Pipin Cakaba

Pipin Cakaba17 March, 2019
cropped-logooo.png

2min420

Lapmi | Tasikmalaya- Agenda Rapat Pleno 2 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tasikmalaya berhasil menambah komisariat menjadi 9 komisariat. Pada rapat pleno 2 HMI Cabang Tidak, Komisariat Persiapan Universitas Perjuangan (UNPER) di kukuhkan, Minggu malam (17/03/2019).

Doc. Rapat Pleno 2 HMI Cbg Tasikmalaya

Agenda Rapat Pleno tersebut dilaksanakan selama 2 hari,  pada hari sabtu-minggu tetanggal 16 – 17 maret 2019, yang bertempat di Aula Sekretariat HMI Cabang Tasikmalaya, Jl. Sutisna Senjaya no.41. Pleno 2 HMI Cabang Ya ini pun diikuti oleh 7 komisariat diantaranya Komisariat STAI, Hasan Basri,  Unsil, Lafran, STIA, STISIP, dan Singaparna Cipasung.

 

Menurut Ketua umum HMI Cabang Tasikmlaya Fikri Zulfikar, mengatakan, “Bertambahnya Komisariat di HMI Cabang Tasikmalaya adalah bentuk keseriusan kaderisasi dari seluruh anggota HMI Cabang Tasikmalaya, kedepan kami akan membentuk beberapa lagi komisariat di seluruh perguruan tinggi di Wilayah Tasikmalaya”, ucap Fikri.

 

Resminya UNPER menjadi Komisariat persiapan HMI Cabang Tasikmalaya ini. Maka akan lebih progres lagi HMI Cabang Tasikmalaya dalam merekrut anggota baru guna menghasilkan benih pemimpin Umat dan Bangsa sesuai denga misi HMI.

 

Berikut pula penuturan Fikri “semoga kaderisasi ini menjadi sebuah amanah yang dapat terus di emban untuk kedepannya, agar HMI Cabang Tasikmalaya semakin berkembang dan maju” tutupnya.

 

Kontributor : Pipin LH


Pipin Cakaba16 March, 2019
IMG_20190316_105034_HHT-1280x720.jpg

3min420

Lapmi | Kab.Bandung- Dalam balut kegiatan Pendidikan Dakwah Progresif Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam ( LDMI ) HMI Cabang Kabupaten Bandung. Untuk kali pertama digelar, pembukaan agenda tersebut dihadiri oleh 20 orang, tidak hanya dari ruang lingkup HMI Cakaba saja melainkan kedatangan peserta dari berbagai Cabang se-Jawa Barat, diantaranya HMI Cabang Sukabumi, Garut, Sabtu pagi (16/03/2019) di Pusat Kegiatan HMI Cakaba.

Ikut hadir pula Lembaga Pengembangan Profesi HMI Cabang Kabupaten Bandung, direktur Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum Mahasiswa Islam ( LKBHMI ), perwakilan Lembaga Pers Mahasiswa Islam ( LAPMI ). Begitu pula hadir fungsionaris Cabang dan Komisariat di wilayah kerja HMI Cabang Kabupaten Bandung.

 

Direktur Utama LDMI, Sepa Munawar, menjadi, “di adakan nya agenda kegiatan ini tiada lain untuk mengembangkan potensi Dakwah dalam Himpunan, karena Dakwah ini bukan sekedar di Mesjid, membawa tasbih, melainkan Dakwah ini bisa dilakukan dimana saja, ialah Dakwah Sosial. Yakni Hablu Minanas Hablu Minallah harus di maknai secara luas”, tutur Sepa pada saat sambutannya.

 

Pada kegiatan Pendidikan Dakwah Progresif LDMI menargetkan peserta yang hadir mampu membangun LDMI di Cabang-cabang nya kemudian. Di tuturkan oleh Sepa, “bahwasanya LDMI di Wilayah Jawa Barat ini belum banyak, maka dengan ada kegiatan ini semoga makin banyak LDMI berdiri di Cabang-cabang se-Jawa Barat” ucapnya

 

Agenda ini pula dijadikan sebagai gerbang untuk menunjukkan eksistensi Kader HMI dalam dunia Dakwah yakni sebagai bentuk pengabdian terhadap Masyarakat. Seperti apa yang di sampaikan Ketua Umum HMI Cabang Kabupaten Bandung, Asep Taufiqurrahman, “Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam ini merupakan wadah untuk Kader HMI ialah untuk mensyiarkan dan mengembangkan ajaran syariat Islam sesuai tujuan awal berdiri organisasi HMI ini”, ucapnya.

 

Lanjut, Asep, mengatakan, “materi-materi yang ada sangat begitu menarik, mulai dari Sejarah, Ideologi Pembebasan, Islam Progresif dan bahkan materi strategi propaganda, analisa terhadap apa yang terjadi hari ini menjelang pemilu serentak 17 April 2019 mendatang, dinamika keumatan dan kebangsaan menjadi tantangan pada agenda demokrasi kedepan, harapannya dengan dilaksanakan kegiatan ini  mampu melahirkan kader-kader dakwah yang menjadi problem solver pada permasalahan yang terjadi saat ini”, tutupnya.

