Oleh : Zulfata

Pengurus BADKO HMI Aceh

Mengawali tulisan ini, penulis ingin nyatakan bahwa kacau atau baiknya perpolitikan Indonesia terletak pada sejauh mana komitmen keluarga besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dalam memposisikan peran strategisnya dalam menjaga kedaulatan bangsa. Keterlibatan HMI dalam membumikan nilai keislaman dan keindonesiaan adalah keniscayaan bagi kader HMI yang bermental ideologis. Sejarah bangsa telah membuktikan bahwa setelah Masyumi dibubarkan, HMI beserta organisasi keislaman lainnya mampu berkolaborasi dengan mengisi kekosongan peran negara dalam mewujudkan nilai keislaman dan keindonesiaan sebagai reingkranasi ideologi Pancasila.

Pendeskrispsian di atas hanyalah secuil dari luapan lautan yang faktanya mungkin belum disadari oleh kader atau keluarga besar HMI yang bertaburan di santero dunia. Sehingga komitmen organisasi pelanjut perjuangan Lafran Pane ini tampak merabunkan mata hati kader HMI yang terjebak pada mentalitas politik pragmatis dan politik populis. Mencermati arah gerakan HMI kekinian, mulai dari tingkat pengurus besar (PB) hingga ke daerah (Badko-cabang) tak lagi menarik perhatian yang mencolok bagi asupan kemajuan bangsa, apa lagi memikirkan asap dapu rakyat Indonesia.

Hampir rata-rata jabatan strategis HMI berperan bagaikan pemadam kebakaran, sudah meledak, disitu pula bergerak. Telah terbengkalai korban, di situ pula berkoar-koar. Upaya pereventif kalah tawar dengan daya apologi. Lenting pengabdian semakin terkikis akibat terlanjur taat senior. Misi kualitas insan cita kalah tawar dengan niat berpolitik praqmatis. Kekuatan membangun peradaban menjadi tenggelam karena ingin terkenal dengan proses yang instan. Idealitas digadaikan, spirit persatuan bukan digunakan untuk menopang pembangunan nasional, melainkan terjebak dalam konflik internal.

Padahal HMI mesti memiliki pola gerakan yang dinamis menyesuaikan keragaman keahlian para kadernya. Kekuatan dalam berdinamika jangan sempat mengarah pada proses perapuhan internal dengan saling mencari-cari pasal kesalahan antar sesama, keadilan dalam musyawarah (Konggres, Muda dan Konfercap) jangan sempat tergoda uang recehan, sehingga kemuliaan HMI semakin memudar. Delam konteks ini, Nurcholisd Madjid (Cak Nur) telah mengingatkan bahwa manusia tidak boleh tenggelam dalam syarat, sehingga tidak sempat mengerjakan rukunnya. Berhimpun adalah syarat untuk membangun kekuatan saat hendak mewujudkan misi keislaman dan keindonesian, dan menjaga kesejahteraan umat adalah rukun HMI yang mesti ditunaikan kapanpun dan di mana pun.

Baca Juga:  Bima Arya Dukung Rakernas BAKORNAS LAPMI PB HMI di Kota Bogor

Suka atau tidak suka, HMI masa kini tampak seperti manusia lesu di tengah badai yang sedang meluluh-lantakkan infrastruktur kenegaraan. Latah menyikapi kekuasaan, latah menyikapi isu perpolitikan dan larut pada narasi gerakan milenial tanpa paham sejauhmana kekuatan HMI di level pengkaderan. Jika sedemikian adanya, yang tumbuh dalam pengkaderan bukanlah benih atau jiwa-jiwa militan, melaikan mentalitas pengemis kekuasaan, mengedepankan transaksional untung dan rugi. Sehingga kekuatan kekuasaan kapitalisme semakin kekar dan mengakar dalam setiap proses dinamika ke-HMI-an.

Yang penting ditanyakan bahwa apakah HMI sekarang sesuram ini? jika iya apakah indikatornya? Penulis jawab bahwa HMI pada pranata jabatan politis keorganisasiannya sedang mengalami daruat moral dan darurat etik, serta darurat evaluatif. Tiga sisi kedaruratan inilah yang semestinya menjadi pekerjaan bagi mereka yang mengaku ber-HMI. Sebab kader HMI bukan hanya dituntut untuk apatis, tidak pula boleh apolitis, apalagi pragmatis. Karena pada hakikatnya HMI hadir di permukaan bumi ini sebagai wadah kemahasiswaan yang betanggung jawab pada segala perjuangannya, dan senantiasa meraih ridha Allah Swt.

Ingat, HMI bukanlah lembaga kaki tangannya partai politik. dan bukan pula tidak boleh berpolitik, sebab kader HMI mesti cakap menerapkan high politic atau silenc of politics (politik kesunyian) yang dilakukan atas nama keadilan sosial. Bukan atas nama donatur berakal kerdil, dan bukan pula atas nama gerakan emosional yang picik. Pada kondisi seperti inilah seluruh kader HMI mesti cepat bangun dari ketidakstabilan berfikir dan pergerakannya masa kini. Ciri unik pergerakan HMI adalah bersifat independen, bukan menghormati pemimpin organisasinya yang dungu atau amoral, apa lagi gila jabatan. Kader HMI mesti memiliki seni melawan tanpa restu pemimpinnya. Sebab melawan memimpin bukan berarti melanggar konstitusi, karena di atas konstitusi ada prinsip ideologi yang tak dapat diingkari.

