sebab melawan memimpin bukan berarti melanggar konstitusi, karena di atas konstitusi ada prinsip ideologi yang tak dapat diingkari.

Daya instal ideologi HMI (NDP) belum begitu kuat mengendap dalam karakter kader HMI yang mendapat jabatan strategis, kondisi ini dibuktikan dengan fenomena terpecahnya kekuatan HMI akibat salah urus menyikapi organisasi emas generasi muslim. Diakui atau tidak,  kekuatan organisatoris HMI telah terpeca-belah bagaikan gelas indah yang pecah akibat diletakkan pada meja yang miring. Beling-beling kacanya yang pecah tak dapat lagi disatukan, jika dipaksa, ia akan menggores luka dan menetas darah siapany yang menyentuh beling kacanya. Satu-satunya jalan adalah sapu belingnya dan luruskan mejanya, sehingga gelas yang baru dapat gagah berdiri di atas meja yang telah di luruskan. Sedemikianlah perumpamaan upaya mengembalikan pergerakan HMI pada haluan yang sesungguhnya.

Diakui atau tidak, kemunduran HMI bukan lagi sekedar 44 indikator kemundurannya, tetapi telah mencapai angka seratus bahkan lebih jika diuraikan secara komprehensif dari semua sisi pergerakannya. Sebab saat bicara HMI bukan saja bicara kadernya, bukan saja bicara organisasinya, melainkan juga bicara rakyat, agama dan negaranya. Mendefenisikan arah pergerakan HMI tanpa kemunduran memang mustahil, namun selalu bergerak mundur petanda HMI sedang sakit. Seyogianya kemunduran yang dialami HMI masa kini mesti menjadi batu loncatan dalam menyusun kekuatan baru, pikiran baru tanpa terburu-buru terbawa hawa nafsu efek post-truht. Kebutuhan meterial (uang) memang soal angka, tetapi material bukanlah segala-galanya. Jika tidak percaya, apa bedanya HMI dengan spirit gaya meterialismenya Marxisme. Jika HMI intim dengan kekuasaan pragmatis? Apa bedanya HMI dengan Kapitalisme. Jika HMI tenggelam dalam media sosial? Apa bedanya HMI dengan remaja yang labil? Sepatutnya HMI harus mampu mengedepankan gerakan perwudukan moralitas keislaman dalam menyelesaikan menalitas anak bangsa dari jeratan gerakan Marxisme, kapitalisme hingga mampu berdemontrasi secara profesional dan mempercepat terwujudnya sistem keadilan sosial dan keadaban perpolitikan di Indonesia.

Dengan perjuangan memperbaiki sistem, maka dampak perubahannya akan bersifat luas. Dengan mengontrol haluan politik bangsa, HMI dapat menyelamatkan nasib umat manusia tanpa sekat agama, ras dan antar golongan. Daya intelektulitas kader HMI harus mampu berubah menjadi kekuatan besar dalam menjaga akar pergerakan HMI yang tidak goyang karena kekuasaan, tidak gugur karena nafsu kekuasan, dan tidak tumbang karena para pendahulu. Pranata kekuatan HMI masa kini harus ditata ulang (renovasi) sebab HMI bukan saja sedang menghadapi gelombang Industri ke empat, tetapi HMI juga sedang bergelimang dalam lautan interaksi anak bangsa yang cerdas menggunakan teknologi namun krisis moral, dan krisis saat bertuhan. Makanya jangan terkejut menemukan fakta mengaku HmI tapi “ateis” (dalam artian tidak meyakini kebenaran idealis). Sejatinya hal ini bukan saja dialami oleh internal ke-HMI-an, tetapi gejala ini hampir menjadi penyakit bersama di Indoensia.

HMI mesti cepat mengepakkan sayapnya, bila sayapnya telah patah, bergegaslah diperbaiki. Sebab HMI memiliki kewajiban dalam menyelesaikan persoalan kenegaraan yang kini sedang tertatih-tatih. HMI butuh sampai aktif dalam upaya pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. HMI mesti menjadi garda terdepan memperbaiki karakter anak bangsa. Sehingga kader HMI tidak hanya cakap meminta haknya, tetapi juga bertanggung jawab dalam menjalankan amanah ideologis dalam pergerakannya. Akhirnya HMI bukanlah suatu organisasi yang haus jabatan, dan bukan pula bergerak karena jabatan, melainkan HMI digerakkan atas dasar niat dan cita-cita penuh dengan kemuliaan. Bukan mahir jilat-menjilat pengatur jabatan. Hanya pada Allah Swt kita menyerahkan diri, dan hanya pada Rasulullah Saw pula kita menerima syafaat. Semoga kita selalu dalam misi kebenaran, bukan pembenaran. Yakusa !!!


Pipin Cakaba29 May, 2019
IMG-20190529-WA0003.jpg

3min770

Independensia | Jatinangor – Komisariat Sastra UNPAD Cabang Jatinangor Sumedang dengan resmi dilantik di Aula Masjid Al-Asa’akir UNPAD Jatinangor. Selasa (28/05/19). Dinahkodai oleh kader muda yang duduk di semester dua yaitu saudara Fakih Fadillah, menjadikan semangat baru  pada Komisariat Sastra UNPAD tersebut.

Doc. sesuai agenda pelantikan pengurus Komisariat lakukan photo bersama/photo

Pelantikan tersebut dilaksanakan pada pukul 15.30 WIB yang dihadiri oleh perwakilan pengurus Badan Koordinasi HMI Jawa Barat, pengurus cabang, dan ketua komisariat lingkup cabang Jatinangor Sumedang.

 

Agenda tersebut secara khidmat melaksanakan pelantikan pengurus baru, pesan yang disampaikan dimulai dari ketua demisioner komisariat sastra UNPAD sampai ke ketua cabang Jatinangor Sumedang yang sekaligus melantik.