Kontributor : Pipin LH


Pipin Cakaba13 March, 2019
IMG_20190313_131604-1280x720.jpg

4min220

Lapmi | Bandung-Agenda Latihan Khusus Kohati (LKK) yang diadakan oleh Korps HMI-wati ( KOHATI ) HMI Cabang Kabupaten Bandung dengan resmi di buka, Rabu siang (13/03/21/2019) di Balai Latihan Koperasi dan UMKM, Gedebage, Bandung. Pelatihan yang bersekala nasional ini yakni di ikuti oleh 37 orang peserta yang telah lulus seleksi screening. Dari jumlah keseluruhan peserta terdaftar 50 orang peserta se -Indonesia.

Kegiatan yang bertema “Meningkatkan Peranan dan Kualitas Kader HMI-wati” sesuai dengan apa yang tercantum di Pedoman Dasar Kohati. Kemudian dalam kegiatan pembukaannya turut hadir, Dr. Cici Wartisah, S.Pd selaku Pokja PKK Kabupaten Bandung, Ayahanda Satia Gumilar selaku perwakilan Korps Alumni HMI Cabang Kabupaten Bandung, para peserta dan tamu undangan fungsionaris di ruang lingkup HMI Cabang Kabupaten Bandung.

Besar harapan yang di sampaikan Steering Comitte “Seluruh peserta yang hadir pada kegiatan ini semoga mampu meningkatkan kualitas potensi di bidang keperempuanan dalam publik maupun domestik”, ucap Size.

Dan dalam sambutannya Ketua Umum Kohati mengatakan “tentunya Kohati ini sangat berperan penting dalam mewujudkan tujuan HMI ialah mewujudkan masyarakat adil makmur yang di Ridhai Allah SWT dalam prosesnya perlu ditekankan agar dapat meningkatkan kualitas akademis untuk modal intelektual dan bermanfaat bagi banyak orang” ujar Ruka.

Bahkan lebih dari pada itu diterangkan pula bahwasannya peserta yang dapat hadir di LKK tersebut adalah kader Kohati terpilih, di sampaikan oleh Fajar Galang selaku perwakilan dari pengurus HMI Cakaba “pada zaman dahulu perempuan itu belum setara dengan laki-laki dalam beraktivitas, namun hari ini di era digitalisasi dimana perempuan ini hampir sama berperan aktif dalam segala hal”, ujarnya.

Dan apa yang disampaikan tersebut lebih di jelaskan oleh KAHMI Cabang Kabupaten Bandung, “Hari ini tantangan zaman begitu jauh, menempuh revolusi industri 4.0 ini ternyata sebagai penilaian bagaiman kita menyosong kedepan, andaikan kita tidak siap maka akan terlibas yang dimaksudkan ialah kesetaraan perempuan dan laki-laki harus sama-sama memperjuangkan kebaikan”, ucap Satia Gumilar.

Dalam hal ini, seorang perempuan di tuntut agar mampu meningkatkan mutu dalam berbagai hal. Bahkan referensi sangat penting untuk kalangan Mahasiswa Organisatoris dalam berbicara. Selanjutnya perlu juga seorang perempuan ini menjadi creator dalam aspek kehidupan, Kepemimpinan perempuan yang canggih dalam meningkatkan kinerja untuk menjawab permasalahan bangsa ini.

LKK tersebut mendapatkan respon positif dari Pokja PKK Kabupaten Bandung, “saya merasa bangga terhadap Kohati HMI ini, telah mengadakan program yang bermanfaat di Bidang Kohati atau keperempuanan itu sangat luar biasa. Karena perempuan sangat berperan penting serta berpengaruh di Indonesia dalam bidang keterampilan UMKM, seperti perekonomian lalu bidang pendidikan bahkan politik, hari ini perempuan tidak bisa dikesampingkan atau dipandang sebelah mata berbeda dengan dahulu,” ucap Cici

Kegiatan LKK tersebut akan berlangsung selama 5 hari kedepan guna menempa kader HMI-wati agar mampu mencapai tujuan yang diharapkan oleh Steering Comitte. Apa yang didapat ilmu dari kegiatan tersebut mampu diamalkan dan bermanfaat bagi orang banyak.

 

Kontributor : Pipin L H


Pipin Cakaba13 March, 2019
IMG-20190313-WA0004-1.jpg

3min410

 

Lapmi | Jakarta – Pengurus Korps HMI-Wati Himpunan Mahasiswa Islam (KOHATI) cabang Jakarta Pusat-Utara mempunyai nahkoda baru melalui Musyawarah Kohati Cabang (Muskohcab) ke-X di Gedung Cilosari 17, Menteng, Jakarta Pusat. Hasil dari Muskohcab ke-X itu melahirkan pemimpin baru yaitu Iyang Parangi sebagai Ketua Umum Kohati cabang Jakarta Pusat-Utara periode 2019-2020.

“Alhamdulillah,saya merasa lega dan saya mengucapkan selamat mengemban amanah baru kepada adinda Iyang sebagai ketua umum kohati. Semoga dibawah kepemimpinan adinda Iyang, Kohati Jakarta Pusat-Utara bisa lebih berwarna. Yang ingin saya tegaskan bahwa, hasil dari Muskohcab yang dilaksanakan pada hari Jumat, 14 Desember 2018 yang bertempatan di Gedung Cilosari 17, Menteng jakpus hanya menghasilkan 1 Formatuer dan mide formatuer Kohati cab. Jakpustara,” ujar Sri Irawati selaku Ketua Umum Demisioner Kohati cabang Jakarta Pusat-Utara.

