HMI sebagai Pasar Intelektual Indonesia

Oleh: Syaf Lessy*

Keberadaan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi pengkaderan, sejatinya diilustrasikan sebagai sistem yang permanen, yang mengalami industrialisasi pengetahuan yang begitu kompleks dan dinamis. Dalam perjalanannya, hal tersebut dipandang sebagai suatu profitabilitas pengetahuan dalam memaksimalkan kebutuhan setiap kader HMI, terhadap upaya memerankan perannya dalam menawarkan pengetahuan sebagai suatu konsensus keberadaan pasar yang dilihat sebagai lahan intelektual.

Keberadaan tersebut, pada prinsipnya merupakan cerminan terhadap pola tindak dan pola pikir yang mencoba mentransmisikan keberadaan setiap kader Himpunan Mahasiswa Islam untuk Berkontestasi dan berafiliasi dengan realitas kehidupan sosio-kultural masyarakat Indonesia. Sebagai kader teoritis dan kader praksis, HMI mencoba memberikan kecenderungan terhadap upaya untuk mengontrol dan menyeragamkan ruang diferensiasi sosial dalam mengaksentuasikan perbedaan. Turut ambil bagian dalam menawarkan solusi terhadap permasalahan sosial yang ada.

Keberadaan ruang. Dalam hal ini pasar sebagai sebuah entitas komunitas sosial, pada prinsipnya merupakan ruang abstraksi yang di konsumsi secara produktif oleh setiap kader HMI. Hal ini terlihat dengan adanya distribusi kader HMI dalam setiap jajaran struktural di Indonesia baik di sektor pemerintah maupun sektor swasta.

Baca Juga:  Dukung Ekonomi Kreatif, HMI Kom Ekonomi Adakan Pelatihan Sablon Pakaian

Meminjam pandangan Marx perihal struktur dan pasar sebagai basis ideologi pengetahuan sosial. Tentu secara empirik didasarkan pada analisa konstruksi sosial, memberikan ruang penegasan terhadap otoritas dan gerak setiap kader dalam membicarakan satu sistim yang kompetitif. Gerak dan persaingan terhadap telaah pasar dalam mengindikasikan pengetahuan sosial, tentu merupakan bagian dari proses monopoli dalam menawarkan rasionalisasi progresif.

Menyangkut posisi sentral dalam memaksimalkan tujuan untuk memperluas pasar intelektual, maka HMI sebagai organisasi pengkaderan mendesain satu format proses reorientasi kader mulai dari Basic training, Intermediate training Hingga pada tingkatan Advance Training.

Tak bisa dipungkiri bahwa, kontrol managerial dalam proses pengkaderan pada hakekatnya berkonsentrasi pada upaya mempertahankan lokus dan identitas sebagai organisasi yang besar di Indonesia, sehingga HMI pada perannya mencoba memelihara kebudayaan yang dipandang sebagai basis pengetahuan universal. Kategorisasi kultur pengetahuan sebagai proses perjalanan panjang yang berkaitan dengan sistem dunia baru perihal fakta sosial, maka seyogyanya HMI melibatkan sejumlah asumsi teoritis dalam mengembangkan dan merekonstruksi ruang geraknya dalam dunia sosial yang bertajuk pasar pengetahuan.

Oleh karena itu, reorientasi keberadaan ruang pasar guna untuk menawarkan komoditas basis-basis ideologi. Maka keberadaan HMI di hubungan dengan konfigurasi setiap kader dalam memperkuat relasi sosial dan relasi struktur kapital untuk memenuhi kebutuhan sekaligus menjadikan pasar sebagai suatu realitas pengetahuan, yang coba di expresikan sebagai lahan kontestasi dalam mengejewantahkan relasi Individu dan sosial masyarakat.

Baca Juga:  Bima Arya Dukung Rakernas BAKORNAS LAPMI PB HMI di Kota Bogor

*****

*) Fungsionaris BADKO HMI Maluku – Maluku Utara

Administrator

Administrator

Dolor proin! Placerat a, placerat enim vut duis aliquam, dignissim, magna sagittis duis diam et porttitor mus ultricies velit vut habitasse. Egestas facilisis a aliquet! Dolor. Rhoncus. Ac. Parturient elementum facilisis lorem.


Visitors:

  • 5,262

Sekilas Kami

Bakornas LAPMI PB HMI merupakan salah satu badan khusus di dalam tubuh organisasi HMI yang bersifat semi-otonom sebagai penyalur minat dan bakat anggota dan wahana pengembangan kader di bidang jurnalistik/pers (ART Pasal 44).


[email protected]

0816-766-496



Newsletter


Media Partner

Independensia.id