 

Harapan Dini selaku demisioner menumpukan harapan, seperti apa yang disampaikan saat sambutannya “memajukan komisariat dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas kader melalui kajian dan kegiatan komisariat yang lainnya.” Ucap Dini Solehudin.

 

Harapan yang diberikan kepada nahkoda baru ini begitu banyak dilontarkan oleh berbagi pihak dan dapat bersinergi dengan seluruh aspek kepengurusan baik pada tingkatan komisariat maupun cabang dilingkup cabang Jatinangor Sumedang.

 

Selain Dini Solehudin, Gian Egia selaku ketua umum Cabang menyampaikan harapan saat sambutannya, “Semoga komisariat sastra bisa menjadi inspirasi untuk komisariat lainnya dalam berkader untuk menjadi kader yang paripurna.” Ucap Gian Egia

 

Fakih Fadilah selaku ketua umum komisariat Sastra UNPAD bercita-cita “Roda kaderisasi harus terus berjalan. Maka visi saya pada kepengurusan tahun ini membawakan dua nilai yaitu mewujudkan komisariat sastra UNPAD yang populis dan progresif, terus bergerak ke arah kemajuan demi mewujudkan kesejahteraan untuk bersama dilingkungan yang paling kecil yaitu komisariat dan ketika dua nilai ini digabungkan maka akan tercipta kualitas kader yang baik yang menunjang kader untuk menjadi muslim profesional intelegensia” ujar Fakih

 

Sosok Fakih dalam menahkodai komisariat sastra pun menjadi inspirasi dimana jenjang semester yang masih muda namun berani untuk menjadi seorang pemimpin di Komisariat. Secara semester ia baru menginjak semester dua di kampusnya. (Dandi)

 


Pipin Cakaba12 May, 2019
IMG-20190512-WA0013.jpg

1min100

Lapmi | Tanjabbar – Majlis Daerah (MD) Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kabupaten Tanjung Jabung Barat menggelar acara buka puasa bersama bagi alumni dan kader HMI Tanjabbar, Minggu (12/05/2019).

Doc. Saat berbuka puasa bersama antara KAHMI dan Kader HMI Tanjabbar/photo/jurnalis/Dika

Kegiatan yang digelar di rumah ketua KAHMI Tanjabbar Ahmad Jahfar itu di ikuti sedikitnya kurang lebih 100 alumni dan kader.

Dari release yang diterima oleh jurnalis Independensia, turut hadir para tokoh HMI yang sudah tidak asing di telinga publik tanjabbar, seperti Ahmad Jafar, Abdul Jalil, Ahmad Petensili, Zakaria Ansori dan para alumni lainnya.

Dalam sambutannya ketua kahmi tanjabbar Ahmad Jafar menyampaikan Acara Buka bersama adalah agenda rutin yang selalu dilaksanakan setiap tahunnya oleh kahmi Tanjabbar.

Acara ini merupakan ajang silaturahmi bagi kader HMI Cabang Tanjabbar dengan Alumni HMI yang ada di Tanjabbar. Sekaligus mempererat rasa kekeluargaan yang harmonis.

“Silaturahmi seperti ini perlu dilaksanakan demi mempererat kembali hubungan kekeluargaan yang sudah terjalin” ucap Jafar


Pipin Cakaba11 May, 2019
IMG-20190511-WA0009.jpg

2min230

Lapmi | Tanjabbar – Para mahasiswa yang tergabung Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Tanjung Jabung Barat (HMI Tanjabbar) melakukan penggalangan dana untuk korban kebakaran di Desa Pangkal Duri, Kecamatan Mendahara, Kabupaten Tanjung Jabung Timur yang terjadi pada kamis malam 09 Mei 2019 lalu.

Doc. Saat Kader HMI Tanjabbar melakukan galang dana dengan mamainkan musik akustik/photo/Dika

 

Penggalangan dana tersebut dilakukan pada hari sabtu (11/05/2019). Dalam melakukan penggalangan dana tersebut, para kader HMI Tanjabbar terjun langsung di simpang wisno sambil memainkan musik akustik yang dilakukan oleh lembaga seni mahasiswa islam (LSMI).

Selain itu, mereka juga menerima bantuan dalam bentuk barang, pakaian alat-alat dapur, dan barang-barang lainnya yang dinilai dibutuhkan korban kebakaran.

Fikri efendi selaku koordinator penggalangan dana kebakaran menyampaikan ucapan terima kasih kepada masyarakat kuala tungkal yang telah berpartisipasi membantu saudara kita yang terkena musibah kebakaran di pangkal duri, semoga ini menjadi amal bagi kita semua.

“Sebagai kader umat dan kader bangsa, tentu hal ini membuat HMI terpanggil, kita berharap sedikitnya dengan bantuan ini nantinya bisa meringankan beban saudara kita yang di Desa Pangkal Duri, Kecamatan mendahar Kabupaten Tanjung Jabung Timur” pungkas Fikri

Sebagaimana diketahui, kebakaran yang terjadi di Desa pangkal duri kecamatan mendahara Kabupaten Tanjung Jabung Timur, pada kamis 9 April 2019 lalu telah menghanguskan 62 unit rumah di desa pangkal duri tersebut.

Tidak ada korban nyawa dalam insiden tersebut, namun sebanyak 192 jiwa terpaksa di ungsikan karena kehilangan tempat tinggal.


Pipin Cakaba2 May, 2019
IMG-20190502-WA0002.jpg

20min761

Oleh : Moch Syaroni (Kader HMI Cabang Surabaya)

 

“HMI hendaknya benar-benar HMI, jangan sampai suka menyendiri”.

(Panglima Besar Jenderal Sudirman)

Kutipan diatas diambil dari pidato Pak Dirman dalam sambutannya pada peringatan Dies Natalis I HMI di Pendopo Bangsal Kepatihan, 6 Februari 1948. HMI yang pertama merupakan akronim dari Himpunan Mahasiswa Islam dan yang kedua adalah Harapan Masyarakat Indonesia.