Ira menambahkan bahwa sekali lagi saya tegaskan bahwa saya hanya melaksanakan 1 forum Muskoh. “Jadi apabila hari ini ada kabar bahwa Kohati Jakpustara dualisme, sesungguhnya itu adalah fitnah yang sangat keji. Kenapa saya berkata demikian, sebab saya hanya melaksanakan Muskohcab satu kali dalam masa kepengurusan saya,” Katanya

“Jika kedepanya ada yang mengaku bahwa dia adalah Ketumkoh jakpustara periode 2019-2020,maka saya minta dengan hormat kepada semua pihak tolong buatkan forum terbuka dan pertemukan saya dengan orang yang mengaku sebagai ketumkoh Jakpustara,” tegas Ira.

Ia menjelaskan hanya orang ‘gila’ yang mengaku demikian tanpa ada mekanisme yang jelas. “Segala sesuatu ada prosesnya, ada tahapanya, ada aturan mainnya. Bukan tiba-tiba mengaku jadi Ketumkoh tanpa ada mekanisme yang jelas,” tuturnya.

Ira mengatakan seperti apa yang disampaikan Ayunda ketumkoh PB HMI, Siti Fatimah Siagian yang sempat hadir dalam pelantikan sekaligus mengisi stadium general pengurus korps HMI-Wati cab Jakpustara periode 2019-2020 “Kalau klaim harus yang berkualitas dong, masa udah klaim tapi ga berkualitas”.

“Saya berharap kepada semua pihak, terutama pengurus HMI Cabang Jakarta Pusat-Utara periode 2019-2020,bahwa kawal selalu setiap agenda Kohati dan lindungi kohati Jakpustara sampai ke dasar hatinya. Akhir kata, saya titipkan pesan kepada adinda Iyang selaku Ketua Umum Kohati yang baru,” Katanya

Saya titip Kohati Jakpustara, tolong untuk dirawat dan dijaga. Dan semangat selalu untuk kepengurusan kedepannya. Tetap Kokoh walau diterjang masalah apapun. Bahagia HMI Jayalah kohati,” tutup Ira.

Gahara Kumala selaku Direktur Bidang Administrasi dan Hubungan Internal BAKORNAS LAPMI PB HMI 2018-2020 menambahkan bahwa Jabatan Ketua Umum seharusnya merupakan representasi dari keseluruhan anggota dalam organisasi tersebut.

“Bukan keterwakilan segelintir orang yang mengusungnya dengan tujuan dan target tertentu untuk mengusung sekelompok anggotanya untuk menguasai suatu system dan sub system yang lebih besar. Ketua Umum seharusnya adalah orang yang mewakili kata hati mayoritas anggotanya tanpa menyembunyikan tujuan pribadi yang membalut ambisi pribadi,” Kata Gahara


 


Pipin Cakaba1 March, 2019
IMG_20190301_152035-1280x1366.jpg

13min260

“Reorientasi HMI; 70 Tahun Berkiprah untuk Bangsa Mewujudkan Bahagia Indonesia”

Oleh : Ridwan Mubarak

(Penulis adalah Dosen Fidkom UIN SGD, KAHMI Kabupaten Bandung, Alumni LK-I Al-Wasilah Garut 2002 dan Alumni LK-II Pesanggrahan Colo Kudus Jawa Tengah 2004)

Pernah menjadi bagian dari proses kaderisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ketika kuliah dulu, adalah merupakan suatu kebanggan tersendiri yang tak ternilai. Sekian banyak ilmu, pengetahuan, dan bahkan pengalaman berharga diberikan oleh HMI kepada kader-kadernya sebagai bekal menjadi calon pemimpin di masa depan. Ya benar, HMI merupakan organisasi kader yang seharusnya fokus pada ikhtiar untuk mencetak insan-insan akademis calon pemimpin umat, bukan organisasi politik praktis yang menggiring anggotanya untuk berperilaku liar layaknya seorang politisi yang nihil dengan referensi teori-teori besar ilmu politik. Kini, seiring dengan bergulirnya waktu, penulis “dipaksa” menjadi bagian dari realitas Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) dengan segala beban dan tanggungjawabnya sebagai seorang “senior” (walah senior pula).

Adapun istilah senior dalam kultur organisasi HMI, menempati makom yang sangat tinggi. Seorang senior produk HMI akrab disapa dengan panggilan Rakanda, Rakandawati, Rakanita, ataupun Abang. Hal ini sebagai bentuk penghormatan juga kehormatan dan rasa cinta kasih seorang adik terhadap kaka-kakanya dalam lingkar organisasi HMI.  Untuk mendapatkan penghormtan mulia tersebut, ada proses yang harus dilalui, yang menjadi kekhasan HMI dari dulu hingga kini, yakni perkaderan. Perkaderan menjadi penentu kualitas kader ditahun-tahun berikutnya dalam memperjuangkan HMI, lagi-lagi sebagai organisasi kader bukan orpol ataupun LSM.

