Kab. Bandung

Pipin Cakaba21 February, 2019
IMG_20190221_184002_HHT-1280x720.jpg

3min830

Lapmi | Bandung- Pembukaan Training of Trainer (TOT) Badan Pengelola Latihan (BPL) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kabupaten Bandung periode 2018/2019. Pelatihan tersebut dilaksanakan secara lokal untuk kader HMI Cakaba saja. Peserta yang mengikuti TOT tersebut mewakili dari berbagai Komisariat di ruang kerja HMI Cakaba.

 

Jumlah 37 orang peserta dari berbagai Komisariat di ruang kerja HMI Cakaba, paling banyak mengikuti TOT kali ini dari Komisariat Tarbiyah dengan jumlah 18 orang. Tentunya antusias para peserta menjadi suatu bentuk kegiatan TOT ini dinantikan oleh Kader HMI Cakaba.

 

Kegiatan yang bertajuk “Tercipata nya Sumber Daya Instruktur yang Memiliki Kemampuan Akademis, Kemampuan Mengelola Latihan, serta Mampu Menjadikan Diri sebagai Teladan yang Baik”. Dan akan dilaksanakan selama 3 hari kedepan, Kamis petang (21/02/2019) di Pusat Kegiatan HMI Cakaba.

Seperti yang di paparkan oleh Ketua BPL HMI Cakaba dalam sambutannya, “training of trainer ini, bukan untuk sekedar menggugurkan kewajiban atau menjadi settering committe pada LK 1 saja, melainkan harus melanjutkan training selanjutnya agar menjadi seorang pengelola berbagai pelatihan di HMI” ucap Abnu Malik.

 

Di harapkan seluruh peserta yang sudah ditanyakan berhak mengikuti pelatihan TOT tersebut dapat mengikuti pelatihan dengan disiplin dan memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. “Semua butuh proses, inilah proses kawan-kawan untuk menjadi seorang instruktur. Karena instruktur di HMI Cakaba ini, menjadi paling terbanyak jumlah instrukturnya”, ujar Asep selaku Ketua Umum HMI Cakaba dalam sambutannya.

 

Lanjut, Ketua Umum mengatakan “model dan metode perkaderan HMI ini belum ada pembaharuan, maksudnya metode yang dapat menyesuaikan dengan zaman yang relevan dengan keadaan sekarang ini. Semoga di forum pelatihan nantinya dapat berdiskusi sehingga menemukan metode anyar untuk perkaderan yang progresif” ujarnya.

 

Diharapkan kedepannya pun organisasi ini tetap dapat menjaga ke ilmiahannya. Seperti apa yang diutarakan oleh Riki Hermawan selaku Demisioner Ketua Umum BPL periode 2015/2016. “Instruktur itu seorang penjaga ilmiah organisasi, dimana seorang instruktur ini mampu menjadi pengelola latihan yang menggunakan akal sehat”, kata Riki.

 

Kemudian Riki menceritakan bagaimana seorang instruktur ini mampu menjadi sosok yang teladan bagi kader lainnya. “Saya pun dulu seperti kalian semuanya, berproses untuk menjadi seorang instruktur. Dan semoga kawan-kawan semua dapat menjadi instruktur yang di harapkan sesuai dengan tujuan kegiatan TOT ini”, ucapnya.

Proses yang dilakukan ini, menjadikan semangat tenaga instruktur baru HMI Cakaba. Yang kemudian dapat mengelola training lain kedepannya.

Kontributor : Pipin LH


Pipin Cakaba17 February, 2019
IMG-20190215-WA0017-1280x720.jpg

3min770

Lapmi | Soreang – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dalam kiprah 72 tahunnya mempunyai sepak terjang yang amat panjang. Dalam merayakan ulang tahunnya yang ke-72 Tahun, HMI Cabang Kabupaten Bandung menggelar perayaan bersama Bupati Kabupaten Bandung, Dadang Naser di Rumah Dinas Bupati, Soreang, Jum’at siang (15/03/2019) Kabupaten Bandung.

