Bahaya Refleksi Keumatan

Oleh: Aqil N*

Akhir-akhir tahun, kemanusiaan melihat  jalan-jalan yang semakin tidak manusiawi. Bahkan para pembeli dan pedagang seperti mencari-cari dosanya, kemudian tiang-tiang listrik dan jalan nampak acuh, tembok kian membisu, seandainya ada lulusan-lulusan strata humaniora disitu barangkali mustahil menundukkan kebisuan, mereka pada saat itu juga akan membakar lara dan kesedihan kebesaran ego yang enggan dikritisi. Kemanusiaan telah tunduk, ia tak lagi berpangku oleh keberanian marjin kiri, kesannya seperti mengakuisisi kepemilikan dan otoritas manusia kendati meskipun ia melihat disekelilingnya zaman-lah yang terlalu cepat melibas habis jeri payah orang-orang kecil.

Kemanusiaan sadar, ia butuh refleksi, namun andaikata tidak dipikirkan matang-matang maka sia-sia-lah. Di kemudian hari, sewaktu kemanusiaan melihat betapa sengit pertengkaran anak – anak muda di layar gadgetnya, air mukanya lansung panas dingin, betapa menandakan bahwa ketakutannya muncul karena ketidaktakutan atas apa yang ia percayai selama ini, perdagangan telah memasuki arena baru yang terpaksa, dan mau tidak mau harus menerima kenyataan bahwa ini bukan soal hasrat pembeli atas pedagang beras di pasar tradisional. Ini bukan soal keterlibatan petani dan pedagang diawal. Hal ini tenyata juga terjadi di depan matanya, di layar gadgetnya, ia bahkan tidak percaya, tetapi jauh di bawah kesadaran, otak-nya seperti berkata,”lihatlah kemanusiaan! Pekerja informasi terpaksa memperjual-belikan informasi demi mencukupi rasa laparnya.” Kemudian kemanusiaan berfikir, apapun profesi mereka, mereka adalah aktor dari pedagang dan pembeli di sebuah pasar.

Memasuki abad ke-21, arus perkembangan teknologi telah mengubah wajah perekonomian global. Arus pembangunan berhasil menundukkan keterlibatan institusi kepemerintahan terhadap institusi perekenomian. Bahwa ada permasalahan yang timbul setelah perubahan sosial yang terjadi saat ini.

Baca Juga:  Third anniversary of exclusive partnership

Ada jurnalis yang memperdagangkan informasi demi keuntungan perusahaan, ada para petani yang semakin miskin karena keterlibatan swasta. Mau tidak mau kondisi negeri bernama Indonesia telah menghadapi gejolak lama, era kembali berjayanya hukum rimba, jika di masa lalu Ordo Vatikan adalah dalang yang mengotaki kemunduran eropa maka kini menjelma menjadi sesuatu yang lebih menakutkan. Kemajuan dan prinsip-prinsip monopoli baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun swasta di kancah pasar politik dan pasar bebas adalah lumrah.

Lalu daripada mencari-cari kesalahan, saya tidak bisa mencuri gizi dari keluhan-keluhan kemanusiaan. Bagaimanapun juga keluhannya terlalu rawan.

“Lalu apa yang dapat aku lakukan wahai kemanusiaan”

Saya mulai bertanya-tanya tentang itu sedangkan hakikat diri ini pun terlalu rawan untuk diperbincangkan. Mungkin ada sedikit asas dan teori hakikat diri dalam kitabnya Al-Ghazali yang berjudul Kimiyatul Sa’anah. Akibatnya puluhan bahkan ratusan pertanyaan kemudian timbul, dan jawaban-jawaban bahwa manusia adalah khalifah fill ard hanya akan memperdalam keraguan untuk berbuat sesuatu.

“Kemanusiaan, tidakkah kau lupa ini bukanlah teka-teki bulan dan bintang yang menggantung di langit-langit Guntur Jakarta Selatan, atau bahkan langit-langit Ciputat yang melahirkan begitu banyak gagasan-gagasan pembaharuan tentang keislaman dan keindonesiaan.”

Bahkan saya semakin tidak percaya ketangguhan demokrasi, bayangkan saja ada kegaduhan dimana-mana. Refleksi akhirnya seperti kurang lebih tindakan-tindakan plagiasi dari pemikiran-pemikiran mereka. Ketika demokrasi negeri ini semakin ribut, gejolak bertebaran, isu-isu kemuraman sosial mewarnai setiap detik, kawah candradimuka tempatku memupuk semangat pembaharuan seperti kajian atau diskusi hanyalah barang murahan yang kecil sekali harganya.