Proses perkaderan sendiri dilakukan secara berjenjang, mulai dari Latihan Kader I (Basic Training), Latihan Kader II (Intermedite Training), hingga Latihan Kader III (Advance Training) menjadi agenda penting pembentukan watak gerakan yang harus dilalui oleh setiap mereka yang bangga mengklaim sebagai insan akademis HMI. Jika tidak, dirasa belumlah sempurna (kaffah) menjadi insan cita HMI atau bahkan bisa disebut kader abal-abal karena tidak pernah mengikuti LK I. LK menjadi prasyarat utama dan pertama bagi calon anggota HMI, karena konstitusi (AD/ ART) mengharuskan hal yang demikian. Tahapan-tahapan LK (Latihan Kader) HMI mengandung makna filosofis yang teramat dalam sekaligus terdapat tanggungjawab ideologis dalam wujud gerakan moral (moral force). Gerakan moral kader HMI harus senantiasa berpijak kepada misi-misi kenabian, selaras dengan semangat teologis namun tetap humanis. Kader HMI harus menjadi pemantik setiap gerakan moral dimanapun ia berada dan berkiprah. Semangat progresif revolusioner menjadi harga mati dalam memperjuangkan hak-hak kaum tertindas (mustadafin). Sehingga dimasa berikutnya, kader HMI memiliki keberpihakan yang jelas terhadap kaum tertindas (mustad’afin) dan selalu berani melawan kaum penindas (mustakbirin). Kader HMI hendaknya pantang tolak tugas, pantang ulur waktu, dan pantang tugas tidak tuntas ketika sudah berbicara kepentingan umat; negara, bangsa, dan agama.

Label Islam dari organisasi HMI, menjadi furqon (Pembeda) HMI dengan organisasi pergerakan lainnya, inilah kekhasan HMI yang sebenarnya. Konsep wahyu memandu ilmu, firman memandu tindakan, dan Kalamullah memandu ghirah, hendaknya menjadi prinsip dasar dari setiap gerak langkah kader HMI. Hal ini sebagaimana sumpah setia kita kepada Sang Khaliq Allah SWT dalam setiap pelaksanaan shalat melalui lafal doa iftitah. Inna shalati…sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah semata, bukan untuk jabatan, kekuasaan, dan dunia yang sifatnya sementara. Materi Nilai Dasar Perjuangan (NDP) menjadi materi pokok yang wajib difahami oleh setiap kader HMI di awal pembentukan karakter kader, konsep Tauhid menjadi pijakan.

Begitu agung dan mulianya konsep perkaderan HMI, syarat dengan pesan filosofis sekaligus ideologis. Secara filosofis, makna perkaderan dapat diartikan sebagai upaya sistematik pembentukan jati diri seorang pejuang umat. LK I berperan membentuk karakter kader mulai dari persoalan-persoalan hidup yang paling dasar. Materi-materi yang disajikan merupakan masteri-materi dasar ketauhidan yang dikorelasikan dengan realitas kemanusiaan (humanis); keislaman, keindonesiaan, dan kebangsaan. Dekontruksi teologis menjadi sajian awal pembuka nalar, menu wajib bagi setiap calon kader HMI. Proses dekontruksi teologis, diharapkan mampu meneguhkan gerakan-gerakan yang dilakukan kader dan mengkristal dalam bentuk gerakan ideologis yang egaliter, moderat, inklusif, serta revolusioner. Sikap fanatisme sempit dan hedonistik adalah dua hal yang harus dijauhkan dalam semangat perjuangan HMI, meski pada realitasnya, banyak pula kader yang terjebak dalam kubangan lumpur transaksi-transaksi politik liar dengan dalih “memberdayakan kader” dan patuh terhadap kepentingan senior yang “berehan” secara materil kepada kader-kadernya dilevel akar rumput (kader LK I). Jangan racuni nalar sehat kader LK I dengan bujuk rayu materi yang tidak mendidik.

Berikutnya, fase LK II. Pada jenjang ini, kader tidak lagi disibukan dengan hal-hal dasar ketauhidan dan kemanusiaan secara konseptual. Fase ini, segenap kader HMI telah dianggap selesai dan telah berdamai dengan realitas personalnya, pergulatan batin sebagai seorang aktivis yang sadar diri telah mencapai klimaknya. Revolusi kesadaran sebagai buah manis dari LK I menjadi bekal kuat bagi kader untuk melangkah pada jenjang perjuangan yang lebih luas, revolusi harapan (hope revolution) menjadi tujuan. LK II berperan menstimulan kader untuk berani mengekplorasi diri, kritis, inovatif, dan cakap mengimplementasikan konsep-konsep dasar materi LK I pada tataran yang lebih riil di tengah permasalahan kebangsaan dan keumatan yang begitu komplek.

Selain paradigma kritis kader menyikapi realitas, ketajaman pisau analisa guna memahami permasalahan-permasalahan kebangsaan menjadi pertaruhan dan kehormatan kader, tuntas dan tidaknya seorang kader HMI pada fase LK II ini, dapat dilihat. Mampu memilah dan memilih, mana permasalahan prinsip dan mana yang tidak prinsip, mana gerakan murni ideologis dan mana yang gerakan politis ansih, kader LK II harus mampu membedakannya. Jika tidak, patut dipertanyakan keabsahannya sebagai seorang kader LK II, atau jangan-jangan ia tidak serius atau bahkan tidak tuntas LK I nya dulu. Kader LK II kualitas LK I, bentuk kegagalan dalam proses perkaderan, inilah malpraktik kaderisasi imbas dari malnutrsisi kajian-kajian tentang konsep dasar HMI.