 

Dadang Naser mengatakan, harapan kabupaten Bandung perihal pentingnya HMI dalam gerak pembaharu yang berkiprah dari masa ke masa selalu bersentuhan kepada sisi akademis dan sisi sosial kemasyarakatan.

“Sebagai Organisasi yang mempunyai Azas keislaman dan mempunyai komitmen kebangsaan harus hadir dalam gerakan pembaharuan yang bersifat milenial. Teruslah mengevaluasi segala aspek untuk berkonstribusi pada pembangunan bangsa” Ucap Dadang Naser

 

Lanjutnya, sebagai gerakan pembaharuan yang dapat mempersatukan bangsa dan dapat membaca, mendalami, serta memahami peran kemasyarakatan. Maka HMI diusia yang sudah tidak muda ini dengan adanya agenda pemilu kedepan harus memberikan informasi yang bijak agar masyarakat dapat menentukan pilihannya untuk bersikap dimomen April nanti.

 

Dalam menanggapi pesta demokrasi yang akan digelar 17 April mendatang. “Idealisme kemahasiswaan harus dipegang teguh oleh HMI upaya menunjukan eksistensinya dalam kiprah organisasi kemahasiswaan yang mendorong masyarakat dalam berbagi aspek dalam wujud konstribusi pembanguan bangsa kedepan secara gerakan pembaharuan dalam setiap lini masanya. Dan Akhir kata saya, yakin usaha sampai, jayalah HMI”, tutur Dadang Naser

 

Sambutan baik tersebut dari Bupati Bandung menjadi sebuah acuan motivasi bagi Kader HMI Cabang Kabupaten Bandung untuk terus berkiprah dalam permasalahan sosial tentunya

 

“Semoga HMI di Milad yang ke-72 tahun ini, tetap dapat berkarakter seperti yang di kisahkan dalam sejarahnya. Dan HMI Cabang Kabupaten Bandung tetap menjadi garda terdepan dalam menanggapi permasalahan sosial”, ujar Alfi salah satu Kader HMI Cakaba.

 

Organisasi yang sudah matang dalam usianya ini pun merelevansikan sesuai jamannya untuk dapat mewadahi eksistensi kader kadernya dalam Badan Semi Otonom (BSO) yang dinamai Lembaga Pengembangan Profesi (LPP). Dengan adanya BSO tersebut, agar dapat bersinergi HMI dan aktif membangun sisi sosial kemasyarakatan dengan solutif.

 

“HMI sebagai gerakan pembaharuan yang terus menerus berusaha relevan dengan jaman dan selalu memberikan solusi untuk mengembangkan para kadernya dalam wadah LPP harus bisa lebih kritis dalam menyikapi persoalan bangsa dan bisa lebih memberikan solusi yang nyata dan dapat bermanfaat bagi masyarakat”, Tutup Asep selaku Ketua Umum HMI Cakaba.

 

Kontributor : Dandi


Pipin Cakaba16 February, 2019
IMG-20190216-WA0000.jpg

6min390

Oleh : Fajar Galang P

Demisioner Ketua Umum Komush Cakaba 2017-2018

Hiruk pikuk pesta demokrasi lima tahunan yang saat ini dinikmati rakyat Indonesia kini menjadi sorotan semua kalangan. Terasa, peran aktif kepedulian rakyat sebagai bentuk harapan mereka agar memiliki pemimpin yang dapat membawa setiap daerah kearah lebih baik melalui pemilihan umum. Demos (rakyat) dan cratos (kekuatan), arti dasar bahasa yunani yang mengilhami terciptanya demokrasi. Beragam unsur kekuatan rakyat bersatu padu untuk mendukung salah satu calon legislatif, gubernur, bahkan presiden ditahun berikutnya melalui wadah relawan, organisasi masyarakat, organisai primordial, organisasi buruh dan lain sebagainya. Namun sungguh disayangkan apabila momentum pemilihan umum hanya dijadikan komoditas politik untuk segelintir orang (oknum) agar mendapatkan keuntungan pribadi.

