Muhasabah Kader HMI dalam Era Millenial

Oleh : Moch Syaroni (Kader HMI Cabang Surabaya)

 

“HMI hendaknya benar-benar HMI, jangan sampai suka menyendiri”.

(Panglima Besar Jenderal Sudirman)

Kutipan diatas diambil dari pidato Pak Dirman dalam sambutannya pada peringatan Dies Natalis I HMI di Pendopo Bangsal Kepatihan, 6 Februari 1948. HMI yang pertama merupakan akronim dari Himpunan Mahasiswa Islam dan yang kedua adalah Harapan Masyarakat Indonesia.

Dalam perjalanannya sebagai sebuah organisasi kemahasiswaan, HMI telah terbukti mampu bertahan dari segala tantangan dan hantaman yang berasal dari luar tubuhnya. Pada awal berdirinya HMI langsung dihadapkan pada perjuangan fisik melawan agresi militer Belanda. Revolusi fisik yang membutuhkan segenap komponen kekuatan bangsa, termasuk didalamnya pemuda dan mahasiswa. Banyak kader HMI yang terjun langsung dalam kancah fase perjuangan tersebut.

Begitu pula dalam hal pertentangan ideologi. HMI dapat bertahan dari gempuran tuntutan pembubaran yang disuarakan PKI melalui organisasi underbouwnya CGMI. Tidak tanggung-tanggung yang menuntut keras adalah langsung Ketua Umum PKI D.N Aidit dalam rapat umum menjelang kongres CGMI. ”Kalau tidak dapat membubarkan HMI, Lebih baik pakai sarung”, kata D.N Aidit dihadapan puluhan ribu kader CGMI di Gelora Bung Karno Senayan Jakarta. Sejarah membuktikan HMI dapat bertahan, bahkan menjadi pelopor gerakan mahasiswa yang menyatu dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang menuntut pembubaran PKI yang kemudian pada akhirnya meruntuhkan kekuasaaan Orde Lama dan mengantar Indonesia memasuki Orde Baru.

Sejak berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam pada  tanggal  5  Februari  1947  sampai  saat  ini  (72  tahun) silam.  HMI  menyumbang  kontribusi  besar  dalam  dinamika  kebangsaan  di  Indonesia.  Tentunya  ini  didasarkan pada tujuan awal HMI berdiri. Tujuan itu memiliki dua poin. Pertama : Mempertahankan  Negara Republik Indonesia dan Mempertinggi Derajat Rakyat Indonesia.  Dan Kedua : Menegakan  dan  Mengembangkan  Ajaran  Islam.  Tujuan tersebut tentunya tidak berlebihan, mengingat kondisi Indonesia pada saat waktu itu.

Sejak runtuhnya orde lama tidak hanya memberikan harapan baru kepada rakyat Indonesia, akan tetapi juga memberikan ”hadiah-hadiah” berupa diangkatnya tokoh-tokoh organisasi maupun gerakan mahasiswa yang berjasa membantu militer untuk menumbangkan orde lama menjadi anggota parlemen. Mungkin sejak saat itulah HMI dekat dengan lingkaran kekuasaan politik di Indonesia. Selama kepemimpinan Presiden Soeharto banyak alumni HMI yang menjadi menteri ataupun pejabat tinggi lainnya di jajaran kekuasaan politik.

Lalu apa yang salah dari fenomena ini? Tidak ada yang salah selama alumni HMI tidak memanfaatkan adik-adiknya di HMI untuk kepentingan yg menguntungkan secara pribadi maupun kelompoknya atau politiknya, dan adik-adik HMI tidak ”kegenitan” memanfaatkan alumninya yang berada di tempat pusat kekuasaan untuk kepentingan pribadinya. Akan tetapi dalam kenyataannya tidaklah seperti yang terjadi diatas.

Kader HMI bergeliat dengan semangat menggebu-nggebu ketika terjadi gejolak politik nasional yang melibatkan ”abangnda-abangndanya”. Masing-masing berebut tempat untuk menjadi yang paling dekat dengan alumninya yang sudah menjadi tokoh dengan harapan dapat menyelamatkan masa depannya untuk berkarir di politik, karena memang tidak punya keahlian dan prestasi akademis apapun selain pandai beretorika kosong dan “mengolah wacana“ yang akan cuman menghasilkan narasi kosong.