Fase terakhir merupakan fase LK III. Kader produk LK III selain diharapkan pintar menganalisa permasalahan-permasalahan kebangsaan dan keumatan, juga diharapkan mampu menjadi problem solver atas permasalahan kebangsaan tersebut. HMI harus menjadi solusi bagi bangsa ini, bahkan bagi bangsa-bangsa di dunia dengan produk-produk pemikirannya yang bernas juga implementatif. Melaui LK III, kader dipaksa untuk dapat mengeryitkan dahinya lebih dari biasanya, berfikir keras di atas rata-rata namun tetap analitis dan sistematis pada pokok permaslahan. Fokus pada satu tujuan, menjadi dan selalu memberi yang terbaik bagi tegaknya nilai-nilai kemanusiaan.

LK III merupakan “sekolah tinggi kader HMI” yang akan melahirkan pemikir-pemikir hebat yang dibutuhkan oleh bangsa dan zamannya. Menjadi politisi pemikir, menjadi pendidik pemikir, menjadi pejabat yang pemikir, menjadi jurnalis yang pemikir, menjadi peneliti yang pemikir, bahkan menjadi orang-orang Indonesia biasa yang terbiasa berfikir dan selalu ikhlas membangun bangsa dan negaranya. Kembali kepada pemahaman konsep tauhid LK I sebagai dasar pijakan dalam berkhidmat untuk kemaslahatan umat dan bangsa. Kader LK III diharapkan menjadi pribadi-pribadi yang solutif konstruktif bagi kemanusiaan. Pada akhirnya, kader LK III diharapkan menjadi pandita-pandita dan pelita ditengah kezumudan berfikir umat dalam menjalani kehidupannya di bumi ini. Seyogianya pula, kader LK III HMI diharamkan menjadi beban sejarah bagi bangsanya, bagi kemanusiaan, terlebih bagi kader-kader dibawahnya. Ia harus menjadi kader yang paripurna lahiriah sekaligus batiniah, karena ia alumni dari “sekolah tinggi” LK III HMI.

Secara ideologis, LK HMI dapat dipahami sebagai ladang tempat menyemai benih-benih ideologi gerakan yang bersumber dari semangat dakwah para nabi dan Rasul Allah SWT. Nilai-nilai luhur teologis yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Hadits harus menjadi ruh yang diyakini sebagai jalan keselamatan dalam berjuang bagi seluruh kader HMI. Konsistensi terhadap nilai-nilai teologis, semangat tanpa pamrih (ikhlas berjuang), dan sadar diri sebagai manusia yang mengemban misi kenabian merupakan modal dasar dalam memperjuangkan gerakan ideologi HMI. HMI dan kadernya haruslah tetap membumi sebagai syarat diterimanya HMI ditengah kehidupan berbangsa dan bernegara, tanpa menggadaikan kepatuhannya terhadap firman-firman langit sebagai pedoman (standar operasional procedure) dalam berjuang menegakan nilai-nilai kemanusiaan demi menciptakan peradaban yang berkeadaban Ketuhanan. Tuhan menjadi titik sentral awal dan akhir gerak langkah kader HMI, dari Allah dan akan kembali kepada Alllah sang Haq. Ketakwaan kepada Allah SWT  hendaknya menjadi pijakan awal dan akhir dalam mengimplementasikan cita-cita luhur HMI secara ideologis. Persemaian nilai-nilai ketuhanan (teologis) yang kaffah melalui LK I, II, dan III akan berbanding lurus dengan “panen” kualitas gerakan ideologis kader yang juga paripurna dan  HMI benar-benar menjadi solusi bagi kemanusiaan.

Lantas bagaimana realitas kader HMI kini?. Seberapa besar manfaat dari proses perkaderan LK bagi kader HMI?. Cukup konsistenkah kader HMI dengan ikrar dan sumpahnya dalam konstitusi dan hymne HMI yang kerap dilantunkan saat acara-acara seremonial HMI?. Pertanyaan tersebut kerap menghantui penulis sebagai kader HMI semenjak tahun 2002. Jujur, ada banyak kegelisahan yang mengendap dalam ruang-ruang alam sadar penulis menyikapi HMI dalam kontek kekinian. Kader HMI kini dibenturkan dengan budaya pop yang berorientasi kepada perilaku pragmatik-hypokrit, dan hedonistik-sekuleristik. Selalu ingin instan dalam berjuang, kurang menghargai proses, konsumtif, serta menihilkan etika dalam pergerakannya, baik ketika berpolitik (siasyah), bisnis (berniaga), aktivitas sosial, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Hal yang demikian terjadi karena kader tidak matang dalam fase perkaderan dapur HMI, terlebih LK I sebagai peletak dasar ketauhidan. Syahadat pergerakannya tidak sempurna.

Hal lain, adanya intervensi “oknum senior HMI” yang kerap menarik-narik kader HMI yang belum khatam AD/ART dipaksa masuk ranah-ranah politik praktis yang melenakan kader. Kemudahan memperoleh materi melalui proyek-proyek instan dari oknum senior yang didanai oleh APBD/ APBN, menjadi magnet tersendiri bagi kader-kader HMI. Kompensasi materi yang menyilaukan kader-kader HMI melalui aktivitas politik praktis yang “belum saatnya dilalui” membentuk karakter kader menjadi materialistik. Kader siap berjuang asal ada “Bandar” yang memodali, siap aksi asalkan ada kompensasi, siap turun ke jalanan dengan catatan ada uang makan dan ongkos jalan. Kesemua ini merupakan  bentuk kemunduran HMI, dan tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. HMI bukanlah akronim How Money Income, yang wani piro, dan gerakan ideologis yang berakhri tragis di atas meja makan. HMI adalah organisasi kader bukan organisasi politik apalagi LSM. Pertegas HMI secara struktural dan juga fungsional bahwa HMI merupakan  kawah Candra Dimuka tempat membentuk manusia-manusia hebat, tempat lahirnya insan-insan paripurna, tempat tumbuh dan berkembangnya calon pemimpin bangsa di masa kini dan nanti.