Sebagai organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tetap berdiri pada jalur netral. Seluruh anggota aktif HMI jangan sampai masuk ke dalam kemelut politik yang tengah terjadi saat ini. Saya sepakat terhadap pernyataan Ketua Umum PB HMI tahun 2010-2012 Noer Fajriansyah saat itu, ia menganggap aktvitas politik semacam itu bisa menggangu kestabilan Himpunan itu sendiri.

Sebagai organisasi mahasiswa terbesar, HMI harus berdiri pada jalur netral menyikapi semua kemelut yang ada dalam partai atau politik. Hal ini mengingat alumni HMI berada diseluruh jaringan partai peserta pemilu 2018. Keberpihakan pada salah satu kelompok dalam sebuah partai akan memecah belah soliditas keluarga HMI.

Semua anggota HMI harus bijaksana dalam memainkan peranan mereka. Jika para anggota saling mengklaim mendukung salah satu pihak yang berkonflik, itu sama saja menghantam dan memecah belah persatuan HMI.

HMI sebagai organisasi yang tidak memiliki fatsun politik manapun, sejatinya kita kader mesti menjaga independensi Himpunan ditengah dinamika politik bangsa ini. Saya menegaskan kewajiban menjaga independensi Himpunan merupakan bagian integral dari amanat konstitusi yang mengikat setiap kader HMI dari PB sampai ke tingkat komisariat.

Saya rasa amanat konstitusi jelas menegaskan HMI sebagai organisasi yang independen, namun apa jadinya ketika amanat konstitusi sebagai pedoman tertinggi Himpunan dilacuri oleh seorang oknum kader. Terjadi fenomena yang menjamur dikalangan organisasi mahasiswa, untuk dukung mendukung salah satu kandidat pileg, pilgub, maupun presiden nanti pada tahun 2019. Mahasiswa sebagai kaum intelektual dan yang “katanya” agen perubahan harus mampu memilah dengan baik secara kritis, objektif dan solutif. Karena mahasiswa sebagai kaum menengah yang dapat menjembatani antara rakyat dengan pemerintah. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi perkaderan tertua di Indonesia dan memiliki independensi etis sekaligus organisatoris, kini beberapa kadernya nampak terlibat dalam aktivitas politik yang mengusung kesuksesan salah satu kandidat pada pesta demokrasi di tahun 2018.

Secara organisasi itu sangat mencederai, karena bertentangan dengan AD/ ART (Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga) bahwa HMI bersifat independen (BAB I, pasal 6), dan dijelaskan lebih lengkap didalam Tafsir Independensi yang didalamnya terdapat dua inti yaitu Independensi Etis dan Independensi Organisatoris.

Terdapat penjelasan di dalam Indepensi Organisatoris yaitu dalam melaksanakan dinamika organisasi, HMI secara organisatoris tidak pernah committed dengan kepentingan pihak manapun ataupun kelompok dan golongan manapun kecuali tunduk dan terikat pada kepentingan kebenaran dan objektifitas kejujuran dan keadilan. Agar secara organisatoris HMI dapat melakukan dan menjalankan prinsip-prinsip independensi organisatorisnya, maka HMI dituntut untuk mengembangkan kepemimpinan kuantitatif serta berjiwa independen sehingga perkembangan, pertumbuhan dan kebijaksanaan organisasi mampu diemban selaras dengan hakikat independensi HMI. Untuk itu HMI harus mampu menciptakan kondisi yang baik dan mantap bagi pertumbuhan dan perkembangan kualitas-kualitas kader HMI. Dalam rangka menjalin tegaknya prinsip-prinsip independensi HMI mengimplementasi independensi HMI kepada anggota adalah sebagai berikut:

1. Anggota-anggota HMI terutama aktifitasnya dalam melaksanakan tugasnya harus tunduk kepada ketentuan-ketentuan organisasi serta membawa program perjuangan HMI. Oleh karena itu tidak diperkenankan melakukan kegiatan-kegiatan dengan membawa organisasi atas kehendak pihak luar manapun juga.

2. Mereka tidak dibenarkan mengadakan komitmen-komitmen dengan bentuk apapun dengan pihak luar HMI selain segala sesuatu yang telah diputuskan secara organisatoris.