Dalam perjalanannya sebagai sebuah organisasi kemahasiswaan, HMI telah terbukti mampu bertahan dari segala tantangan dan hantaman yang berasal dari luar tubuhnya. Pada awal berdirinya HMI langsung dihadapkan pada perjuangan fisik melawan agresi militer Belanda. Revolusi fisik yang membutuhkan segenap komponen kekuatan bangsa, termasuk didalamnya pemuda dan mahasiswa. Banyak kader HMI yang terjun langsung dalam kancah fase perjuangan tersebut.

Begitu pula dalam hal pertentangan ideologi. HMI dapat bertahan dari gempuran tuntutan pembubaran yang disuarakan PKI melalui organisasi underbouwnya CGMI. Tidak tanggung-tanggung yang menuntut keras adalah langsung Ketua Umum PKI D.N Aidit dalam rapat umum menjelang kongres CGMI. ”Kalau tidak dapat membubarkan HMI, Lebih baik pakai sarung”, kata D.N Aidit dihadapan puluhan ribu kader CGMI di Gelora Bung Karno Senayan Jakarta. Sejarah membuktikan HMI dapat bertahan, bahkan menjadi pelopor gerakan mahasiswa yang menyatu dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang menuntut pembubaran PKI yang kemudian pada akhirnya meruntuhkan kekuasaaan Orde Lama dan mengantar Indonesia memasuki Orde Baru.

Sejak berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam pada  tanggal  5  Februari  1947  sampai  saat  ini  (72  tahun) silam.  HMI  menyumbang  kontribusi  besar  dalam  dinamika  kebangsaan  di  Indonesia.  Tentunya  ini  didasarkan pada tujuan awal HMI berdiri. Tujuan itu memiliki dua poin. Pertama : Mempertahankan  Negara Republik Indonesia dan Mempertinggi Derajat Rakyat Indonesia.  Dan Kedua : Menegakan  dan  Mengembangkan  Ajaran  Islam.  Tujuan tersebut tentunya tidak berlebihan, mengingat kondisi Indonesia pada saat waktu itu.

Sejak runtuhnya orde lama tidak hanya memberikan harapan baru kepada rakyat Indonesia, akan tetapi juga memberikan ”hadiah-hadiah” berupa diangkatnya tokoh-tokoh organisasi maupun gerakan mahasiswa yang berjasa membantu militer untuk menumbangkan orde lama menjadi anggota parlemen. Mungkin sejak saat itulah HMI dekat dengan lingkaran kekuasaan politik di Indonesia. Selama kepemimpinan Presiden Soeharto banyak alumni HMI yang menjadi menteri ataupun pejabat tinggi lainnya di jajaran kekuasaan politik.

Lalu apa yang salah dari fenomena ini? Tidak ada yang salah selama alumni HMI tidak memanfaatkan adik-adiknya di HMI untuk kepentingan yg menguntungkan secara pribadi maupun kelompoknya atau politiknya, dan adik-adik HMI tidak ”kegenitan” memanfaatkan alumninya yang berada di tempat pusat kekuasaan untuk kepentingan pribadinya. Akan tetapi dalam kenyataannya tidaklah seperti yang terjadi diatas.

Kader HMI bergeliat dengan semangat menggebu-nggebu ketika terjadi gejolak politik nasional yang melibatkan ”abangnda-abangndanya”. Masing-masing berebut tempat untuk menjadi yang paling dekat dengan alumninya yang sudah menjadi tokoh dengan harapan dapat menyelamatkan masa depannya untuk berkarir di politik, karena memang tidak punya keahlian dan prestasi akademis apapun selain pandai beretorika kosong dan “mengolah wacana“ yang akan cuman menghasilkan narasi kosong.

Manisnya kamu, eh gula kekuasaaan telah menjadikan politik sebagai panglima didalam tubuh HMI yang menghegemoni. Kultur perkaderan di HMI memang menempa setiap kader untuk menjadi pioner atau pemimpin di segala bidang, dan politik merupakan batu loncatan yang murah dan mudah untuk menonjolkan eksistensi seseorang. Cukup dengan memegang jabatan organisasi kemahasiswaan/kepemudaan, ataupun ormas dengan massa yang banyak serta kecakapan beretorika kosong sudah bisa menjadi alat tawar menawar dalam kekuatan politik, ditambah dengan jaringan alumninya yang tersebar disegala disegala bidang.

Akibatnya adalah kultur atau tradisi intelektualitas yang terbangun pada tiga dekade awal berdirinya HMI mulai meluntur. Wacana pembaharuan pemikiran yang populer di era Cak Nur kini jarang dilontarkan kader-kader HMI. Padahal diakui atau tidak, intelektualitas merupakan salah satu kunci kekuatan HMI. Nilai-nilai Dasar Perjuangan yang merupakan landasan ideologi perjuangan HMI dimana Cak Nur ketika hendak merumuskan NDP untuk sebagai landasan bergerak, berfikir, berkepercayaan, dsb yang menjadi NIK (Nilai identitas Kader). NDP yang sebelumnya mampu menyemangati pergolakan intelektual dan wacana keagamaan kader HMI saat ini justru semakin tidak diminati kader. Bisa dilihat dari gejala makin minimnya tradisi diskusi tentang keIslaman, disamping lemahnya semangat membangun wacana pemikiran Islam yang pernah disandang berberapa dekade lalu. Bahkan ada singkat kata “kalau ingin belajar politik sudah tepat masuk HMI, tetapi kalau mencari ilmu agama jangan di HMI karena anda tidak akan mendapatkan apa-apa”.

Begitu pula dalam bidang profesionalitas saat ini. Jarang kader HMI yang benar-benar aktif dan giat ber-HMI duduk di jabatan tinggi profesi atau eksis diakui sebagai pakar dalam profesi tertentu, kalaupun ada itu didapatkan karena memang kesungguhan mereka belajar dan menempuh studinya secara serius dalam bidang profesinya, bukan karena HMI nya.