Solusi atas beragam krisis identitas kader HMI kini, tiada lain kembalilah kepada khittah HMI. Tujuan HMI adalah terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertangung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT (pasal 4 AD HMI). Dari tujuan tersebut dapat dirumuskan menjadi lima kualitas insan cita, yakni kualitas insan akademis, kualitas insan pencipta, kualitas insan pengabdi, kualitas insan bernafaskan Islam, dan kualitas insan yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Sungguh sangatlah komprehensif tujuan HMI sebagai sebuah organisasi kader. HMI diusianya yang ke 70 di tahun ini, sudah saatnya berbenah diri menjadi problem solver kehidupan berbangsa dan bernegara. Jangan biarkan kader-kader terbaik HMI ada dalam kegelisahan dipersimpangan kiri jalan. Kembalikan kader-kader HMI kepada Al-Qur’an dan Hadits sebagaimana ikrar sekaligus komitmen kita dalam sendu Hymne HMI; Turut Qur’an dan Hadits Jalan keselamatan, Ya Allah berkati Bahagia HMI. (Wassalam- Disarikan dari berbagai sumber).


Pipin Cakaba21 February, 2019
IMG_20190221_184002_HHT-1280x720.jpg

3min390

Lapmi | Bandung- Pembukaan Training of Trainer (TOT) Badan Pengelola Latihan (BPL) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kabupaten Bandung periode 2018/2019. Pelatihan tersebut dilaksanakan secara lokal untuk kader HMI Cakaba saja. Peserta yang mengikuti TOT tersebut mewakili dari berbagai Komisariat di ruang kerja HMI Cakaba.

 

Jumlah 37 orang peserta dari berbagai Komisariat di ruang kerja HMI Cakaba, paling banyak mengikuti TOT kali ini dari Komisariat Tarbiyah dengan jumlah 18 orang. Tentunya antusias para peserta menjadi suatu bentuk kegiatan TOT ini dinantikan oleh Kader HMI Cakaba.

 

Kegiatan yang bertajuk “Tercipata nya Sumber Daya Instruktur yang Memiliki Kemampuan Akademis, Kemampuan Mengelola Latihan, serta Mampu Menjadikan Diri sebagai Teladan yang Baik”. Dan akan dilaksanakan selama 3 hari kedepan, Kamis petang (21/02/2019) di Pusat Kegiatan HMI Cakaba.

Seperti yang di paparkan oleh Ketua BPL HMI Cakaba dalam sambutannya, “training of trainer ini, bukan untuk sekedar menggugurkan kewajiban atau menjadi settering committe pada LK 1 saja, melainkan harus melanjutkan training selanjutnya agar menjadi seorang pengelola berbagai pelatihan di HMI” ucap Abnu Malik.

 

Di harapkan seluruh peserta yang sudah ditanyakan berhak mengikuti pelatihan TOT tersebut dapat mengikuti pelatihan dengan disiplin dan memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. “Semua butuh proses, inilah proses kawan-kawan untuk menjadi seorang instruktur. Karena instruktur di HMI Cakaba ini, menjadi paling terbanyak jumlah instrukturnya”, ujar Asep selaku Ketua Umum HMI Cakaba dalam sambutannya.

 

Lanjut, Ketua Umum mengatakan “model dan metode perkaderan HMI ini belum ada pembaharuan, maksudnya metode yang dapat menyesuaikan dengan zaman yang relevan dengan keadaan sekarang ini. Semoga di forum pelatihan nantinya dapat berdiskusi sehingga menemukan metode anyar untuk perkaderan yang progresif” ujarnya.

 

Diharapkan kedepannya pun organisasi ini tetap dapat menjaga ke ilmiahannya. Seperti apa yang diutarakan oleh Riki Hermawan selaku Demisioner Ketua Umum BPL periode 2015/2016. “Instruktur itu seorang penjaga ilmiah organisasi, dimana seorang instruktur ini mampu menjadi pengelola latihan yang menggunakan akal sehat”, kata Riki.

 

Kemudian Riki menceritakan bagaimana seorang instruktur ini mampu menjadi sosok yang teladan bagi kader lainnya. “Saya pun dulu seperti kalian semuanya, berproses untuk menjadi seorang instruktur. Dan semoga kawan-kawan semua dapat menjadi instruktur yang di harapkan sesuai dengan tujuan kegiatan TOT ini”, ucapnya.

Proses yang dilakukan ini, menjadikan semangat tenaga instruktur baru HMI Cakaba. Yang kemudian dapat mengelola training lain kedepannya.

Kontributor : Pipin LH


Pipin Cakaba17 February, 2019
IMG-20190215-WA0017-1280x720.jpg

3min530

Lapmi | Soreang – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dalam kiprah 72 tahunnya mempunyai sepak terjang yang amat panjang. Dalam merayakan ulang tahunnya yang ke-72 Tahun, HMI Cabang Kabupaten Bandung menggelar perayaan bersama Bupati Kabupaten Bandung, Dadang Naser di Rumah Dinas Bupati, Soreang, Jum’at siang (15/03/2019) Kabupaten Bandung.

