HMI: antara Pengabdian dan Lahan Politik

Syaf Lessy*

Sirkulasi pergulatan ruang publik nasional dalam melihat dan meneropong format praksis realisasi kehidupan berbangsa dan bernegara. sejatinya, keberadaan Himpunan Mahasiswa Islam adalah tonggak sejarah revolusi mentalitas bangsa Indonesia.

Hal ini pada prinsipnya merupakan khittah perjuangan setiap kader dimana Realitas keberadaan HMI tentu diyakini sebagai wadah atau laboratorium intelektual dalam mengembangkan dan membuka ruang sosial terhadap pengembangan cita-cita negara sebagai mana platform perjuangannya yakni melihat persoalan kebangsaan dan keummatan.

Dalam konteks sejarah nasional HMI, mencoba memanggungkan Indonesia dengan berbagai tradisi serta aktualisasi perwujudannya, di hadapan publik Indonesia yang dalam gerakan perjuangannya mengakumulasikan semua komponen bangsa.

HMI sebagai organisasi perjuangan, pada prinsipnya menjadi hal yang paling mendasar terhadap kerangka pemenuhan kehidupan berbangsa dan bernegara. Semakin menguatnya persoalan transidentitas dan transkultural dalam beberapa kurun terakhir menjadi polemik di negeri ini.

Menyelusuri ruang kehidupan Himpunan Mahasiswa Islam dalam beberapa tahun terakhir mengalami situasi paradoks, hal ini menggambarkan bahwa adanya kondisi dilematis sehingga menjadi tantangan kian membesar dewasa ini dalam mereaktualisasikan marwah organisasi sebagaimana termaktub dalam konstitusi; yakni, konstruk independensi organisatoris dan independensi etis dalam setiap pergerakan kader HMI.

Baca Juga:  HMI Selenggarakan Pengobatan Gratis dan Sunatan Massal

Sebagai organisasi keislaman dan kebangsaan, HMI perlu mengembangkan nilai nilai kebenaran universal dalam menghadapi krisis moral ketika wawasan keumatan mulai menghilang dari setiap jejak langkah perjuangan kader.

Dalam ingatan kolektif bangsa, kita tahu bahwa ketika seorang Lafran Pane mendirikan HMI, ada harapan besar yang terpatri dalam wajahnya. Sebab pada saat HMI dideklarasikkan, adanya bentuk pengakuan bahwa sebagai kader umat dan kader bangsa HMI tidak menjadi underbouw sebuah partai politik maupun non praksis politik kekuasaan.

Ketika kita kembali membuka lembaran sejarah keberadaan HMI, wajar jika Jenderal besar Sudirman saat itu mengatakan HMI sebagai Harapan Masyarakat Indonesia, sebab dalam internal keberadaan HMI itu sendiri berhimpunnya pemikir pemikir revolusioner dengan berbagai variasi keilmuan.

Dalam usianya yang ke 72 tahun ini. Himpunan Mahasiswa Islam mengalami hiruk pikuk yang sangat luar biasa, hal ini yang kemudian coba digugat dan dikritik oleh Nurcholis Madjid (Cak Nur) yang mengatakan bahwa bubarkan saja HMI. Pernyataan yang cukup menggelitik pemikiran kita sebenarnya.

Baca Juga:  Proses Hukum Berlanjut, Bakornas LKBHMI : 'Jangan Lagi ada Titis Kedua'

Dalam tafsirannya Cak Nur, di usia yang sudah matang ini HMI sudah saatnya memantapkan langkah dalam memobilisasi kader dalam mengejewantahkan Mission HMI, bukan sibuk dengan godaan politik kekuasaan.

Dalam manifestasi jalan lurus HMI sejatinya sudah boncengi oleh kepentingan politik praksis, kita tahu bahwa kejayaan HMI di dasarkan pada kulturnya yakni mengembangkan budaya membaca dan kajian yang menjadi telaah kritis dan pola konsumtif kader HMI.

Namun melihat gerakan HMI kekinian terlalu euforia dengan bergaining struktural. Mungkin karena hampir sebagian besar pejabat negara ini alumni HMI sehingga kebanggaan ini membuat HMI terlalu dekat dengan kepentingan politik kekuasaan.

Himpunan sudah tidak lagi sebagai wadah/ruang transaksi dan transformasi gagasan melainkan merupakan produk transaksi kekuasaan sehingga nihil ruangan independensi HMI.

Kita tahu bahwa prinsip non praktis politis bukan berarti menggambarkan bahwa HMI buta akan politik, melainkan adanya bentuk pengakuan bahwa sikap independensi menjadi kekuatan moral dalam melihat dan menggugat persoalan keumatan dan kebangsaan sehingga HMI tidak melindungi kepentingan elit kekuasaan secara sepihak.

Baca Juga:  Cipayung Gelar Simposium Permenritekdikti, Begini Sikap HMI Cabang Malang

Dalam situasi seperti ini, dapat mengindikasikan bahwa budaya konsumtif struktur politik kader semakin marak maraknya dipelihara dan menggurita sehingga memberikan ruang terhadap pola komando yang kaku. Misalnya, dalam beberapa temuan kasus Arahan kanda, perintah kanda, merapat ke kantor/instansi A, B, dan berbagai prototipe lainnya yang memberikan kecenderungan terhadap pola ketergantungan kader kepada institusi politik maupun para birokrat dalam menjadikan HMI sebagai instrumen politik.

Ada semacam badai politik besar yang kian menghancurkan Himpunan. HMI bukanlah organisasi massa yang harus bertengker dan bertarung dipanggung kepentingan publik terhadap upaya pemenuhan syahwat politik, namun secara esensial, HMI adalah organisasi kemahasiswaan dengan berjubel komitmen, bergerak dalam khittah perjuangan dalam mengembangkan dengan satu tujuan yaitu “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi oleh Allah SWT”.

*****

*)Fungsionaris Pengurus BADKO HMI Mal-Malut

Administrator

Administrator

Dolor proin! Placerat a, placerat enim vut duis aliquam, dignissim, magna sagittis duis diam et porttitor mus ultricies velit vut habitasse. Egestas facilisis a aliquet! Dolor. Rhoncus. Ac. Parturient elementum facilisis lorem.


Visitors:

  • 3,761

Sekilas Kami

Bakornas LAPMI PB HMI merupakan salah satu badan khusus di dalam tubuh organisasi HMI yang bersifat semi-otonom sebagai penyalur minat dan bakat anggota dan wahana pengembangan kader di bidang jurnalistik/pers (ART Pasal 44).


[email protected]

0816-766-496



Newsletter


Media Partner

Independensia.id