Baca Juga:  HMI Cakaba dan Pemuda Bandung Deklarasi Anti Hoax

Daya instal ideologi HMI (NDP) belum begitu kuat mengendap dalam karakter kader HMI yang mendapat jabatan strategis, kondisi ini dibuktikan dengan fenomena terpecahnya kekuatan HMI akibat salah urus menyikapi organisasi emas generasi muslim. Diakui atau tidak,  kekuatan organisatoris HMI telah terpeca-belah bagaikan gelas indah yang pecah akibat diletakkan pada meja yang miring. Beling-beling kacanya yang pecah tak dapat lagi disatukan, jika dipaksa, ia akan menggores luka dan menetas darah siapany yang menyentuh beling kacanya. Satu-satunya jalan adalah sapu belingnya dan luruskan mejanya, sehingga gelas yang baru dapat gagah berdiri di atas meja yang telah di luruskan. Sedemikianlah perumpamaan upaya mengembalikan pergerakan HMI pada haluan yang sesungguhnya.

Diakui atau tidak, kemunduran HMI bukan lagi sekedar 44 indikator kemundurannya, tetapi telah mencapai angka seratus bahkan lebih jika diuraikan secara komprehensif dari semua sisi pergerakannya. Sebab saat bicara HMI bukan saja bicara kadernya, bukan saja bicara organisasinya, melainkan juga bicara rakyat, agama dan negaranya. Mendefenisikan arah pergerakan HMI tanpa kemunduran memang mustahil, namun selalu bergerak mundur petanda HMI sedang sakit. Seyogianya kemunduran yang dialami HMI masa kini mesti menjadi batu loncatan dalam menyusun kekuatan baru, pikiran baru tanpa terburu-buru terbawa hawa nafsu efek post-truht. Kebutuhan meterial (uang) memang soal angka, tetapi material bukanlah segala-galanya. Jika tidak percaya, apa bedanya HMI dengan spirit gaya meterialismenya Marxisme. Jika HMI intim dengan kekuasaan pragmatis? Apa bedanya HMI dengan Kapitalisme. Jika HMI tenggelam dalam media sosial? Apa bedanya HMI dengan remaja yang labil? Sepatutnya HMI harus mampu mengedepankan gerakan perwudukan moralitas keislaman dalam menyelesaikan menalitas anak bangsa dari jeratan gerakan Marxisme, kapitalisme hingga mampu berdemontrasi secara profesional dan mempercepat terwujudnya sistem keadilan sosial dan keadaban perpolitikan di Indonesia.

Baca Juga:  LK 2 Wadah Silaturahmi, Memupuk Potensi Intelektual

Dengan perjuangan memperbaiki sistem, maka dampak perubahannya akan bersifat luas. Dengan mengontrol haluan politik bangsa, HMI dapat menyelamatkan nasib umat manusia tanpa sekat agama, ras dan antar golongan. Daya intelektulitas kader HMI harus mampu berubah menjadi kekuatan besar dalam menjaga akar pergerakan HMI yang tidak goyang karena kekuasaan, tidak gugur karena nafsu kekuasan, dan tidak tumbang karena para pendahulu. Pranata kekuatan HMI masa kini harus ditata ulang (renovasi) sebab HMI bukan saja sedang menghadapi gelombang Industri ke empat, tetapi HMI juga sedang bergelimang dalam lautan interaksi anak bangsa yang cerdas menggunakan teknologi namun krisis moral, dan krisis saat bertuhan. Makanya jangan terkejut menemukan fakta mengaku HmI tapi “ateis” (dalam artian tidak meyakini kebenaran idealis). Sejatinya hal ini bukan saja dialami oleh internal ke-HMI-an, tetapi gejala ini hampir menjadi penyakit bersama di Indoensia.

HMI mesti cepat mengepakkan sayapnya, bila sayapnya telah patah, bergegaslah diperbaiki. Sebab HMI memiliki kewajiban dalam menyelesaikan persoalan kenegaraan yang kini sedang tertatih-tatih. HMI butuh sampai aktif dalam upaya pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. HMI mesti menjadi garda terdepan memperbaiki karakter anak bangsa. Sehingga kader HMI tidak hanya cakap meminta haknya, tetapi juga bertanggung jawab dalam menjalankan amanah ideologis dalam pergerakannya. Akhirnya HMI bukanlah suatu organisasi yang haus jabatan, dan bukan pula bergerak karena jabatan, melainkan HMI digerakkan atas dasar niat dan cita-cita penuh dengan kemuliaan. Bukan mahir jilat-menjilat pengatur jabatan. Hanya pada Allah Swt kita menyerahkan diri, dan hanya pada Rasulullah Saw pula kita menerima syafaat. Semoga kita selalu dalam misi kebenaran, bukan pembenaran. Yakusa !!!

Pipin Cakaba


Visitors:

  • 14,935

Sekilas Kami

Bakornas LAPMI PB HMI merupakan salah satu badan khusus di dalam tubuh organisasi HMI yang bersifat semi-otonom sebagai penyalur minat dan bakat anggota dan wahana pengembangan kader di bidang jurnalistik/pers (ART Pasal 44).


[email protected]

0816-766-496



Newsletter


Media Partner

Independensia.id