Manisnya kamu, eh gula kekuasaaan telah menjadikan politik sebagai panglima didalam tubuh HMI yang menghegemoni. Kultur perkaderan di HMI memang menempa setiap kader untuk menjadi pioner atau pemimpin di segala bidang, dan politik merupakan batu loncatan yang murah dan mudah untuk menonjolkan eksistensi seseorang. Cukup dengan memegang jabatan organisasi kemahasiswaan/kepemudaan, ataupun ormas dengan massa yang banyak serta kecakapan beretorika kosong sudah bisa menjadi alat tawar menawar dalam kekuatan politik, ditambah dengan jaringan alumninya yang tersebar disegala disegala bidang.

Akibatnya adalah kultur atau tradisi intelektualitas yang terbangun pada tiga dekade awal berdirinya HMI mulai meluntur. Wacana pembaharuan pemikiran yang populer di era Cak Nur kini jarang dilontarkan kader-kader HMI. Padahal diakui atau tidak, intelektualitas merupakan salah satu kunci kekuatan HMI. Nilai-nilai Dasar Perjuangan yang merupakan landasan ideologi perjuangan HMI dimana Cak Nur ketika hendak merumuskan NDP untuk sebagai landasan bergerak, berfikir, berkepercayaan, dsb yang menjadi NIK (Nilai identitas Kader). NDP yang sebelumnya mampu menyemangati pergolakan intelektual dan wacana keagamaan kader HMI saat ini justru semakin tidak diminati kader. Bisa dilihat dari gejala makin minimnya tradisi diskusi tentang keIslaman, disamping lemahnya semangat membangun wacana pemikiran Islam yang pernah disandang berberapa dekade lalu. Bahkan ada singkat kata “kalau ingin belajar politik sudah tepat masuk HMI, tetapi kalau mencari ilmu agama jangan di HMI karena anda tidak akan mendapatkan apa-apa”.

Baca Juga:  HMI di Persimpangan Kiri Jalan

Begitu pula dalam bidang profesionalitas saat ini. Jarang kader HMI yang benar-benar aktif dan giat ber-HMI duduk di jabatan tinggi profesi atau eksis diakui sebagai pakar dalam profesi tertentu, kalaupun ada itu didapatkan karena memang kesungguhan mereka belajar dan menempuh studinya secara serius dalam bidang profesinya, bukan karena HMI nya.

Kondisi diatas membuat HMI jauh dari masyarakat. Diiringi dengan banyaknya masyarakat yang sangat awam dengan nama Himpunan Mahasiswa Islam dan jarang bahkan tidak sama sekali merasakan adanya ke eksistensial HMI. Jauh karena kader HMI asyik dengan wacananya yang melangit tanpa memberikan kontribusi ataupun solusi terhadap permasalahan bangsa. Berapa puluh prokernas yg dibahas di konggres sampai sejauh mana kader HMI mampu mengawal hal tersebut. HMI pun terpinggirkan dalam dunia tempatnya berasal yaitu kampus dan kemahasiswaan. Terlebih di kampus-kampus ternama. bisa dikatakan HMI telah kehilangan peran-perannya. Jalur akademis dan intelekual lebih diramaikan oleh pers kampus dan kelompok studi mahasiswa sedangkan aktivitas keislaman didominasi oleh UKM Kerohanian Islam kampus. Jabatan strategis penentu kebijakan kemahasiswaan seperti BEM, SM dan MPM pun tidak dapat dikuasai oleh kader HMI. Kader HMI tampaknya lebih asyik menyendiri didalam dunianya, yaitu intrik-mengintrik sesama kader untuk bersaing merebut jabatan tinggi di tingkatan struktur organisasi HMI, mulai dari komisariat sampai dengan Pengurus Besar. Harapan kedepan nya Pak Dirman dalam kutipan diatas yaitu HMI supaya jangan sampai menyendiri agaknya tidak terwujud.