Kondisi diatas membuat HMI jauh dari masyarakat. Diiringi dengan banyaknya masyarakat yang sangat awam dengan nama Himpunan Mahasiswa Islam dan jarang bahkan tidak sama sekali merasakan adanya ke eksistensial HMI. Jauh karena kader HMI asyik dengan wacananya yang melangit tanpa memberikan kontribusi ataupun solusi terhadap permasalahan bangsa. Berapa puluh prokernas yg dibahas di konggres sampai sejauh mana kader HMI mampu mengawal hal tersebut. HMI pun terpinggirkan dalam dunia tempatnya berasal yaitu kampus dan kemahasiswaan. Terlebih di kampus-kampus ternama. bisa dikatakan HMI telah kehilangan peran-perannya. Jalur akademis dan intelekual lebih diramaikan oleh pers kampus dan kelompok studi mahasiswa sedangkan aktivitas keislaman didominasi oleh UKM Kerohanian Islam kampus. Jabatan strategis penentu kebijakan kemahasiswaan seperti BEM, SM dan MPM pun tidak dapat dikuasai oleh kader HMI. Kader HMI tampaknya lebih asyik menyendiri didalam dunianya, yaitu intrik-mengintrik sesama kader untuk bersaing merebut jabatan tinggi di tingkatan struktur organisasi HMI, mulai dari komisariat sampai dengan Pengurus Besar. Harapan kedepan nya Pak Dirman dalam kutipan diatas yaitu HMI supaya jangan sampai menyendiri agaknya tidak terwujud.

Sebagai sebuah organisasi kemahasiswaan terbesar secara kuantitas pun masih perlu dipertanyakan keabsahannya. Mungkin benar adanya di atas kertas, tetapi fakta dilapangan tidak menunjukkan indikasi tersebut. Sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap menjelang Konggres HMI ketika diadakan verifikasi jumlah anggota, Pengurus Cabang banyak yang me-mark up laporan jumlah pengurus/anggotsnya agar bisa berpengaruh terhadap jumlah delegasi yang akan dikirim mengikuti Konggres. Bukankah semakin banyak jumlah delegasi yang mempunyai hak suara bisa menjadi alat tawar menawar dukungan terhadap para calon Ketua Umum PB HMI.

Begitu pula jalannya konggres. Bagi yang mengikuti suasana persidangan dalam konggres akan mengatakan bahwa kongres hanyalah tempat berkumpul orang-orang yang ingin menunjukkan dirinya sebagai macan dalam forum yang sedang berlatih vokal dengan retorika atau narasi kosong. Hampir tidak ada perdebatan cerdas yang membahas solusi atas problematika umat dan bangsa. Molornya konggres dari jadwal yang telah ditetapkan pun bukan karena ada hal substansial yang sedang dibahas, akan tetapi karena ketidakdisplinan peserta mengikuti persidangan, juga karena adanya tarik menarik kekuatan politik para kandidat Ketua Umum yang belum mencapai kata sepakat untuk pembagian posisi di kepengurusan Pengurus Besar dibawah Ketua Umum terpilih.

Kalau sudah seperti ini masihkah HMI menjadi harapan masyarakat Indonesia? kalau pertanyaan itu harus dijawab sekarang tampaknya sulit untuk dijawab. Tetapi sulit bukanlah mustahil. Harapan kedepan bahwa HMI benar-benar menjadi harapan masyarakat Indonesia masih ada.

Telah banyak solusi atau pun kritikan yang disampaikan oleh kader maupun alumni yang masih peduli dengan organisasi ini yang memang relevan untuk dilaksanakan oleh pengurus maupun kader di HMI. Kuncinya hanyalah di kemauan dan kerja nyata setiap pengurus baik dari tingkatan Komisariat, Cabang, Badko dan Pengurus Besar untuk membenahi kembali kunci kekuatan HMI yang terletak di tradisi intelektual dan independensi agar memori penjelasan tujuan dan tafsir independensi HMI tidak sekedar menjadi teks mati tanpa makna dalam jiwa-jiwa kader HMI. Kerja nyata penting dilakukan karena memang selama ini HMI lebih terkenal dengan wacana-wacana yang ”melangit” tetapi tidak bisa diimplementasikan pada realitas kehidupan sebenarnya.

Perkaderan yang merupakan kunci eksistensi keberlangsungan HMI sampai saat ini sudah waktunya direkonstruksi agar adaptif sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. Abdullah Hemahua, aktivis veteran dan mantan Ketua Umum PB HMI pernah mengatakan bahwa perkaderan formal HMI adalah perkaderan terbaik yang pernah ada di antara perkaderan organisasi kemahasiswaan lainnya. Akan tetapi sebaik apapun suatu pengkaderan yang pernah ada, bukan berarti anti perubahan. Silahkan lakukan strategi, taktik, lobby, negosiasi, konsolidasi tapi mohon jangan dalam soal perkaderan. Didik adik-adik sebagai kader perjuangan jangan didik adik-adik sebagai kader yang instan.

Pengkaderan formal seperti Latihan Kader 1 Basic Training (LK 1) belakangan ini tampaknya mulai mengalami degradasi substansi dari perkaderan itu sendiri. LK 1 saat ini hanyalah berupa seremonial rekrutmen yang dijalankan HMI tanpa ada makna atau esensi yang harusnya di dapat oleh seseorang yang memang dipersiapkan menjadi tulang punggung dari suatu organisasi. Untuk itu sistem dan pola perkaderan harus dikembalikan dalam bingkai nilai-nilai yang menjadi ruh dan marwah perjuangan HMI yaitu Islam, kemudian penekanan pada strategi perkaderan yang memberikan stimulus atau motivasi kepada kader untuk mengembangkan kepribadian kader secara integral dan komprehensif dengan menyentuh berbagai potensi yang dimilikinya.

