Kader Millenial dan Masa Depan HMI

Muh Marjan Halek (Al-Bar)

Kemunculan konsep millennial dalam paradigma politik menjadi salah satu ketertarikan sendiri bagi seluruh kalangan baik akademisi, aktivis dan politisi sekalipun. Salah satu faktor mendasar adalah generasi tersebut memiliki peran penting untuk menentukan masa depan Indonesia dari berbagai sektor.

Generasi millennial merupakan salah satu konsep yang mulai dikembangkan oleh Manheim salah seorang pemikir sosiologi yang melihat perubahan terjadi di setiap generasi dan selalu membentuk kelompoknya sendiri[1], hal ini didasari bahwa pada gerenasi yang lebih muda tidak dapat bersosialisasi dengan sempurna kepada generasi tua karena adanya perbedaan nilai dan pengalaman sehingga menjadi batasan tersendiri[2]. Maka hal demikian dengan secara tidak langsung dapat diilhami bahwa tidak semua kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memiliki pengalaman yang sama serta tantangan yang sama[3].

Munculnya generasi millennial ditantadi dengan maju dan berkembangnya teknologi informasi yang semakin masif (perilaku baru pada generasi dan menjadi pertanda suatu generasi)[4]. Generasi ini juga sering disebut sebagai generasi “Y” yang lahir dikisaran tahun 1980-2000[5], asumsi tersebut berangkat dari pandangan Manheim dalam esainya yakni The Problem of Generation yang mellihat perubahan generasi.

Sebagai kader HMI pastinya memiliki tafsiran tersendiri mengenai konsep generasi millennial dan masa depan organisasi, akan tetapi yang menjadi tolak ukur untuk menentukan analisa adalah berangkat dari acuan yang digunakan dengan landasarn teori yang jelas. Kader dalam arti yang singkat adalah sekelompok orang yang terorganisir dan digodok secara terus menerus dan menjadi tulang punggung organisasi. Dalam tafsiran lain seperti Albert Sidney Hornby seorang ahli tata bahasa Inggris kisaran tahun 1978-1998 yang mendefinisikan cadre atau kader adalah Cadre is small group of people who are specially chosen and tarined a particular purpose. Maka sangat tepat kiranya jika kader merupakan individu yang memiliki peran besar dalam menentukan masa depan organisasi.

Sejarah panjang HMI telah menjadi catatan bagi kita, secara tidak langsung yang berangkat dari berbagai macam tantangan HMI dari masa ke masa baik dari fase konsolidasi sampai pada fase pergolakan pemikiran, namun yang menjadi fase paling berat adalah fase pergolakan pemikiran yang sampai saat ini masih belum muncul fase baru secara kesepahaman bersama di dalam tubuh HMI, itu artinya seluruh kader HMI masih berada pada fase ini dan akan terus melahirkan kader dengan kapasitas pemikiran yang menjadi acuan bagi seluruh kader secara kompleksitas dan seluruh masyarakat Islam Indonesia pada umumnya. Namun untuk menentukan masa depan HMI adalah berangkat dari desain perkaderan yang menjadi prioritas utama seluruh penerus, terutama pengurus Komisariat (sebagai landasan perkaderan HMI yang ideal) maka akan ditopang oleh semua elemen pengurus HMI secara struktural.

Baca Juga:  HMI IPI Cabang Garut Warnai Milad HMI Ke-72 Dengan Syukuran

Barometer yang digunakan untuk menentukan masa depan HMI adalah melihat perilaku kader HMI saat ini. Seperti yang terlahir sebelumnya beberapa tokoh HMI yang mewarnai pergolakan pemikiran akademis maupun politik di Indonesia yakni Ab Wahid, Cak Nur, Akbar Tanjung, Mahfud MD dan beberapa tokoh lainnya yang seringkali dijadikan sebagai ikon HMI dalam masa perkenalan HMI secara kapasitas.

Beberapa tokoh di atas berangkat dari aktivitas perkederan HMI seperti yang dijalankan pada saat ini, akan tetapi terdapat beberapa perbedaan yang cukup signifikan yakni proses menuju pada kematangan pengetahuan. HMI tumbuh sebagai organisasi yang mengedepankan aspek ke-Indonesiaan, Ke-islaman serta ke-ummatan, maka ditopang dengan aktivitas diskursus dan penguatan bacaan-bacaan serta karya yang menggambarkan kapasitas pengetahuan yang dimiliki oleh kader HMI.

Kontekstual aktivitas HMI saat ini mencoba untuk menggunakan rekayasa yang sama dalam mencapai tujuan HMI dan menjawab fase tantangan HMI (pergolakan pemikiran) cukup mendapat berbagai tantangan tersendiri baik dikalangan pengurus komisariat dan jenjang stuktur lainya hingga ke Pengurus Besar (PB). Kader HMI saat ini dapat dikategorikan memiliki minat dan bakat yang cenderung lebih banyak mengarah pada aspek politik, sementara beberapa yang masih tetap konsisten dengan memperdalam pengetahuan baik secara tiga spirit HMI.

Namun tidak sebanding dengan rasio kader yang dimiliki oleh tiap komisariat (terdapat 30 atau lebih kader yang diikutkan dalam latihan kader I sebagai syarat administrasi dan memiliki konsen diwilayah akademis hanya 30% dari jumlah keseluruhan dan 70% mengarah pada aktivitas politik), maka secara sah dan harus disepakati bahwa ada perubahan di dalam tubuh HMI sendiri khusunya pada kader-kader HMI, ditambah lagi dengan kondisi psikologi generasi yang kian berubah setiap tahunya (kader angkatan 2010 dididik dengan keras secara penguatan nilai ideology, sementara kader kisaran 2014 lebih soft dalam penanaman nilai-nilai ideologi)[6].