 

Dadang Naser mengatakan, harapan kabupaten Bandung perihal pentingnya HMI dalam gerak pembaharu yang berkiprah dari masa ke masa selalu bersentuhan kepada sisi akademis dan sisi sosial kemasyarakatan.

“Sebagai Organisasi yang mempunyai Azas keislaman dan mempunyai komitmen kebangsaan harus hadir dalam gerakan pembaharuan yang bersifat milenial. Teruslah mengevaluasi segala aspek untuk berkonstribusi pada pembangunan bangsa” Ucap Dadang Naser

 

Lanjutnya, sebagai gerakan pembaharuan yang dapat mempersatukan bangsa dan dapat membaca, mendalami, serta memahami peran kemasyarakatan. Maka HMI diusia yang sudah tidak muda ini dengan adanya agenda pemilu kedepan harus memberikan informasi yang bijak agar masyarakat dapat menentukan pilihannya untuk bersikap dimomen April nanti.

 

Dalam menanggapi pesta demokrasi yang akan digelar 17 April mendatang. “Idealisme kemahasiswaan harus dipegang teguh oleh HMI upaya menunjukan eksistensinya dalam kiprah organisasi kemahasiswaan yang mendorong masyarakat dalam berbagi aspek dalam wujud konstribusi pembanguan bangsa kedepan secara gerakan pembaharuan dalam setiap lini masanya. Dan Akhir kata saya, yakin usaha sampai, jayalah HMI”, tutur Dadang Naser

 

Sambutan baik tersebut dari Bupati Bandung menjadi sebuah acuan motivasi bagi Kader HMI Cabang Kabupaten Bandung untuk terus berkiprah dalam permasalahan sosial tentunya

 

“Semoga HMI di Milad yang ke-72 tahun ini, tetap dapat berkarakter seperti yang di kisahkan dalam sejarahnya. Dan HMI Cabang Kabupaten Bandung tetap menjadi garda terdepan dalam menanggapi permasalahan sosial”, ujar Alfi salah satu Kader HMI Cakaba.

 

Organisasi yang sudah matang dalam usianya ini pun merelevansikan sesuai jamannya untuk dapat mewadahi eksistensi kader kadernya dalam Badan Semi Otonom (BSO) yang dinamai Lembaga Pengembangan Profesi (LPP). Dengan adanya BSO tersebut, agar dapat bersinergi HMI dan aktif membangun sisi sosial kemasyarakatan dengan solutif.

 

“HMI sebagai gerakan pembaharuan yang terus menerus berusaha relevan dengan jaman dan selalu memberikan solusi untuk mengembangkan para kadernya dalam wadah LPP harus bisa lebih kritis dalam menyikapi persoalan bangsa dan bisa lebih memberikan solusi yang nyata dan dapat bermanfaat bagi masyarakat”, Tutup Asep selaku Ketua Umum HMI Cakaba.

 

Kontributor : Dandi


Pipin Cakaba16 February, 2019
IMG-20190216-WA0000.jpg

6min330

Oleh : Fajar Galang P

Demisioner Ketua Umum Komush Cakaba 2017-2018

Hiruk pikuk pesta demokrasi lima tahunan yang saat ini dinikmati rakyat Indonesia kini menjadi sorotan semua kalangan. Terasa, peran aktif kepedulian rakyat sebagai bentuk harapan mereka agar memiliki pemimpin yang dapat membawa setiap daerah kearah lebih baik melalui pemilihan umum. Demos (rakyat) dan cratos (kekuatan), arti dasar bahasa yunani yang mengilhami terciptanya demokrasi. Beragam unsur kekuatan rakyat bersatu padu untuk mendukung salah satu calon legislatif, gubernur, bahkan presiden ditahun berikutnya melalui wadah relawan, organisasi masyarakat, organisai primordial, organisasi buruh dan lain sebagainya. Namun sungguh disayangkan apabila momentum pemilihan umum hanya dijadikan komoditas politik untuk segelintir orang (oknum) agar mendapatkan keuntungan pribadi.

Sebagai organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tetap berdiri pada jalur netral. Seluruh anggota aktif HMI jangan sampai masuk ke dalam kemelut politik yang tengah terjadi saat ini. Saya sepakat terhadap pernyataan Ketua Umum PB HMI tahun 2010-2012 Noer Fajriansyah saat itu, ia menganggap aktvitas politik semacam itu bisa menggangu kestabilan Himpunan itu sendiri.

Sebagai organisasi mahasiswa terbesar, HMI harus berdiri pada jalur netral menyikapi semua kemelut yang ada dalam partai atau politik. Hal ini mengingat alumni HMI berada diseluruh jaringan partai peserta pemilu 2018. Keberpihakan pada salah satu kelompok dalam sebuah partai akan memecah belah soliditas keluarga HMI.

Semua anggota HMI harus bijaksana dalam memainkan peranan mereka. Jika para anggota saling mengklaim mendukung salah satu pihak yang berkonflik, itu sama saja menghantam dan memecah belah persatuan HMI.

HMI sebagai organisasi yang tidak memiliki fatsun politik manapun, sejatinya kita kader mesti menjaga independensi Himpunan ditengah dinamika politik bangsa ini. Saya menegaskan kewajiban menjaga independensi Himpunan merupakan bagian integral dari amanat konstitusi yang mengikat setiap kader HMI dari PB sampai ke tingkat komisariat.