Secara  historis,  dinamika  problem  kebangsaan  Indonesia  dari  masa  ke masa juga menyeret adanya kedinamisan organisasi HMI. Faktanya dalam tubuh HMI adanya perubahan-perubahan untuk menyesuaikan dengan kondisi zaman. Pak Agus  Salim  Sitompul  dengan  apik  dan  sistematis  menjelaskan  bagaimana perubahan-perubahan  di  dalam  tubuh  HMI dengan berbagai cara dengan salah satu diantaranya mampu menjadi seorang sejarahwan dalam organisasi HMI.  Dalam  fase  pembangunan  di  HMI  mulai  terbentuknya konstitusi/aturan sebagaimana Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) dalam HMI, sistematika perkaderan atau lebih familiar pedoman perkaderan, sampai adanya pembentukan lembaga pengembangan profesi (LPP) di HMI. Tidak kalah penting adalah perkaderan yang terarah untuk mengasah minat dan bakat agar kader HMI mempunyai kualifikasi pada bidang tertentu. Output yang diharapkan tentunya adalah setiap kader HMI mempunyai watak sebagai problem solver bukan politikus praktis apalagi problem maker.

Dinamisasi dalam tubuh HMI merupakan suatu respons terhadap dinamika kebangsaan.  Agaknya  perubahan  tersebut  mencirikan  komitmen  HMI  dalam upaya memberikan kontribusi bagi Indonesia lewat SDM nya. Sumber  daya  manusia  yang  ingin  di  keluarkan  HMI  lewat  perkaderan  yakni  terdapat ciri-ciri lima  kualitas  Insan  Cita.  Lima  kualitas  Insan  Cita  ini  merupakan aktualisasi  dari tujuan HMI  yang  tertera  di  dalam  Anggaran  Dasar  pasal  4 Terbinanya Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi, Yang Bernafaskan Islam dan  Bertanggung Jawab Atas Terwujudnya Masyarakat Adil Dan Makmur Yang Di  Ridhoi  Allah SWT.  Untuk  membentuk  5 kualitas Insan  Cita  ini,  di  butuhkan  kerja  keras  dan  perjuangan  yang  maksimal  dalam hal perkaderan.

Perkaderan di HMI memiliki jenjang terstruktur dan rapi. Mulai, LK 1 (Basic  Training), LK 2 (Intermediate Training), dan LK 3 (Advance Training). Sisi lain dari perkaderan di HMI adalah adanya penunjangan di bidang keprofesian. Lewat Lembaga Pengembangan Profesi (LPP).  Lembaga  ini  mempunyai basic pelatihan masing-masing atau yang lebih familiar disebut dengan Latihan Khusus (Laksus). lembaga-lembaga yang dimiliki HMI seperti diantaranya : Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI), Lembaga Ekonomi Mahasiswa Islam (LEMI), Lembaga Pendidikan Mahasiswa Islam (LAPENMI), Lembaga Kesehatan Mahasiswa  Islam (LKMI),  Lembaga Pariwisata Dan Pecinta Alam (LEPPAMI), Lembaga Seni Mahasiswa Islam (LSMI), Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum Mahasiswa Islam (LKBHMI),  Lembaga  Dakwah Mahasiswa Islam (LDMI), Lembaga  Teknologi  Mahasiswa  Islam  (LTMI), dsb.  Dari  sini,  HMI  banyak  tokoh-tokoh  nasional  yang  di  lahirkan.  Tokoh-tokoh  intelektual, politik, pembisnis, sampai keagamaan. ambil contohnya, Nurcholis Madjid, Achmad Wahib, Dawam Rahardjo, Jusuf  Kalla, Akbar Tanjung, Anis Baswedan, Mahfud MD, Azyumardi Azra, dan Abu Bakar Ba’asyir dll.

HMI Dalam Era Milenial, ditandai dengan kemajuan dan ketatnya persaingan tekhnologi. Zaman ini menjadi penanda munculnya kemajuan sebuah peradaban. Secara  teoritis akhir dari reformasi eropa mengatakan bahwa evolusi paradigma dari Kosmosentri, Theosentris, Antroposentris. Memasuki abad ke 21 munculah paradigma baru yakni Tekhnosentris.  Pada  giliranya akan menggantikan Antroposentris ke Tekhnosentris sebagai timbangan pusat peradaban. Jika kita mengkaji ini saya teringat oleh Alvin tofler mengingatkan kita pada munculnya tiga step gelombang peradaban. Yakni pertanian, industri dan informasi. Gelombang informasi inilah sebagai akses teknologi.

Dalam realitasnya seakan dunia semakin sempit. Tanpa adanya sebuah batas garis teritorial tertentu dan bisa mengakses informasi apapun. Kapanpun dan dimanapun era teknologi juga mengaharuskan manusia untuk bersaing. Dalam hal ini pemenangnya adalah kreatifitas dan inovasi. Selanjutnya yang menjadi pertanyaan lebih keras adalah bagaimana HMI merespon tantangan ini? Namun  pada  kenyataanya  eksitensi  HMI  tergerus  oleh  perkembangan zaman. Bahkan dari tahun 2000an sampai hari ini, HMI tidak mampu mencetak tokoh-tokoh intelektual atau Nasional.

Mengingat hal ini, perlu adanya formulasi dan terobosan baru perkaderan di zaman  milenial seperti ini. Sesuatu keharusan adanya kepahaman dan internalisasi 5 kualitas insan cita pada diri kader dimana juga menjadi ciri khas Nilai identitas kader untuk berproses di HMI baik secara struktural maupun fungsional. Konsekuensi logis dari adanya fenomena  ini,  kader  HMI harus mempunyai skill (kemampuan), agar bisa bersaing dan meraih cita-cita yang diharapkannya. Masa depan HMI terletak pada eksistensi, dan eksistensi HMI berkaitan erat dengan output yang di keluarkan. Realitanya output yang di keluarkan HMI hari ini secara garis besar adalah orang-orang yang mempunyai orientasi dalam politik. Untuk itu mengimbanginya, perlu membentuk output yang siap survive di berbagai bidang. Misalnya :  di bidang Jurnalis, dakwah, teknologi, kesehatan, ekonomi, pendidikan dsb.