Mungkin ada gagasan tentang perlawanan yang erat kaitannya dengan semangat pembaharuan. Tepat pada tanggal dimana artikel ini dibuat, kala itu abad ke-20, Fransisco Panizza memberi gizi baru tentang Populisme, yakni ketika zaman semakin menolak akrab dengan para penguasa yang melahirkan diktator-diktator kejam selama kurun waktu abad ke-20. Panniza memberi artikulasi signifikan terkait tindakan-tindakan orang kecil seperti saya, lebih tepatnya orang kecil dimasa itu, bila nama-nama sekaliber Che Guevara dan Fidel Castro layak sebagai contoh. Maka peluang-peluang mereka saat itu adalah mereformasi hal-hal teknokratis dari segi pendidikan dan kesehatan. Demi keruntuhan pembodohan yang pernah dilakukan rezim para diktator negara-negara di Amerika Latin.

Baca Juga:  Measure your heart rate with any phone

Akhirnya saya seperti menerima lapang dada bahaya dari refelksi. Coba kita perhatikan lebih dalam penyebab terseok-seoknya kemakmuran di negeri ini, ada persoalan mendasar yang kini dialami oleh negeri ini, bahwa sintesa komunitarianisme (masyarakat madani) diindikatori adanya keterbukaan dan kemandirian. Salah satu faktornya adalah kondisi perubahan sosial global, maka ada dua aspek yang amat prinsipil yakni lemahnya kultur sosial terhadap perkembangan teknologi. Dari adanya pergeseran milik kemanusiaan dari humanisme ke arah tekno-humanisme. Dari revolusi industri 3.0 menuju revolusi industri 4.0, bahwa telah tercipta semacam collosium, atau tirai besi bernama teknologi informasi dimana orang-orang di negeri ini termasuk aku sulit untuk keluar dari lingkaran setan, bahkan untuk berkuasa ddidalamnya sekalipun kecil kemungkinan untuk berhasil.

Maka Mihael Sandel yang pernah menguji ketangguhan asas komunitarian menunjukkan fakta amat menggelikan. Ketika muncul  pengelompokan sosial atau polarisasi yang secara khusus dua tahun silam gerakan 212 naik ke permukaan menjadi andil besar terjadinya perpecahan dimana-mana, maka efek samping dari asas tersebut adalah menggeliatnya perpolitkan praktis. Disini semakin membuat aku yakin bahwa dalil-dalil integritas dan moralitas adalah sumber gizi memiliki nilai asupan mendasar para aktor dari kelompok-kelompok sosial di negeri ini baik itu NSO (Non State Organization), Pemerintah, Organisasi masyarakat, bahkan perusahaan media.

Baca Juga:  Vienna philharmonic orchestra

Jika nilai integritas seorang pemimpin kelompok tertentu kehilangan kendalinya, itu akan membawa kita pada dilema berbangsa-bernegara yang berujung pada kesia-siaan. Hidup kita akan semakin muspra (sia-sia). Itu jelas terjadi sekarang, adopsi firehouse, propaganda serangan istana, menjalarnya rasa ketakutan yang diaotaki oleh kelompok-kelompok sosial adalah dalang amoralitas di negeri ini. Upaya-upaya pembangunan beralih posisi menuju pembodohan dan perebutan kekuasaan. Ratusan juta jiwa diperdaya oleh algoritma-algoritma digital, pada konteks ini kita melihat media sosial cendrung gaduh, dan perpecahan adalah sesuatu yang tak terelakkan lagi.

Ini mau tidak mau pengejentahwahan kaum-kaum intelektual seperti kita, harus mengakui dirinya adalah orang kecil yang lahir dari kawah candradimuka Himpunan Mahasiswa Islam, kendati terlalu banyak refleksi sama sekali tidak akan melahirkan perubahan apapun. Malahan gaya berfikir yang destruktif kemudian membangun sesuatu yang baru seperti misal melakukan gerakan-gerakan pembaharuan yang tidak hanya berhenti pada persoalan konsepsi, tetapi fokus pada pendekatan kerakyatan melalui inovasi pola-pola pendidikan, ilmu pengetahuan, nilai moralitas, dan pengembangan teknologi yang disyiarkan menjadi kewajiban utama calon-calon pembaharu, terlebih jika kita mau merendahkan diri dengan memahami kekuatan dari kegagalan diri, dan kekuatan dari kekhawatiran terhadap kesengsaraan umat. Oleh karenanya kekuatan syiar yang mensandarkan diri pada prinsip-prinsip jurnalisme adalah tugas mulia dan jangan sampai diartikulasikan mengarah pada ladang perdagangan monopolistik jika sungkan memakmurkan isi dompet para politisi.

*****

*) Kader HMI Cabang Bandar Lampung

Administrator

Administrator

Dolor proin! Placerat a, placerat enim vut duis aliquam, dignissim, magna sagittis duis diam et porttitor mus ultricies velit vut habitasse. Egestas facilisis a aliquet! Dolor. Rhoncus. Ac. Parturient elementum facilisis lorem.


Visitors:

  • 4,873

Sekilas Kami

Bakornas LAPMI PB HMI merupakan salah satu badan khusus di dalam tubuh organisasi HMI yang bersifat semi-otonom sebagai penyalur minat dan bakat anggota dan wahana pengembangan kader di bidang jurnalistik/pers (ART Pasal 44).


[email protected]

0816-766-496



Newsletter


Media Partner

Independensia.id