Saya rasa amanat konstitusi jelas menegaskan HMI sebagai organisasi yang independen, namun apa jadinya ketika amanat konstitusi sebagai pedoman tertinggi Himpunan dilacuri oleh seorang oknum kader. Terjadi fenomena yang menjamur dikalangan organisasi mahasiswa, untuk dukung mendukung salah satu kandidat pileg, pilgub, maupun presiden nanti pada tahun 2019. Mahasiswa sebagai kaum intelektual dan yang “katanya” agen perubahan harus mampu memilah dengan baik secara kritis, objektif dan solutif. Karena mahasiswa sebagai kaum menengah yang dapat menjembatani antara rakyat dengan pemerintah. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi perkaderan tertua di Indonesia dan memiliki independensi etis sekaligus organisatoris, kini beberapa kadernya nampak terlibat dalam aktivitas politik yang mengusung kesuksesan salah satu kandidat pada pesta demokrasi di tahun 2018.

Secara organisasi itu sangat mencederai, karena bertentangan dengan AD/ ART (Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga) bahwa HMI bersifat independen (BAB I, pasal 6), dan dijelaskan lebih lengkap didalam Tafsir Independensi yang didalamnya terdapat dua inti yaitu Independensi Etis dan Independensi Organisatoris.

Terdapat penjelasan di dalam Indepensi Organisatoris yaitu dalam melaksanakan dinamika organisasi, HMI secara organisatoris tidak pernah committed dengan kepentingan pihak manapun ataupun kelompok dan golongan manapun kecuali tunduk dan terikat pada kepentingan kebenaran dan objektifitas kejujuran dan keadilan. Agar secara organisatoris HMI dapat melakukan dan menjalankan prinsip-prinsip independensi organisatorisnya, maka HMI dituntut untuk mengembangkan kepemimpinan kuantitatif serta berjiwa independen sehingga perkembangan, pertumbuhan dan kebijaksanaan organisasi mampu diemban selaras dengan hakikat independensi HMI. Untuk itu HMI harus mampu menciptakan kondisi yang baik dan mantap bagi pertumbuhan dan perkembangan kualitas-kualitas kader HMI. Dalam rangka menjalin tegaknya prinsip-prinsip independensi HMI mengimplementasi independensi HMI kepada anggota adalah sebagai berikut:

1. Anggota-anggota HMI terutama aktifitasnya dalam melaksanakan tugasnya harus tunduk kepada ketentuan-ketentuan organisasi serta membawa program perjuangan HMI. Oleh karena itu tidak diperkenankan melakukan kegiatan-kegiatan dengan membawa organisasi atas kehendak pihak luar manapun juga.

2. Mereka tidak dibenarkan mengadakan komitmen-komitmen dengan bentuk apapun dengan pihak luar HMI selain segala sesuatu yang telah diputuskan secara organisatoris.

3. Alumni HMI senantiasa diharapkan untuk arif berjuang meneruskan dan mengembangkan watak independensi etis dimanapun mereka berada dan berfungsi sesuai dengan minat dan potensi dalam rangka membawa hakikat dan mission HMI. Dan menganjurkan serta mendorong alumni untuk menyalurkan aspirasi kualitatifnya secara tepat dan melalui semua jalur pembaktian baik jalur organisasi professional kewiraswastaan, lembaga-lembaga sosial, wadah aspirasi politik lembaga pemerintahan ataupun jalur-jalur lainnya yang semata-mata hanya karena hak dan tanggung jawabnya dalam rangka merealisir kehidupan masyarakat adil makmuryang diridhoi Allah SWT. dalam menjalankan garis independen HMI dengan ketentuan-ketentuan tersebut di atas, pertimbangan HMI semata-mata adalah untuk memelihara mengembangkan anggota serta peranan HMI dalam rangka ikut bertanggung jawab atas Negara dan bangsa. Karenanya menjadi dasar  dan kriteria setiap sikap HMI semata-mata adalah kepentingan nasional bukan kepentingan golongan atau partai dan pihak penguasa sekalipun. Bersikap independen berarti sanggup berpikir dan berbuat sendiri dengan menempuh resiko. Ini adalah suatu konsekuensi atau sikap pemuda. Mahasiswa yang kritis terhadap masa kini dan kemampuan dirinya untuk sanggup mewarisi hari depan bangsa dan Negara.

Setelah sedikitnya membahas ihwal independensi organisasi bernama HMI, saya berharap kepada setiap kader HMI untuk menanamkan nilai independensi yang termaktub dalam kontitusi. Jangan sampai kiranya dalam setiap LK-1 materi konstitusi dibahas berjam-jam tapi tak pernah sampai sejujurnya ke diri setiap kader. Sebab, independensi merupakan jantung dari pada mahasiswa. Bak kata Tan Malaka mengatakan bahwa “Idealisme merupakan kemewahan terakhir yang dimiliki oleh mahasiswa”.

 

 



Sekilas Kami

Bakornas LAPMI PB HMI merupakan salah satu badan khusus di dalam tubuh organisasi HMI yang bersifat semi-otonom sebagai penyalur minat dan bakat anggota dan wahana pengembangan kader di bidang jurnalistik/pers (ART Pasal 44).


[email protected]

0816-766-496



Newsletter


Media Partner

Independensia.id