Perkaderan di HMI haruslah menjawab tantangan ini. Beberapa hal yang patut menjadi PR bersama, dalam hal individual, internalisasi nilai-nilai yang di upayakan dalam tujuan HMI pada (AD pasal 4) harus menjadi ruh dan marwah perkaderan. Profil kader HMI,  haruslah mampu menjadi Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso dan tut wuri handayani. sosok yang mampu sebagai patron perkaderan dan religius dalam tanda kutip selalu berpikiran kemajuan dan loyalis yang mampu mengejawantahkan terhadap nilai-nilai kegamaan yang tertuang dalam tafsir asas, sifat, peran, fungsi, tujuan maupun dalam NDP, bebas dari new jahiliah (kemunduran), kader HMI haruslah selalu menyandarkan pada sisi intelektualitasnya, dalam hal ini menjadi fokus utama. Karena basis intelektualitas adalah instrumen bagi majunya para setiap kader untuk menciptakan hal-hal yang  baru (kreatif dan inovasi). Memiliki paradigma solutif untuk memberikan solusi-solusi terhadap  permasalahan  kebangsaan dan keumatan. Serta memiliki keahlian dalam profesi yang jelas guna  mengupayakan kader HMI berkontribusi dalam memajukan kehidupan umat dan bangsa.

Dalam Konstitusi HMI harus adanya pembenahan di dalam tubuh HMI sendiri. Agenda besar yang harus dituntaskan HMI. Pertama : merubah internal para kader HMI yang  berorientasi pada politik yang menjadi mainstream dari hari ke hari dan menjadikan para kader yang punya daya inovasi dan kreatifitas. Oleh karenanya pemetaan lewat pengkajian dan penilitian  potensi kader kepada sebuah keberanian berinovasi. Perkaderan HMI harus  disesuaikan dengan bakat dan minat para kader. Yang dimana harapannya nanti menjadikan semangat dan dorongan dalam hal berproses dalam himpunan ini. Kedua : Mengembalikan  budaya intelektual di HMI itu sendiri. Menjadi suatu keharusan bila HMI tak ingin menjadi  korban  kemajuan. Ketiga : memaksimalkan dan mengoptimalkan lembaga pengembangan profesi.  Sadar atau tidak sebenarnya daya tawar HMI hari ini terletak pada Lembaga Pengembangan Profesinya. Tentunya ini tidak berlebihan, karena zaman milenial  ini  yang  dibutuhkan adalah profesi dan inovasi. Dimana hal tersebut diiringi banyaknya mahasiswa yang semakin jenuh dan bosan setelah berkuliah dalam kelas mendapatkan hal-hal yang sifatnya teoritis dan berorganisasi pun juga menemukan hal-hal yang sifatnya teoritis yang membuat mahasiswa semakin bosan dan menjadi kendala lain yaitu tentang penugasan dimana kurikulum sekarang yang menurut saya sangat tidak seimbang yang hanya mengedepankan aspek kognitif nya saja tanpa memperhatikan, dan mempertimbangkanaspek afektif dan psikomotoriknya. Lewat  LPP  inilah pembinaan dan pembentukan output HMI akan jelas. Untuk mewujudkan hal tersebut adanya perkaderan di LPP yang sitematis terarah dan terstrukur harus dilakukan. Maka dari itu perlu adanya setiap komisariat, cabang, badko, hingga PB HMI paham dan menguasai betul tentang pedoman perkaderan dan skema perkaderan. Dan pelatihan seperti “Senior Course” juga perlu diikuti. Dengan adanya suatu komisariat yang banyak dalam ruang lingkup cabang harus juga diimbangi dengan seorang tenaga Instruktur yang banyak pula. Untuk ini adanya kurikulum serta metode yang jelas yang dibutuhkan dalam setiap pelatihan di HMI. Sedianya harus menggandeng Badan  Penglola Latihan (BPL) dan Pembinaan Anggota.

Kemampuan di berbagai bidang ini haruslah disadari, agar konsensus HMI untuk  membangun bangsa tetap menjadi garis utama perjuangannya. Apalagi dalam kemelut era milenial kita disuguhkan berbagai situasi dengan bonus demografi, digitalisai dsb. Bukan hal yang mustahil jika beberapa solusi diatas di laksanakan maka HMI akan menjadi organisasi yang siap bersaing dalam menjawab tantangan zaman. bukan sebaliknya

HMI sudah terbukti mampu bertahan dari tantangan dan hantaman yang berasal dari luar dan kedepan mampukah HMI menghadapi tantangan yang berasal dari dalam tubuhnya sendiri? Yang bisa menjawab adalah segenap pengurus HMI dari Pengurus Besar sampai dengan komisariat dan tentunya seluruh kader HMI yang masih mencintai Himpunan ini. Kecintaan yang besar dari segenap keluarga besar Hijau Hitam semoga tidak mengurangi keobjektivitasan untuk mengkritisi segala kekurangan yang ada di Himpunan ini dan membenahi untuk kemajuan umat dan bangsa.

Salam hormat dan angkat topi dari saya pada setiap kader yang masih menjalankan roda organisasi dengan secara Ikhlas dan Niat Ingsun Belajar. Semangat Berhimpun.


Pipin Cakaba21 April, 2019
IMG_20190420_200330-1280x720.jpg

4min320

Lapmi| Kab.Bandung – Peringatan Isra Mi’raj yang bertepatan dengan Malam Nisfu Sya’ban yaitu pada tanggal 14-15 Sya’ban 1440 H, tercantum pada kalender Hijriyah. Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Arraf kerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Dakwah dan Komunikasi Cabang Kabupaten Bandung, Sabtu malam (20/04/2019). Di Masjid Al-Arraf, Komplek Permata Biru, Cinunuk, Bandung. Agenda tersebut bertajuk “Refleksi Risalah Kenabian serta Menjemput Bulan Penuh Kesucian”.