3. Alumni HMI senantiasa diharapkan untuk arif berjuang meneruskan dan mengembangkan watak independensi etis dimanapun mereka berada dan berfungsi sesuai dengan minat dan potensi dalam rangka membawa hakikat dan mission HMI. Dan menganjurkan serta mendorong alumni untuk menyalurkan aspirasi kualitatifnya secara tepat dan melalui semua jalur pembaktian baik jalur organisasi professional kewiraswastaan, lembaga-lembaga sosial, wadah aspirasi politik lembaga pemerintahan ataupun jalur-jalur lainnya yang semata-mata hanya karena hak dan tanggung jawabnya dalam rangka merealisir kehidupan masyarakat adil makmuryang diridhoi Allah SWT. dalam menjalankan garis independen HMI dengan ketentuan-ketentuan tersebut di atas, pertimbangan HMI semata-mata adalah untuk memelihara mengembangkan anggota serta peranan HMI dalam rangka ikut bertanggung jawab atas Negara dan bangsa. Karenanya menjadi dasar  dan kriteria setiap sikap HMI semata-mata adalah kepentingan nasional bukan kepentingan golongan atau partai dan pihak penguasa sekalipun. Bersikap independen berarti sanggup berpikir dan berbuat sendiri dengan menempuh resiko. Ini adalah suatu konsekuensi atau sikap pemuda. Mahasiswa yang kritis terhadap masa kini dan kemampuan dirinya untuk sanggup mewarisi hari depan bangsa dan Negara.

Setelah sedikitnya membahas ihwal independensi organisasi bernama HMI, saya berharap kepada setiap kader HMI untuk menanamkan nilai independensi yang termaktub dalam kontitusi. Jangan sampai kiranya dalam setiap LK-1 materi konstitusi dibahas berjam-jam tapi tak pernah sampai sejujurnya ke diri setiap kader. Sebab, independensi merupakan jantung dari pada mahasiswa. Bak kata Tan Malaka mengatakan bahwa “Idealisme merupakan kemewahan terakhir yang dimiliki oleh mahasiswa”.

 

 


AdministratorAdministrator11 February, 2019
IMG-20181102-WA0025-768x576.jpg

1min110

LAPMI HMI | Bandung – Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Kabupaten Bandung (HMI Cakaba) adakan kegiatan Forum Group Diskusi (FGD) dan Deklarasi Anti Hoax. Dihadiri Pemuda dan mahasiswa Kabupaten Bandung, Kader HMI dan Pelajar di Wilayah setempat, jum’at (02/11/2018) di Gedung KORPRI Kabupaten Bandung, Soreang. Menghadirkan Pemantik AKP Sururi dari Polres Soreang, Kahpiana Ketua Bawaslu Kabupaten Bandung, H. Udung Dispora Kabupaten Bandung dan Anam Ketua Umum HMI Badan Koordinasi Jawab Barat. Peserta dan seluruh elemen yang hadir ikut menyerukan deklarasi anti Hoax.


AdministratorAdministrator11 January, 2019
IMG-20190112-WA0060-800x445.jpg

1min20

LAPMI HMI | Bandung – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)  Badan Koordinasi (Badko) Jawa Barat, sukses mengelar Sekolah Demokrasi selama tiga hari pada tanggal 9-11 Januari 2019 di Balai Pelatihan Tenaga Koperasi dan UMKM Jalan Soekarno Hatta 708, Bandung. Khoirul Anam Gumilar Winatan, menyebutkan Sekolah Demokrasi di gelar salah satunya dalam upaya membantu pihak penyelenggara pemilu, maka dari itu pihaknya kedepan akan menindaklanjuti kegiatan tersebut.



Sekilas Kami

Bakornas LAPMI PB HMI merupakan salah satu badan khusus di dalam tubuh organisasi HMI yang bersifat semi-otonom sebagai penyalur minat dan bakat anggota dan wahana pengembangan kader di bidang jurnalistik/pers (ART Pasal 44).


[email protected]

0816-766-496



Newsletter


Media Partner

Independensia.id