Sorak Sorai Kita Era Post Truth

LAPMI HMI | Opini – Saat ini, ada kesulitan tersendiri bagi kita selaku generasi milenial untuk memilah informasi. Agak sukar untuk memilah informasi, baik yang akurat dan valid ataupun yang sekedar hoax dan numpang lewat. Begitu banyak berita yang terpapar hoax berseliweran dalam group pesan instan di platform smartphone.

Post truth. Ya, kini kita telah memasuki era post truth. Politik paska kebenaran atau yang dikenal sebagai “post truth” menjadi sebuah kalimat yang masuk kedalam kamus Oxford dan menyandang gelar “word of the year” pada tahun 2016. Selaras dengan Geotimes, istilah ini pertama kali digunakan dalam artikel The Government of Lies yang ditulis oleh Steve Tesich pada majalah The Nation.

Beberapa bulan kebelakang, media sosial kerap dibanjiri oleh kabar tentang aksi masa. Ada yang meyakini bahwa gerakan perihal RUU KUHP adalah gerakan yang murni independen dari mahasiswa, tapi tak jarang pula yang menilai bahwa aksi itu adalah aksi pesanan oknum tertentu. Berita tentang kerusuhan yang disengaja, agenda seminar yang terskenario, bahkan ada isu ambulan pembawa batu menjadi topik yang datang sporadis silih berganti bak nyanyin katak di musim penghujan.

Sulit kita bedakan, mana berita yang benar maupun yang hanya sebatas isu. berbagai isu tersebut disebarkan persis seperti pernyataan yang dapat diterima sebagai kebenaran tapi tanpa adanya sebuah pembuktian.

Baca Juga:  BUMN Ber-Keadilan Untuk Kesejahteraan Masyarakat

Internet memilik andil yang begitu besar dalam melahirkan post-truth. Internet begitu banyak memberikan informasi kepada manusia sehingga pengetahuan kini menjadi sesuatu yang mudah dan instan. Ada sebuah kelaziman baru yang kini muncul perihal berita yang berseliweran di era post-truth. Kini, berita diukur dari seberapa banyak diperbincangkan orang dan viral. Berita tidak diukur lagi keabsahan nya. Tak jarang pemerintah membunuh sementara sesuatu yang lahir dari Sillicon Valley ini.

Upaya penanggulangan Hoax di Indonesia pada era post-truth masih dikategorikan lemah, walaupun pada saat ini banyak media online yang menyediakan layanan untuk cek fakta (seperti laman cekfakta.com) pemerintah Indonesia masih menggunakan cara yang konservatif dalam menghadapi hoax di dunia digital. Bayangkan, beribu berita hoax di media online hanya dilawan dengan seminar yang kerap disponsori pemerintah pusat maupun pihak kepolisian, dari komunitas kecil hingga institusi perguruan tinggi.

Tapi, apapun yang dilakukan pemerintah kita dalam menghadapi hoax di era post truth. Kita hanya bisa bersorak sorai bak cheersleader menyemangati tim olahraga dan seraya berharap ada perubahan yang nyata walaupun pertandingan nya kurang apple to apple karena digital dilawan seminar.

 

Baca Juga:  Sketsa HMI Menuju Kepemimpinan yang Transformatif

Oleh: Aliga Abdillah (HMI Cabang Serang, Badko HMI Jabodetabeka-Banten)

Administrator

Administrator

Dolor proin! Placerat a, placerat enim vut duis aliquam, dignissim, magna sagittis duis diam et porttitor mus ultricies velit vut habitasse. Egestas facilisis a aliquet! Dolor. Rhoncus. Ac. Parturient elementum facilisis lorem.


Visitors:

  • 24,333

Sekilas Kami

Bakornas LAPMI PB HMI merupakan salah satu badan khusus di dalam tubuh organisasi HMI yang bersifat semi-otonom sebagai penyalur minat dan bakat anggota dan wahana pengembangan kader di bidang jurnalistik/pers (ART Pasal 44).


[email protected]

0816-766-496



Newsletter


Media Partner

Independensia.id