Doc. sesi photo bersama DKM Al-Arraf, Kader HMI dan Masyarakat

Turut hadir Dr. H. Isep Zaynal Arifin selaku penceramah pada agenda tersebut. Begitu antusias masyarakat sekitar datang sehingga memenuhi Masjid Al-Arraf sampai kader HMI. Dari orang tua, dewasa sampai anak-anak, perempuan dan laki-laki. Dalam hal ini HMI hadir sebagai mitra pula untuk melakukan pengabdian masyarakat pada bulan Ramadhan yang akan datang. Seperti apa yang di sampaikan oleh Rafli Resmana selaku Ketua Umum HMI Komisariat Dakwah dan Komunikasi pada sambutannya.

 

“Di HMI kami tidak hanya berorganisasi biasa saja, melainkan kami harus dapat mengabadikan diri terhadap masyarakat seperti halnya sekarang ini, bahkan dituntut untuk bisa berbicara di hadapan masyarakat banyak. Selain itu pula Kader HMI ini, sebagai jembatan aspirasi masyarakat kepada pemerintah yaitu pengabdian” ucap Rafli.

 

Sambutan baik terhadap kehadiran HMI dari H. Kahfi Supriadi, S.Ag. selaku Ketua DKM Al-Arraf, menuturkan “dengan hadirnya ade- ade dari HMI Komisariat Dakwah dan Komunikasi ini, saya haturkan terimakasih. Selanjutnya diharapkan agenda seperti ini tidak hanya sekali saja melainkan harus berkesinambungan. Kedepannya di bulan Ramadhan yang akan datang dapat mengisi kegiatan di DKM Al-Arraf ini, pula kegiatan kemasyarakatan”, tuturnya.

Doc.saat ceramah disampaikan oleh Dr. H. Isep Zaynal Arifin

Pada acara tersebut yang sebelumnya diiringi oleh lantunan Sholawat dari group Hadroh Aswaja UIN Bandung, sebagai pembuka acara tausiyah. Dr. H. Isep Zaynal Arifin, selaku penceramah, menyampaikan, “di kesempatan ini, saya ingin menerangkan bagaiman Nabi Muhammad SAW melakukan isra mi’raj untuk para umatnya agar dalam beribadah sholat tidak sama dengan sholatnya di zaman Nabi Musa, selain itu pula shalat yang makbul, sholat yang baik bukan hanya menggugurkan kewajiban saja. Jika memang ibadah apapun di lakukan dengan baik hasilnya kepada perilaku yang baik pula”, ucapnya.

 

Kemudian, Dr. H. Isep Zaynal Arifin, mengucapkan, “sedikit saya menerangkan bahwa manusia tersebut adalah makhluk kemungkinan, berbeda seperti iblis dan malaikat sebagai makhluk pasti yang artinya Malaikat ini pasti Soleh sedangkan Iblis/syaiton pasti salah, nah manusia mungkin soleh ataupun salah. Semoga amalan baik kita semuanya di bulan Rajab, sampai kepada bulan Sya’ban kemudian amalan baik tersebut sampai pula pada bulan Ramadhan”, tutupnya.


Pipin Cakaba20 April, 2019
IMG-20190420-WA0025.jpg

2min400

Lapmi|Garut- Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat IPI, Cabang Garut dengan resmi dilantik. Agenda tersebut dihadiri oleh pengurus dan kader HMI Komisariat IPI, pengurus HMI Cabang Garut, Alumni serta hadir pula tamu undangan dari Organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Acara tersebut bertajuk “Bersinergi dalam mewujudkan kader yang berintegritas dan berkualitas Insan Cita”. Jum’at kemarin (19/04/30/2019) di Aula Dinas Pendidikan, Kabupaten Garut.

Doc. Saat sesi photo bersama HMI Cab.Garut, Kom. IPI

Selanjutnya, Ramdani selaku ketua pelaksana agenda pelantikan tersebut, mengungkapkan “dilaksanakan acara ini bukan sekedar menjadi prosesi pelantikan saja, melainkan bertujuan untuk mewujudkan Organisasi yang progresif, mampu menciptakan calon-calon pemimpin yang berkualitas dapat menjalankan amanah konstitusi HMI serta dapat bersinergi dalam mencipta kader yang berintegritas memilih kualitas insan cita”, ungkapnya.

Kemudian mendapat tanggapan baik dari Muhammad Hasanuddin selaku perwakilan Pengurus HMI Cabang Garut, dalam kesempatan itu dapat hadir. Ia menyampaikan “acara ini luar biasa, semangat kader yang luar biasa pula ditambah lagi dengan adanya stadium general, semoga tema yang tertera itu mampu diimplementasikan oleh kader-kader dalam berkehidupan beragama, berbangsa dan bernegara”, pungkasnya.

Kemudian, Nurmin Dewo selaku ketua komisariat IPI yang anyar dilantik tersebut, mengungkapkan, “saya tekankan HMI Komisariat IPI harus terus konsisten untuk melakukan pengkaderan, karena proses kaderisasi dimulai dari komisariat, lalu kedepannya saya akan membangun komisariat dengan metode komunikasi dan koordinasi supaya tidak terjadi konflik-konflik horizontal organisasi yang selalu jadi permasalahan”, ucapnya.

Nurmin Dewo, menambahkan, “komunikasi menjadi keharusan bagi kita, karena sebagai sebuah organisasi yang memiliki intruksi dan jalur koordinasi yang baik. Kemudian untuk kader, sebagai pengurus akan lebih memprioritaskan dan fokus terhadap potensi-potensi yang ada pada diri kader, sehingga bisa menciptakan kader hmi yang berprestasi serta bermanfaat bagi umat dan bangsa sebagaimana sesuai dengan mission HMI”, tambahnya.