Sebagai sebuah organisasi kemahasiswaan terbesar secara kuantitas pun masih perlu dipertanyakan keabsahannya. Mungkin benar adanya di atas kertas, tetapi fakta dilapangan tidak menunjukkan indikasi tersebut. Sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap menjelang Konggres HMI ketika diadakan verifikasi jumlah anggota, Pengurus Cabang banyak yang me-mark up laporan jumlah pengurus/anggotsnya agar bisa berpengaruh terhadap jumlah delegasi yang akan dikirim mengikuti Konggres. Bukankah semakin banyak jumlah delegasi yang mempunyai hak suara bisa menjadi alat tawar menawar dukungan terhadap para calon Ketua Umum PB HMI.

Begitu pula jalannya konggres. Bagi yang mengikuti suasana persidangan dalam konggres akan mengatakan bahwa kongres hanyalah tempat berkumpul orang-orang yang ingin menunjukkan dirinya sebagai macan dalam forum yang sedang berlatih vokal dengan retorika atau narasi kosong. Hampir tidak ada perdebatan cerdas yang membahas solusi atas problematika umat dan bangsa. Molornya konggres dari jadwal yang telah ditetapkan pun bukan karena ada hal substansial yang sedang dibahas, akan tetapi karena ketidakdisplinan peserta mengikuti persidangan, juga karena adanya tarik menarik kekuatan politik para kandidat Ketua Umum yang belum mencapai kata sepakat untuk pembagian posisi di kepengurusan Pengurus Besar dibawah Ketua Umum terpilih.

Kalau sudah seperti ini masihkah HMI menjadi harapan masyarakat Indonesia? kalau pertanyaan itu harus dijawab sekarang tampaknya sulit untuk dijawab. Tetapi sulit bukanlah mustahil. Harapan kedepan bahwa HMI benar-benar menjadi harapan masyarakat Indonesia masih ada.

Telah banyak solusi atau pun kritikan yang disampaikan oleh kader maupun alumni yang masih peduli dengan organisasi ini yang memang relevan untuk dilaksanakan oleh pengurus maupun kader di HMI. Kuncinya hanyalah di kemauan dan kerja nyata setiap pengurus baik dari tingkatan Komisariat, Cabang, Badko dan Pengurus Besar untuk membenahi kembali kunci kekuatan HMI yang terletak di tradisi intelektual dan independensi agar memori penjelasan tujuan dan tafsir independensi HMI tidak sekedar menjadi teks mati tanpa makna dalam jiwa-jiwa kader HMI. Kerja nyata penting dilakukan karena memang selama ini HMI lebih terkenal dengan wacana-wacana yang ”melangit” tetapi tidak bisa diimplementasikan pada realitas kehidupan sebenarnya.

Perkaderan yang merupakan kunci eksistensi keberlangsungan HMI sampai saat ini sudah waktunya direkonstruksi agar adaptif sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. Abdullah Hemahua, aktivis veteran dan mantan Ketua Umum PB HMI pernah mengatakan bahwa perkaderan formal HMI adalah perkaderan terbaik yang pernah ada di antara perkaderan organisasi kemahasiswaan lainnya. Akan tetapi sebaik apapun suatu pengkaderan yang pernah ada, bukan berarti anti perubahan. Silahkan lakukan strategi, taktik, lobby, negosiasi, konsolidasi tapi mohon jangan dalam soal perkaderan. Didik adik-adik sebagai kader perjuangan jangan didik adik-adik sebagai kader yang instan.

Pengkaderan formal seperti Latihan Kader 1 Basic Training (LK 1) belakangan ini tampaknya mulai mengalami degradasi substansi dari perkaderan itu sendiri. LK 1 saat ini hanyalah berupa seremonial rekrutmen yang dijalankan HMI tanpa ada makna atau esensi yang harusnya di dapat oleh seseorang yang memang dipersiapkan menjadi tulang punggung dari suatu organisasi. Untuk itu sistem dan pola perkaderan harus dikembalikan dalam bingkai nilai-nilai yang menjadi ruh dan marwah perjuangan HMI yaitu Islam, kemudian penekanan pada strategi perkaderan yang memberikan stimulus atau motivasi kepada kader untuk mengembangkan kepribadian kader secara integral dan komprehensif dengan menyentuh berbagai potensi yang dimilikinya.