Baca Juga:  Refleksi 72 Tahun, Kembalikan HMI ke Khittahnya

HMI secara organisasi seharusnya menjadi promotor tiga aspek yakni, ke-Indonesiaan, ke-Islaman dan ke-Ummatan, sementara yang nampak adalah HMI terkesan tidak memiliki peran masif dalam pengawalannya, seperti halnya kondisi keislaman di Indonesia dimana mengharuskan HMI kalah (bukan persaingan) dengan kader HTI dan ormas Islam lainya yang lebih memiliki peran maksimal untuk merawat Islam di Indoneia, atau pada aspek keummatan justru HMI saat ini tidak memiliki fokus yang jelas dalam menjawab persoalan bangsa, terutama pada wilayah keummatan seperti terjadi perampasan Hak hidup yang terjadi di beberapa daerah akibat ulah investor.

Menarikanya adalah, HMI memiliki kepekaan pada wilayah keIndonesiaan, dimana hampir seluruh aktivitas Negara (politik), HMI terus ikut ambil bagian di dalamnya seperti halnya HMI kawal demokrasi, HMI dan pemilu cerdas, HMI tidak terima suap dan isu-isu politik lainya.

Menjaga tiga komitmen HMI terkesan pinjang atau berjalan satu kaki (ke Indonesiaan) sehingga ini menjadi cikal untuk menentukan masa depan HMI adalah konsen pada wilayah politik[7], kader HMI secara tidak langsung lebih tertarik ketika membicarakan soal politik tidak memandang basic keilmuan (tidak menyalahkan akan tetapi disiplin ilmu yang ditekuni harus menjadi ikon capaian tujuan HMI). Ditambah lagi dengan alumni HMI yang semakin banyak berkiprah di bidang politik (sekalipun ada yang memiliki profesi lain akan tetapi tidak terlalu nampak seperti alumni yang berkarir di politik, sehingga ini menjadi ketertarikan sendiri di kalangan kader HMI). Maka tidak bisa dipungkiri bahwa akan ada komunikasi yang terbangun, sekalipun bukan pada ranah politik, tetapi kader memiliki ketertarikan sendiri untuk menjadi politisi, minimal sebagai orang yang terlibat dalam politik.

Baca Juga:  HMI KOMDAKKOM Gelar LK 1 Kedua di Periode 2018-2019

Secara wacana yang mulai menguat adalah akan adanya lembaga politik di dalam tubuh HMI, entah dalam bentuk badan atau partai tapi yang jelas sebagai wadah untuk pendistribusian kader yang memiliki minat tentang politik. Maka ini adakan menjadi ketertarikan bagi kader untuk ikut bergabung sebagai anggota badan atau lembaga tersebut (salah satu motivasi adalah bersilaturahmi sebatas senior-junior dan sama-sama berjuang atas terwujudnya tujuan HMI yang berangkat dari instrument politik). Sementara lembaga kajian dan diskusi saat ini memiliki nilai jual yang semakin menurun sehingga kader yang akan lahir secara ideologi dan kuat secara pengetahuan akan terus minim.

Referensi :

[1] Manheim berasumsi bahwa generasi merupakan suatu konstruksi social yang didalamnya hadirnya kelompok-kelompok kesamaan umur dan pengalaman historis yang sama pula.

[2] Batasan satu generasi kegenerasi lainya dapat diukur dari perilaku perbedaan usia kisaran 7-10 tahun, kalangan ini bisa berkomunikasi dengan sempurnah karena memiliki kedekatan usia dan perilaku yang tidak berubah secara keseluruhan.

[3] Lihat faseh tantangan HMI dari faseh Konsolidasi spiritual (1947), faseh perjuangan bersenjata (1947-1949), faseh pertumbuhan dan perkembangan (1950-1963), faseh tantangan (1964-1965), faseh kebangkita (1966-1968), faseh pembangunan (1969-1970) dan faseh pergolakan pemikiran (1970-sekarang).

[4] Seperti yang disampaikan oleh Kupperschmidt bahwa generasi adalah aktivitas kelompok yang mengidentifikasi dirinnya berdasarkan kejadian-kejadian yang dirasakan bersama

[5] Muhammad Abdul Aziz. 2018. HMI dan Tantangan Generasi Millennial. Rilis.id. (19 Februari 2018) 13:54 WIB

[6] Tidak ada maksud untuk mendiskritkan kader , akan tetapi kita berangkat dari kondisi yang terjadi secara nyata. Salah satu factor lain yang menjadi penyebab adalah kurangnya nilai jual organisasi dikalangan mahasiswa sehingga desain perkaderan yang digunakan terkesan kita yang membutuhakan kader, justru paradigma yang harus kita rubah adalah mahasiswa yang membutuhkan orgaisasi bukan sebaliknya.

[7] Berangkat dari aktifitas demokrasi (pemilihan pergantian ketua) didalam tubuh HMI yang seakan elit dan tidak ada bedanya dengan pemilihan kepala daerah atau Negara.

Administrator

Administrator

Dolor proin! Placerat a, placerat enim vut duis aliquam, dignissim, magna sagittis duis diam et porttitor mus ultricies velit vut habitasse. Egestas facilisis a aliquet! Dolor. Rhoncus. Ac. Parturient elementum facilisis lorem.


Visitors:

  • 8,261

Sekilas Kami

Bakornas LAPMI PB HMI merupakan salah satu badan khusus di dalam tubuh organisasi HMI yang bersifat semi-otonom sebagai penyalur minat dan bakat anggota dan wahana pengembangan kader di bidang jurnalistik/pers (ART Pasal 44).


[email protected]

0816-766-496



Newsletter


Media Partner

Independensia.id