 

(Rifatul Sadiyah)


Pipin Cakaba11 April, 2019
IMG-20190411-WA0014.jpg

3min280

Lapmi | Kab. Bandung- Pembukaan kegiatan Basic Trainning, Latihan Kader (LK 1) Komisariat Dakwah dan Komunikasi HMI Cabang Kabupaten Bandung yang mengusung tema “Terbinanya kepribadian muslim yang berkualitas akademis sadar akan fungsi dan peranannya dalam organisasi serta hak dan kewajibannya sebagi kader umat dan kader bangsa” Kamis (11/04/2019) di Pusat Kegiatan, Permai V, Cibiru, Bandung. Kegiatan tersebut diihadiri oleh sejumlah peserta perwakilan dari Mahasiswa berbagai jurusan di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.

 

Kemudian turut hadir pula, Gery selaku perwakilan fungsionaris HMI Cakaba. Dr. Khoirudin, selaku perwakilan dari Korp Alumni HMI, (KAHMI), juga berbagai tamu undangan dari berbagai Komisariat ruang lingkup HMI Cakaba.

 

Selanjutnya, 21 Peserta yang di nyatakan lulus pada tahap awal interview calon kader. Sama seperti yang disampaikan, Maulana Santos, selaku Ketua Organizzing Comitte (OC) mengatakan, “tercatat pada 11 Maret 2019  dibentuk panitia OC sejumlah 30 orang, dilanjutkan pembukaan stand di mulai sejak tanggal 13 Maret – 12 April 2019, sehingga peserta yang mendaftar  43 orang, kemudian peserta yang mengikuti screening (interview) yakni 25 orang, hingga terakhir yang tercatat hadir dalam pembukaan 21 orang”, ucapnya

 

Lalu di jelaskan oleh Rafli Resmana selaku Ketua Umum HMI Kom. Dakkom Cakaba, menyatakan bahwa “ada salah satu universitas di Indonesia yang disinyalir tidak ada organisasi HMI dan itu merupakan suatu kerugian bagi Universitas” pungkasnya.

 

Selanjutnya, Gerry selaku Sekertaris Umum HMI Cakaba, menegaskan “Di kampus tidaklah hanya membutuhkan ruang di kelas untuk menimba ilmu, melainkan diluar itu membutuhkan intelektual pula yakni salahsatunya dengan ber-HMI”, tegasnya.

 

Sama halnya dengan Dr. Khoerudin selaku KAHMI, mengatakan, “semasa perkaderan di HMI sangat membantu dan membangun jaringan berorganisasi dan saya merasa di besarkan dan harus berkontribusi di HMI, tidak akan rugi” ujarnya saat menyampaikan sambutan.

 

Bahkan Dr. Ujang Sapuloh, memotivasi para calon Kader, ia mengatakan, “kondisi HMI hari ini tidak semangat seperti dulu karna mahasiswa hari ini banyak yang pragmatis dari pada idealis, dan bagaimana kita bisa merekrut anggota/calon kader supaya menumbuhkan semangat ber-HMI, itu yang harusnya difikirkan oleh bersama”, tutupnya. Saat menyampaikan stadium general. (Evi)


Pipin Cakaba25 March, 2019
cropped-logooo.png

2min180

Lapmi | Subang- Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Subang dengan resmi melantik Rio Aji Pamungkas sebagai pemimpin baru Komisariat Komputer- Komunikasi Universitas Subang (KK UNSUB), di Gedung Korpri, Jl. Otto Iskandardinata No. 6, Senin (25/03/2019).

Pengurus HMI Komisariat KK UNSUB yang berjumlah 8 orang itu. Berkomitmen bersama Nahkoda barunya untuk memperjuangkan dan menjaga perkaderan di HMI. Utamanya ialah untuk menjadi regenerasi. Pula untuk dibina dan siapkan menjadi tulang punggung kelompok yang besar (masyarakat).

 

Ketua Umum Komisariat KK UNSUB, Rio Aji Pamungkas menyikapi fenomena merosotnya kaderisasi di kampus menjadi tanggung jawab kepengurusannya kedepan. “Menyikapi hal itu, saya berkomitmen untuk meningkatkan lima kualitas insan cita melalui program- program yang sesuai dengan era modern ini. Tentunya dengan berpedoman terhadap pedmoan perkaderan HMI”, ujarnya.

 

Hal itu disampaikan Rio dalam sambutannya (25/03) di Aula Gedung Korpri, Jl. Otto Iskandardinata no 06. Sementara menurut Ketua Umum HMI Cabang Subang, Aris Munandar berpesan dengan dilantiknya kepengurusan baru mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik.

 

“Siapkan diri kita untuk menyongsong masa depan, mewujudkan Indonesia lebih maju dan sejahtera”, pungkasnya.

 

Dalam hal ini, ia mengajak agar kader- kadernya terus berproses di HMI yakni upaya untuk mewujudkan cita- cita mulia Organisasi. Lima Kualitas Insan Cita (5 KIC) yang di maksudkan sebagai Misi yang harus di emban oleh seluruh kader HMI. Sebagai berikut; Insan Akademis, Insan akademis Pencipta, Insan akademis pencipta Pengabdi, Insan akademis pencipta pengabdi Bernafaskan Islam dan Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi, Bernafaskan Islam dan Bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur di Ridhai Allah SWT. (Iing)



Sekilas Kami

Bakornas LAPMI PB HMI merupakan salah satu badan khusus di dalam tubuh organisasi HMI yang bersifat semi-otonom sebagai penyalur minat dan bakat anggota dan wahana pengembangan kader di bidang jurnalistik/pers (ART Pasal 44).


[email protected]

0816-766-496



Newsletter


Media Partner

Independensia.id