Baca Juga:  Bima Arya Dukung Rakernas BAKORNAS LAPMI PB HMI di Kota Bogor

Secara  historis,  dinamika  problem  kebangsaan  Indonesia  dari  masa  ke masa juga menyeret adanya kedinamisan organisasi HMI. Faktanya dalam tubuh HMI adanya perubahan-perubahan untuk menyesuaikan dengan kondisi zaman. Pak Agus  Salim  Sitompul  dengan  apik  dan  sistematis  menjelaskan  bagaimana perubahan-perubahan  di  dalam  tubuh  HMI dengan berbagai cara dengan salah satu diantaranya mampu menjadi seorang sejarahwan dalam organisasi HMI.  Dalam  fase  pembangunan  di  HMI  mulai  terbentuknya konstitusi/aturan sebagaimana Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) dalam HMI, sistematika perkaderan atau lebih familiar pedoman perkaderan, sampai adanya pembentukan lembaga pengembangan profesi (LPP) di HMI. Tidak kalah penting adalah perkaderan yang terarah untuk mengasah minat dan bakat agar kader HMI mempunyai kualifikasi pada bidang tertentu. Output yang diharapkan tentunya adalah setiap kader HMI mempunyai watak sebagai problem solver bukan politikus praktis apalagi problem maker.

Dinamisasi dalam tubuh HMI merupakan suatu respons terhadap dinamika kebangsaan.  Agaknya  perubahan  tersebut  mencirikan  komitmen  HMI  dalam upaya memberikan kontribusi bagi Indonesia lewat SDM nya. Sumber  daya  manusia  yang  ingin  di  keluarkan  HMI  lewat  perkaderan  yakni  terdapat ciri-ciri lima  kualitas  Insan  Cita.  Lima  kualitas  Insan  Cita  ini  merupakan aktualisasi  dari tujuan HMI  yang  tertera  di  dalam  Anggaran  Dasar  pasal  4 Terbinanya Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi, Yang Bernafaskan Islam dan  Bertanggung Jawab Atas Terwujudnya Masyarakat Adil Dan Makmur Yang Di  Ridhoi  Allah SWT.  Untuk  membentuk  5 kualitas Insan  Cita  ini,  di  butuhkan  kerja  keras  dan  perjuangan  yang  maksimal  dalam hal perkaderan.

Perkaderan di HMI memiliki jenjang terstruktur dan rapi. Mulai, LK 1 (Basic  Training), LK 2 (Intermediate Training), dan LK 3 (Advance Training). Sisi lain dari perkaderan di HMI adalah adanya penunjangan di bidang keprofesian. Lewat Lembaga Pengembangan Profesi (LPP).  Lembaga  ini  mempunyai basic pelatihan masing-masing atau yang lebih familiar disebut dengan Latihan Khusus (Laksus). lembaga-lembaga yang dimiliki HMI seperti diantaranya : Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI), Lembaga Ekonomi Mahasiswa Islam (LEMI), Lembaga Pendidikan Mahasiswa Islam (LAPENMI), Lembaga Kesehatan Mahasiswa  Islam (LKMI),  Lembaga Pariwisata Dan Pecinta Alam (LEPPAMI), Lembaga Seni Mahasiswa Islam (LSMI), Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum Mahasiswa Islam (LKBHMI),  Lembaga  Dakwah Mahasiswa Islam (LDMI), Lembaga  Teknologi  Mahasiswa  Islam  (LTMI), dsb.  Dari  sini,  HMI  banyak  tokoh-tokoh  nasional  yang  di  lahirkan.  Tokoh-tokoh  intelektual, politik, pembisnis, sampai keagamaan. ambil contohnya, Nurcholis Madjid, Achmad Wahib, Dawam Rahardjo, Jusuf  Kalla, Akbar Tanjung, Anis Baswedan, Mahfud MD, Azyumardi Azra, dan Abu Bakar Ba’asyir dll.

