HMI Hadir Untuk Mencetak Pemimpin Bangsa

AdministratorAdministrator25 January, 20203min100

LAPMI HMI | Cianjur –  Hadirnya HMI dalam konteks masyarakat Indonesia dengan pelbagai permasalahan sosial di dalamnya menjadi ulasan yang disampaikan Andito, salah satu pemateri dalam forum Advance Trainning yang berlangsung pada Jumat (24/1/2020) di Wisma BKPM, Cianjur.

“Berbicara masalah sosial, berarti berbicara tentang umat,” kata Andito dalam sesi materi bertajuk Perkembangan Pemikiran Islam Tentang Konsep Islam dan Masalah Sosial-Politik.

Menurut Andito, dalam struktur sosial masyarakat, Islam terbagi menjadi 2, yakni Islam Konservatif dan Islam Modernis. Islam konservatif terikat dengan tradisi dan sifat ke-lokal-an, sementara Islam Modernis bersifat cosmopolit, administratif, dan terbiasa dengan standarisasi.

“Karena itu, dalam konteks di Indonesia, gerakan radikal tidak ditemukan dalam kelompok Islam Konservatif,” tambah Andito.

Dalam sistem negara, Islam Konservatif tidak kehilangan klaim politik dengan berdirinya negara. Selain itu, otoritas ekonominya juga tidak hilang. Sementara itu, Islam Modernis biasanya dicirikan dengan kelompok masyarakat urban. Bahkan lebih banyak diantaranya adalah masyarakat pesisir. Kelompok masyarakat ini cenderung tidak terikat dengan tradisi dengan basis pengorganisasian kelompok buruh dan pekerja (industri).

Baca Juga:  Bima Arya Dukung Rakernas BAKORNAS LAPMI PB HMI di Kota Bogor

Menyangkut Islam, Andito menjelaskan bahwa memaknai Islam bukan sekedar nilai/pandangan, tetapi juga membangun struktur dalam sistem negara. Dalam sebuah sistem negara, terdapat kontrak sosial di dalamnya yang mengikat antar individu dan masyarakat. Kontrak sosial terkecil dapat ditemukan dalam sistem keluarga, dan yang terbesar adalah negara.

Revolusi dalam Islam sebagai nilai secara bertingkat dimulai dari kesadaran individu, keluarga, masyarakat, kelompok masyarakat/organisasi sosial, hingga tingkat tertinggi adalah negara.

Menyoal kondisi kebangsaan hari ini, ketika jargon ‘radikalis’ banyak diwacanakan, Andito menjelaskan bahwa sesungguhnya dalam setiap pemikiran pasti radikal. Namun demikian, tidak setiap radikalis, pasti ekstrimis.

“Seorang ekstrimis, menganut kebenaran subyektif atau disebut ‘eksklusivisme’. Turunannya, selalu menolak sekat-sekat sosial,” ujar Andito.

Terkait dengan problem kebangsaan hari ini, menurut Andito dikarenakan tidak adanya ideologisasi di kalangan kelas menengah (middle class). Akibat dari tidak adanya ideologi yang kuat, menjadikan kelompok ini mudah terombang-ambing.

Ia menjelaskan, dalam membangun sebuah gerakan perubahan, memerlukan 2 modal (capital) utama, yakni modal sosial dan modal finansial. Oleh karena itu, perubahan dapat dilakukan oleh kaum ‘pedagang/saudagar’ atau kaum ‘terdidik/akademisi’. Akan menjadi lebih baik jika seseorang memiliki kedua modal tersebut, sehingga dapat lebih mandiri dan independen.

Baca Juga:  PENA LAPMI Cakaba Sebagai Jembatan Kader Menuju Khasanah Kepenulisan

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai Islam Modernis didirikan bukan bertujuan untuk membuat basis massa atau ‘gerombolan’. Andito mengingatkan, bahwa HMI adalah organisasi dengan tujuan utama untuk perkaderan.

“Tujuan HMI bukan bikin massa atau gerombolan, tapi mencetak para pemimpin,” tukas Andito.

Administrator

Administrator

Dolor proin! Placerat a, placerat enim vut duis aliquam, dignissim, magna sagittis duis diam et porttitor mus ultricies velit vut habitasse. Egestas facilisis a aliquet! Dolor. Rhoncus. Ac. Parturient elementum facilisis lorem.


Visitors:

  • 19,998

Sekilas Kami

Bakornas LAPMI PB HMI merupakan salah satu badan khusus di dalam tubuh organisasi HMI yang bersifat semi-otonom sebagai penyalur minat dan bakat anggota dan wahana pengembangan kader di bidang jurnalistik/pers (ART Pasal 44).


[email protected]

0816-766-496



Newsletter


Media Partner

Independensia.id