HMI Dalam Era Milenial, ditandai dengan kemajuan dan ketatnya persaingan tekhnologi. Zaman ini menjadi penanda munculnya kemajuan sebuah peradaban. Secara  teoritis akhir dari reformasi eropa mengatakan bahwa evolusi paradigma dari Kosmosentri, Theosentris, Antroposentris. Memasuki abad ke 21 munculah paradigma baru yakni Tekhnosentris.  Pada  giliranya akan menggantikan Antroposentris ke Tekhnosentris sebagai timbangan pusat peradaban. Jika kita mengkaji ini saya teringat oleh Alvin tofler mengingatkan kita pada munculnya tiga step gelombang peradaban. Yakni pertanian, industri dan informasi. Gelombang informasi inilah sebagai akses teknologi.

Dalam realitasnya seakan dunia semakin sempit. Tanpa adanya sebuah batas garis teritorial tertentu dan bisa mengakses informasi apapun. Kapanpun dan dimanapun era teknologi juga mengaharuskan manusia untuk bersaing. Dalam hal ini pemenangnya adalah kreatifitas dan inovasi. Selanjutnya yang menjadi pertanyaan lebih keras adalah bagaimana HMI merespon tantangan ini? Namun  pada  kenyataanya  eksitensi  HMI  tergerus  oleh  perkembangan zaman. Bahkan dari tahun 2000an sampai hari ini, HMI tidak mampu mencetak tokoh-tokoh intelektual atau Nasional.

Mengingat hal ini, perlu adanya formulasi dan terobosan baru perkaderan di zaman  milenial seperti ini. Sesuatu keharusan adanya kepahaman dan internalisasi 5 kualitas insan cita pada diri kader dimana juga menjadi ciri khas Nilai identitas kader untuk berproses di HMI baik secara struktural maupun fungsional. Konsekuensi logis dari adanya fenomena  ini,  kader  HMI harus mempunyai skill (kemampuan), agar bisa bersaing dan meraih cita-cita yang diharapkannya. Masa depan HMI terletak pada eksistensi, dan eksistensi HMI berkaitan erat dengan output yang di keluarkan. Realitanya output yang di keluarkan HMI hari ini secara garis besar adalah orang-orang yang mempunyai orientasi dalam politik. Untuk itu mengimbanginya, perlu membentuk output yang siap survive di berbagai bidang. Misalnya :  di bidang Jurnalis, dakwah, teknologi, kesehatan, ekonomi, pendidikan dsb.

Baca Juga:  Proses Hukum Berlanjut, Bakornas LKBHMI : 'Jangan Lagi ada Titis Kedua'

Perkaderan di HMI haruslah menjawab tantangan ini. Beberapa hal yang patut menjadi PR bersama, dalam hal individual, internalisasi nilai-nilai yang di upayakan dalam tujuan HMI pada (AD pasal 4) harus menjadi ruh dan marwah perkaderan. Profil kader HMI,  haruslah mampu menjadi Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso dan tut wuri handayani. sosok yang mampu sebagai patron perkaderan dan religius dalam tanda kutip selalu berpikiran kemajuan dan loyalis yang mampu mengejawantahkan terhadap nilai-nilai kegamaan yang tertuang dalam tafsir asas, sifat, peran, fungsi, tujuan maupun dalam NDP, bebas dari new jahiliah (kemunduran), kader HMI haruslah selalu menyandarkan pada sisi intelektualitasnya, dalam hal ini menjadi fokus utama. Karena basis intelektualitas adalah instrumen bagi majunya para setiap kader untuk menciptakan hal-hal yang  baru (kreatif dan inovasi). Memiliki paradigma solutif untuk memberikan solusi-solusi terhadap  permasalahan  kebangsaan dan keumatan. Serta memiliki keahlian dalam profesi yang jelas guna  mengupayakan kader HMI berkontribusi dalam memajukan kehidupan umat dan bangsa.

Dalam Konstitusi HMI harus adanya pembenahan di dalam tubuh HMI sendiri. Agenda besar yang harus dituntaskan HMI. Pertama : merubah internal para kader HMI yang  berorientasi pada politik yang menjadi mainstream dari hari ke hari dan menjadikan para kader yang punya daya inovasi dan kreatifitas. Oleh karenanya pemetaan lewat pengkajian dan penilitian  potensi kader kepada sebuah keberanian berinovasi. Perkaderan HMI harus  disesuaikan dengan bakat dan minat para kader. Yang dimana harapannya nanti menjadikan semangat dan dorongan dalam hal berproses dalam himpunan ini. Kedua : Mengembalikan  budaya intelektual di HMI itu sendiri. Menjadi suatu keharusan bila HMI tak ingin menjadi  korban  kemajuan. Ketiga : memaksimalkan dan mengoptimalkan lembaga pengembangan profesi.  Sadar atau tidak sebenarnya daya tawar HMI hari ini terletak pada Lembaga Pengembangan Profesinya. Tentunya ini tidak berlebihan, karena zaman milenial  ini  yang  dibutuhkan adalah profesi dan inovasi. Dimana hal tersebut diiringi banyaknya mahasiswa yang semakin jenuh dan bosan setelah berkuliah dalam kelas mendapatkan hal-hal yang sifatnya teoritis dan berorganisasi pun juga menemukan hal-hal yang sifatnya teoritis yang membuat mahasiswa semakin bosan dan menjadi kendala lain yaitu tentang penugasan dimana kurikulum sekarang yang menurut saya sangat tidak seimbang yang hanya mengedepankan aspek kognitif nya saja tanpa memperhatikan, dan mempertimbangkanaspek afektif dan psikomotoriknya. Lewat  LPP  inilah pembinaan dan pembentukan output HMI akan jelas. Untuk mewujudkan hal tersebut adanya perkaderan di LPP yang sitematis terarah dan terstrukur harus dilakukan. Maka dari itu perlu adanya setiap komisariat, cabang, badko, hingga PB HMI paham dan menguasai betul tentang pedoman perkaderan dan skema perkaderan. Dan pelatihan seperti “Senior Course” juga perlu diikuti. Dengan adanya suatu komisariat yang banyak dalam ruang lingkup cabang harus juga diimbangi dengan seorang tenaga Instruktur yang banyak pula. Untuk ini adanya kurikulum serta metode yang jelas yang dibutuhkan dalam setiap pelatihan di HMI. Sedianya harus menggandeng Badan  Penglola Latihan (BPL) dan Pembinaan Anggota.

Kemampuan di berbagai bidang ini haruslah disadari, agar konsensus HMI untuk  membangun bangsa tetap menjadi garis utama perjuangannya. Apalagi dalam kemelut era milenial kita disuguhkan berbagai situasi dengan bonus demografi, digitalisai dsb. Bukan hal yang mustahil jika beberapa solusi diatas di laksanakan maka HMI akan menjadi organisasi yang siap bersaing dalam menjawab tantangan zaman. bukan sebaliknya

HMI sudah terbukti mampu bertahan dari tantangan dan hantaman yang berasal dari luar dan kedepan mampukah HMI menghadapi tantangan yang berasal dari dalam tubuhnya sendiri? Yang bisa menjawab adalah segenap pengurus HMI dari Pengurus Besar sampai dengan komisariat dan tentunya seluruh kader HMI yang masih mencintai Himpunan ini. Kecintaan yang besar dari segenap keluarga besar Hijau Hitam semoga tidak mengurangi keobjektivitasan untuk mengkritisi segala kekurangan yang ada di Himpunan ini dan membenahi untuk kemajuan umat dan bangsa.

Salam hormat dan angkat topi dari saya pada setiap kader yang masih menjalankan roda organisasi dengan secara Ikhlas dan Niat Ingsun Belajar. Semangat Berhimpun.

Pipin Cakaba


Visitors:

  • 8,261

Sekilas Kami

Bakornas LAPMI PB HMI merupakan salah satu badan khusus di dalam tubuh organisasi HMI yang bersifat semi-otonom sebagai penyalur minat dan bakat anggota dan wahana pengembangan kader di bidang jurnalistik/pers (ART Pasal 44).


[email protected]

0816-766-496



Newsletter


Media Partner

Independensia.id